510 Hari Minus Sentuhan

- Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB
Ilustrasi tangan akan melakukan sentuhan.
Ilustrasi tangan akan melakukan sentuhan.

Suatu pagi, di Stasiun Bandung, dua sahabat saling bertemu. Dua perempuan itu terpana sejenak, dan kemudian saling berpelukan erat seolah melepas rindu. "Kangeeennnn.......," teriak mereka bersamaan.

Tetapi....adegan itu terjadi awal tahun lalu. Sebelum pandemi. Sekarang, boro-boro berpelukan, berjabat tangan saja Corona bakal berjingkrak gembira. Kira-kira sudah 510 hari ( sejak 2 Maret 2020) kita jarang bersentuhan  dengan teman kantor, tetangga, sahabat, anggota komunitas, dan kenalan lain. Bahkan dengan keluarga saja frekuensi sentuhan berkurang drastis.

Dulu, pulang kantor bisa langsung mendekap anak tersayang, cium pipi, ngemut hidung, sampai ngacak-ngacak rambut poninya. Sekarang? Pulang kantor yang pertama dilakukan adalah cuci tangan, cuci kaki, dan buru-buru lari ke kamar mandi. Membersihkan badan sebersih-bersihnya. Itupun, selepas mandi, bukan berarti bisa langsung bercengkerama dengan anak. Yang bisa dilakukan,  "Hai sayang...," sapa pilu kepada sang anak dengan tetap jaga jarak.

Maksud hati ingin bercengkerama dengan anak pujaan  hati, tetapi angka-angka memberatkan langkah untuk mendekat. Angka-angka itu jelas menyebutkan  proporsi yang terpapar Covid 19  di kelompok usia anak ini cukup besar. Dari total kasus Covid-19 di Indonesia, sebanyak 12,6% (250.000) berasal dari kelompok usia anak. Proporsi terbesar berada pada kelompok usia 7-12 tahun (28,02%), diikuti oleh kelompok usia 16-18 tahun (25,23%) dan 13-15 tahun (19,92%).  Ini pun angka bulan lalu. Bisa jadi saat ini lebih besar lagi.

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menunjukkan rawannya penularan virus Covid-19 pada kelompok usia anak. Sebanyak 1 dari 8 kasus Covid-19 adalah anak-anak. Dari jumlah kasus itu, sebanyak 3-5 persen di antaranya meninggal dunia, dan separuhnya adalah balita.

Kita diasingkan  satu sama lain oleh Corona itu. Jaga jarak membuat hidup kita nyaris tanpa sentuhan satu sama lain. Corona menghilangkan kebiasaan kita, misalkan:

- Jabat tangan, ketika memberi selamat kepada teman yang naik posisi;

- Pelukan erat, manakala melepas teman yang dimutasi nun jauh di sana;

- Cipika-cipiki para ibu di arisan bulanan;

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Selamatkan Remaja dari Perilaku Kejahatan Seksual

Senin, 27 September 2021 | 12:46 WIB

Pemerintah China Diuji Kasus Evergrande

Senin, 27 September 2021 | 08:00 WIB

Menyelesaikan Pandemi dengan Keimanan, Rasionalkah?

Jumat, 24 September 2021 | 22:58 WIB

Boring Daring, Saatnya Belajar Luring!

Jumat, 24 September 2021 | 19:56 WIB

Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB

Alasan Wajib Bangga Menjadi Orang Bandung

Kamis, 23 September 2021 | 18:27 WIB

Buruk Pengelolaan Lapas di Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 17:28 WIB

Meragukan Keampuhan Strategi Joe Biden

Kamis, 23 September 2021 | 16:47 WIB

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB
X