Jangan Berhenti pada Kata Maaf

- Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan ketika menyampaikan konferensi pers terkait evaluasi PPKM Jawa-Bali.
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan ketika menyampaikan konferensi pers terkait evaluasi PPKM Jawa-Bali.

Setelah sekian lama, akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Covid-19.

Permintaan maaf itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers yang digelar pada Sabtu, 17 Juli 2021. Dalam pernyataannya, Luhut mengakui bahwa penerapan PPKM Jawa-Bali masih belum optimal.

“Sebagai Koordinator PPKM Jawa dan Bali dari lubuk hati yang paling dalam saya ingin minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia jika dalam PPKM Jawa dan Bali ini belum optimal,” ujar Luhut seperti dari Antara.

Meski terlambat, permintaan maaf yang disampaikan oleh Luhut harus tetap diapresiasi. Tak banyak pejabat di negeri ini yang sudi meluangkan waktu untuk menyampaikan permohonan maaf kepada rakyat. Lidah mereka lebih terbiasa mengucap kata “janji” daripada “maaf”.

Sebagai rakyat biasa, kita sudah seharusnya menerima permintaan maaf yang dilontarkan Luhut. Kita harus memaafkannya dengan hati yang ikhlas. Lagi pula, selama pandemi berlangsung kita sudah terbiasa diminta untuk ikhlas menerima keadaan negara ini. Gerakan warga bantu warga yang akhir-akhir ini bermunculan menjadi tanda bahwa kita semua sudah ikhlas melihat ketidakberdayaan negara dalam melindungi rakyatnya.

Sekali lagi, terima kasih kepada Menko Marves yang sudah bersedia mengucap kata maaf. Namun, ada satu hal yang harus diingat baik-baik. Kata maaf bukanlah akhir dari segalanya. Maaf adalah awal untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Meminta maaf berarti menyadari ada kesalahan yang telah diperbuat. Jika kesalahan itu sudah disadari, maka langkah selanjutnya ialah memperbaikinya. Setelah diperbaiki, jangan pernah ulangi kesalahan yang sama.

Bila lupa dengan kesalahan yang pernah dilakukan, dengan senang hati saya akan mengingatkannya. Saya ingat betul, saat seluruh dunia tengah waspada terhadap penyebaran Covid-19, para pemangku kebijakan di negara ini justru santai dan meremehkan. Ketika epidemiolog dari dalam dan luar negeri sudah mengingatkan, para pemangku kepentingan malah sombong dan menantang. Ketika negara lain menutup akses masuk, di sini malah dibuka lebar-lebar.

Kesalahan demi kesalahan yang sudah dilakukan sudah semestinya dijadikan pelajaran. Apalagi saat ini Covid-19 sudah bermutasi menjadi berbagai varian. Mulai saat ini, sebelum membuat kebijakan pemerintah sebaiknya mendengar pendapat epidemiolog dan pakar kesehatan. Mengabaikan sains dalam penanganan pandemi sama saja melakukan misi bunuh diri.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB

Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB

Jual Beli Jabatan Menjerat Walikota Tanjungbalai

Jumat, 10 September 2021 | 16:42 WIB

Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB

Vigilantisme Media Sosial

Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB

Memahami Pemilihan Perdana Menteri Jepang

Senin, 6 September 2021 | 22:28 WIB
X