Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi

- Selasa, 20 Juli 2021 | 22:30 WIB
Aktivitas warga saat hari raya Iduladha di Kota Bandung, Selasa, 20 Juli 2021. Sejumlah titik di Kota Bandung yang biasa dipadati oleh aktivitas masyarakat terpantau lengang saat hari raya Iduladha 1442 Hijriah yang bertepatan dengan Pemberlakuan Pembatasan Masyarakat (PPKM) Darurat di masa pandemi Covid-19.
Aktivitas warga saat hari raya Iduladha di Kota Bandung, Selasa, 20 Juli 2021. Sejumlah titik di Kota Bandung yang biasa dipadati oleh aktivitas masyarakat terpantau lengang saat hari raya Iduladha 1442 Hijriah yang bertepatan dengan Pemberlakuan Pembatasan Masyarakat (PPKM) Darurat di masa pandemi Covid-19.

Kata-kata “Memanusiakan Manusia” nampaknya sangat berkaitan erat dengan kondisi pandemic yang saat ini kita alami.

Makna “Memanusiakan Manusia” memang begitu indah. Konteks “Memanusiakan Manusia” berpegang pada seluruh aspek kehidupan. Nilai keadilan, nilai kesetaraan, hak pelayanan, kesejahteraan,  berpendapat, semua manusia berhak memiliki semua hak tersebut. Bahkan, orang gila sekalipun.

Miris, adalah kata yang sesuai untuk menggambarkan keaadaan Indonesia di tengah pandemi ini.

Seringkali kita lihat di media sosial, betapa nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini ada, kian berkurang.

Seperti diberitakan di Ayotasik.com, cerita seorang tukang bubur yang didenda Rp 5 juta karena melanggar aturan PPKM. Sementara di beberapa kota lainnya, McDonald's yang hanya didenda sebesar Rp 500 ribu.

Belum lagi, cerita penimbun masker, penimbun oksigen, hingga cerita seorang kuli bangunan yang dipecat akibat tidak memakai masker.

Dari kisah-kisah tersebut, sepertinya kita harus renungi kembali. Bahwa menjadi seorang manusia seutuhnya bukan hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Bukan pula more human than human. Cukup dengan “Memanusiakan Manusia”, saling menghargai, menghormati, tidak mengadili, dan berakal budi.

Baiknya kita lawan penjahat kemanusiaan di tengah pandemi ini dengan terus menebarkan nilai-nilai positif.

Pandemi memang kejam, tetapi kita yakin, masih banyak orang-orang baik di dunia ini.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Nama Bangunan yang Menjadi Nama Desa dan Kelurahan

Rabu, 5 Oktober 2022 | 16:41 WIB

Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:40 WIB

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB
X