Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau

- Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB
Ciharegem, 2. Dungusmaung, 3. Cimaung, 4. Pamoyanan, 5. Pamoyanan, 6. Pamoyanan, 7. Dungusmaung, 8. Pamoyanan. 
Ciharegem, 2. Dungusmaung, 3. Cimaung, 4. Pamoyanan, 5. Pamoyanan, 6. Pamoyanan, 7. Dungusmaung, 8. Pamoyanan. 

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau. Di Bandung Utara, setiap malam sering terdengar geraman harimau yang ada di Gunung Palasari atau Bukit Tunggul.

Karena di kawasan itu sering mendengar geramannyanya, maka kawasan itu dinamai (1) Ciharegem (Cimenyan, Kabupaten Bandung). Di Bandung sebelah timur, terdapat banyak semak belukar yang biasa dijadikan tempat harimau mengintip dan memangsa buruannya, maka tempat itu dinamai (2) Dungusmaung (Cicalengka, Kabupaten Bandung) dan (7) Dungusmaung (Regol, Kota Bandung). Bila warga di suatu kawasan sering melihat maung yang turun dari Gunung Malabar atau Gunung Tilu, maka kawasan itu dinamai (3) Cimaung (Kabupaten Bandung). Dan tempat maung itu berjemur dipagi hari atau sore hari, maka tempat itu dinamai (4) Pamoyanan (Katapang, Kabupaten Bandung), (5) Pamoyanan (Regol Kota Bandung), (6) Pamoyanan (Cimahi Utara, Kota Cimahi), dan (8) Pamoyanan (Cicendo, Kota Bandung). Inilah kesaksian warga setempat akan adanya maung di daerahnya, yang diabadikan dalam nama geografi (Sumber: Peta Topografi Lembar Tjisiroeng (direvisi pada tahun 1904-1905), yang diterbitkan oleh Biro Topografi di Batavia.

Di Kota Bandung terdapat nama Geografi Dungusmaung di sebelah timur Tegallega, dan dua nama geografi Pamoyanan. Dalam Kamus Umum Basa Sunda yang disusun oleh Panitia Kamus Lembaga Basa & Sastra Sunda (1980), dungus artinya ruyuk, rungkun, gundukan tatangkalan laletik nu rada rembet, rumpun, rungkun, kumpulan tumbuhan kecil yang rapat. Harimau yang mengendap-ngendap di dungus menanti mangsa, telah digambarkan dengan sangat istimewa oleh Raden Saleh, dengan judul lukisan, Javanese Landscape, with Tigers listening to the sound of a travelling group.

Sedangkan pamoyanan, menurut RA Danadibrata, dalam Kamus Basa Sunda (2015), tempat maroyanna sato leuweung di pagunungan, tempat berdiangnya satwa hutan di pegunungan. Di sebelah utara Pamoyanan (Cicendo, Kota Bandung) ada nama geografi Garunggang, yang bermakna sunyi, sepi, atau hampa. Jadi sangat memungkinkan kawasan ini menjadi tempat harimau berdiang di hangatnya matahari.

Sedikit ke selatan dari Garunggang terdapat rawa yang menjadi pangguyangan badak, tempat berkubangnya badak. Sampai sekarang, tempat itu dinamai Rancabadak, bahkan menjadi nama rumahsakit, yang kemudian berganti nama menjadi Rumah Sakit dr Hasan Sadikin. Pada abad ke-17 dan awal abad ke-19, di Bandung masih terdapat harimau dan badak.

Semakin mempertegas, bahwa nama-nama geografi yang berhubungan dengan harimau itu terdapat di berbagai kabupaten di Jawa Barat, seperti: Cimacan di Kabupaten Cianjur, di Kabupaten Garut, di Kabupaten Purwakarta, di Kabupaten Sumedang, dan di Kabupaten Subang. Sedangkan Pamoyanan terdapat di Kabupaten Tasikmalaya, di Kabupaten Bogor, di Kabupaten Garut, di Kabupaten Cianjur, di Kabupaten Purwakarta, dan di Kabupaten Subang.

Kesaksian penduduk di Cekungan Bandung akan adanya harimau dan macan diabadikan dalam nama geografi. Sedangkan kesaksian para penjelajah akan adanya harimau di Priangan diabadikan dalam catatan perjalanannya, seperti yang dicatat oleh AE Croockewit (1866) saat mengadakan perjalanan dari Cianjur ke Bandung, seperti yang diterjemahkan oleh tim Ngulik Jabar, “Beberapa sungai dilalui di jalan ini, di antaranya Ci Sokan dan Ci Tarum. Di sisi sungai terakhir muncul apa yang disebut Pegunungan Masigit, yang diyakini sebagai sarang harimau. Tidak ada penduduk setempat yang berani melewati jalan ini pada malam hari. Mandor jalan pos di Cipatat menjelaskan, beberapa kali menembak harimau di dekat gudang pos.”

Petugas jaga di setiap pos di jalan raya itu, baik dari arah barat setelah melewati Ci Tarum, dan yang dari arah Bandung di pos Padalarang, mereka akan melarang dengan tegas siapa saja yang akan kemalaman di lintasan jalan itu sebelum sampai di pos berikutnya. Para penjelajah dari arah barat akan menginap di Rajamandala, dan yang dari arah timur akan menginap di sekitar pos (Ci)Padalarang.

Adanya nama-nama geografi di Cekungan Bandung yang berhubungan dengan harimau, dan catatan perjalanan para penjelajah, ternyata itu bukan isapan jempol. Data kolonial menunjukkan, bahwa jumlah penduduk yang mati ditekuk maung, diterkam harimau di Priangan, menduduki jumlah tertinggi se Pulau Jawa. Antara tahun 1850 sampai tahun 1904, yang tercatat dalam administrasi kolonial terdapat 380 orang yang meninggal diterkam harimau.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Fakta di Balik Mimpi dalam Tidur Kita Selama Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 19:06 WIB

Semua Guru adalah Guru Bahasa

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:08 WIB

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
X