Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia

- Sabtu, 24 Juli 2021 | 15:24 WIB
Tentara Kerajaan Inggris
Tentara Kerajaan Inggris

Media-media internasional secara luas memberitakan pelayaran satuan tugas gabungan Inggris, Amerika Serikat dan Belanda ke Asia. Tulang punggung Satgas  ini adalah kapal induk terbaru  HMS Queen Elizabeth. Dilengkapi  delapan F-35B yang bisa tinggal landas dan mendarat secara tegak lurus. Tujuh helikopter anti kapal selam Merlin Mk2 dan peringatan dini. Tiga helikopter komando Merlin Mk4. Disertai enam kapal pengawal, serta satu kapal selam. Sebagaimana lazimnya, terdapat juga puluhan marinir bersenjata lengkap.

Dalam Satgas ini juga turut serta satu frigat angkatan laut Belanda serta satu kapal perusak Amerika Serikat. Rencananya Satgas melawat ke 40 negara. Indonesia tak termasuk daftar, India, Singapura, Jepang dan Korea Selatan termasuk yang akan dikunjungi.

Dalam perjalanan pulang ke pangkalannya di Portsmouth, kemungkinan kembali melalui selat Malaka sebab bila lewat Tanjung Harapan, jaraknya semakin jauh. Rute sebelumnya saja sudah  lebih dari 26 .000 mil laut atau lebih dari 46.000 km.  

Sebenarnya kapal-kapal perang Inggris sudah berulangkali melakukan latihan bersama Amerika Serikat di laut China Selatan, tetapi baru kali ini memperoleh perhatian lebih besar. Apalagi disebut dua kapal perang Inggris, HMS Sprey dan HMS Tamar,  akan ditempatkan secara permanen di kawasan Indo-Pasifik pada akhir Agustus tahun depan, dengan dukungan Singapura, Australia dan Jepang.

Diplomasi Angkatan Laut?

Satgas pemukul tersebut tengah melakukan diplomasi angkatan laut yang bersifat damai tetapi juga mampu  mengobarkan pertempuran (gunboat diplomacy). Satgas berperan mendukung kebijaksanaan luar negeri pemerintahnya yang memberi perhatian kepada Asia dan membendung pengaruh China.

Hubungan bilateral Inggris-China tersandung dua faktor. (1) Inggris berulangkali menyatakan keprihatinan terhadap perlakuan pemerintah China terhadap suku minoritas Uyghur di Xinjiang. Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, menuduh China melakukan pelanggaran hak asasi manusia "berat dan mengerikan" terhadap penduduk beretnis Uighur.

(2) Pada Perang Candu (1839-1842 dan 1856-1860), Inggris dan Prancis (yang turut dalam Perang Candu ke dua) berhasil menundukkan China karena mempunyai teknologi militer yang lebih unggul dibandingkan China yang ketika itu dikuasai Dinasti Qing.

Gara-gara kekalahan itu, China harus menyerahkan Hong Kong kepada Inggris selama seratus tahun. Kekalahan dan penyerahan itu dikenang bangsa China sebagai sebuah peristiwa yang memalukan. Kemungkinan rasa malu ini yang mendorong upaya keras mengungguli bangsa Barat.

Dua puluh empat tahun lalu, bangsa China riang gembira ketika Hong Kong diserahkan meskipun dengan perjanjian pulau ini menganut satu negara, dua sistem. Artinya manut kepada negara China tetapi dengan menganut sistem kapitalis/liberal. Hong Kong sistem hukum sendiri, punya perbatasan dan dijaminnya hak-hak kebebasan berserikat, berbicara dan pers.      

Halaman:

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB

Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB

Jual Beli Jabatan Menjerat Walikota Tanjungbalai

Jumat, 10 September 2021 | 16:42 WIB

Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB

Vigilantisme Media Sosial

Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB

Memahami Pemilihan Perdana Menteri Jepang

Senin, 6 September 2021 | 22:28 WIB
X