Jejak-Jejak Gajah Sunda

- Selasa, 20 Juli 2021 | 18:10 WIB
Peta Pulau Jawa 1718 karya Henri Chatelain.
Peta Pulau Jawa 1718 karya Henri Chatelain.

Dulu waktu kecil, penulis sering menonton wayang golek baik itu di televisi yaitu TVRI Bandung maupun menonton melalui kaset video warna merah betamax, bahkan pernah suatu kali pada waktu kelas 4 SD penulis menonton wayang live di RRI Bandung bersama ayah penulis dengan dalangnya waktu itu adalah Ki Dede Amung Sutarya. Penulis lupa-lupa ingat lakon yang dibawakannya apa saat itu, mungkin kalau tidak salah Gugurna Kumbakarna.

Satu yang penulis ingat saat itu ada ungkapan dari salah satu tokoh wayang yaitu maung ngamuk gajah meta. Saat ini, apabila berkaca kepada ungkapan tersebut, mungkin masyarakat Sunda zaman dahulu kala sudah akrab dengan gajah. Terbukti dengan ungkapan maung ngamuk gajah meta tersebut. Selain itu, di dalam pelajaran bahasa Sunda waktu di SD, guru mengajarkan nama-nama anak binatang di dalam bahasa Sunda, salah satunya anak gajah yang disebut menel.

Gajah yang dimaksud penulis di sini bukanlah gajah prasejarah semacam stegodon, melainkan gajah modern yang spesiesnya disebut sebagai elephas maximus atau spesies gajah Asia. Hal itu penulis tegaskan karena gajah prasejarah sudah jelas ada jejaknya di Museum Geologi Bandung, sementara jejak elephas maximus di Jawa Barat jarang dibicarakan.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka di sini penulis memiliki dua pertanyaan yang terus berkecamuk di dalam pikiran. Yang pertama adalah, jika di Jawa Barat dulu banyak berkeliaran gajah-gajah di hutan-hutan, maka apa sajakah bukti-bukti keberadaan gajah tersebut? Yang ke-dua, kapankah gajah itu punah?

Untuk menjawab pertanyaan pertama penulis kemudian mengumpulkan data-data terkait segala sesuatu yang berhubungan dengan bukti keberadaan gajah. Kemudian penulis menemukan empat buah bukti keberadaan gajah yang pernah berkeliaran di Jawa Barat. Bukti pertama adalah bukti prasasti yaitu salah satu dari tujuh prasasti Kerajaan Tarumanagara, tepatnya yaitu Prasasti Tapak Gajah. Prasasti tersebut pertama kali diteliti oleh Henrik Kern pada tahun 1884. Kemudian ia gunakan lagi Prasasti Tapak Gajah (Kern menyebutnya Prasasti Kebon Kopi) tersebut sebagai prasasti pembanding untuk meneliti Prasasti Tugu pada tahun 1885 di dalam artikel yang berjudul Het Sanskrit-opschrift te Tugu (distr. Bekasih, Batavia); ±450 AD. Pada Prasasti Tapak Gajah tersebut terdapat satu baris rangkaian aksara Pallawa (early pallava script) yang pada bagian tengahnya sudah aus. Kern membacanya seperti ini:

Jayaviçālasya Tārumendrasya mahipateh _ _ _ _ tasya divyam padadvayam.

Kern menerjemahkan ke dalam bahasa Belanda sebagai berikut:

Van den zeeghaftigen heerscher van Taruma, den koning - - van hem dit heerlijk voetspoorpaar.

Kemudian penulis terjemahkan sebagai berikut:

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB

Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB

Jual Beli Jabatan Menjerat Walikota Tanjungbalai

Jumat, 10 September 2021 | 16:42 WIB

Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB

Vigilantisme Media Sosial

Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB

Memahami Pemilihan Perdana Menteri Jepang

Senin, 6 September 2021 | 22:28 WIB
X