Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?

- Rabu, 21 Juli 2021 | 20:00 WIB
Dampak politik luar negeri bebas aktif adalah menciptakan ketergantungan (dependent) yang makin dalam terhadap negara-negara yang sedang bersaing.
Dampak politik luar negeri bebas aktif adalah menciptakan ketergantungan (dependent) yang makin dalam terhadap negara-negara yang sedang bersaing.

Masyarakat dunia menghadapi dua masalah yang sangat menganggu.

(1) Wabah Covid-19, yang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), per 20 Juli 2021 sebanyak 190.671.330 orang terkonfirmasi terpapar Covid-19. 4.098.758 diantaranya meninggal dunia.

WHO merinci, sebanyak 74.931.056 yang terpapar berdomisili di Amerika Serikat, Kanada dan Amerika Selatan. 58.219.035 di Eropa, 36.966.334 di Asia Tenggara, 11.890.644 di Timur Tengah, 4.636.239 di Afrika dan 4.027.254 di Pasifik Barat.     

Bila ditinjau per negara, Amerika Serikat terbanyak dengan 33.741.532 orang terpapar, India dengan 31.174.332, Brazil 19.376.574, Federasi Rusia 6.006.536, Prancis sebanyak 5.753.579, Turki 5.537.386. Inggis 5.473.481,  Argentina 4.756.378, 850, Kolombia 4.639.466, Italia 4.289.528, Spanyol 4.161 dan Jerman 3.746.420 orang.

WHO mengutip data pemerintah Indonesia, jumlah yang terpapar per 18 Juli 2021 berjumlah 2.877.476 dan 2.261.658 telah sembuh.Wafat 73.582 orang.

Bila sekalian angka dibandingkan, tanpa mengenyampingkan aspek kemanusiaan, sangat berlebihan bila dikatakan Indonesia menjadi pusat ledakan baru wabah setelah India. Sebagaimana yang diutarakan CNN dan New York Times.

Masuk akal bila Kemenkes membantah. WHO pun  dalam publikasinya tidak pernah menyebut Indonesia sebagai episentrum baru.

WHO memperkirakan ledakan ketiga wabah dunia akan berlangsung pada Oktober-November. Hal ini disebabkan terjadi mutasi virus. Lambda atau C.37 yang ditemukan di Peru.Varian Raja B1351 yang dijumpai Afrika Selatan. Varian Delta di India. Juga ada varian Beta, Alfa dan Gamma. Masing-masing varian dengan cepat menyebar karena manusia terpapar melakukan perjalanan ke luar negeri. Tambahan lagi virus yang bermutasi itu, setidaknya setiap tiga bulan, kebal vaksin-vaksin tertentu.    

Direktur WHO untuk Eropa Hans Kluge beberapa waktu lalu memperkirakan wabah baru akan berakhir pada akhir 2022. Virus akan tetap ada tetapi tidak lagi diperlukan pembatasan mobilitas penduduk. Mutasi virus itu normal.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB

Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB

Jual Beli Jabatan Menjerat Walikota Tanjungbalai

Jumat, 10 September 2021 | 16:42 WIB

Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB

Vigilantisme Media Sosial

Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB

Memahami Pemilihan Perdana Menteri Jepang

Senin, 6 September 2021 | 22:28 WIB
X