Pentingnya Membangun Kesadaran Kolektif Kala Pandemi

- Jumat, 16 Juli 2021 | 23:00 WIB
Keluarga pasien menangis usai memakamkan jenazah dengan protokol Covid-19 di TPU Cikadut, Kota Bandung, Selasa (29 Juni 2021).
Keluarga pasien menangis usai memakamkan jenazah dengan protokol Covid-19 di TPU Cikadut, Kota Bandung, Selasa (29 Juni 2021).

Tingginya kasus penyebaran virus corona di Indoensia, membuat kebijakan karantina disejumlah wilayah. Mulanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sudah dilalui pada periode awal pandemi.

Lalu sekarang, diiringi dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kebijakan tersebut dibuat guna menekann angka kasus positif yang sekarang naik secara drastis.

Di sisi lain, dampak kebijakan PPKM hari ini menjadi dilema antara masyarakat dan pemerintah. Dengan adanya kebijakan tersebut, tentunnya mengakibatkan penurunan produktivitas masyarakat, terutama para pekerja yang menggantungkan pendapatanya di jalanan dan harus beraktivitas keluar.

Dampak ini dengan tingkat keparahan yang berbeda menghantam berbagai lapisan masyarakat. Kelompok masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan atau mendekati garis kemiskinan adalah pihak yang mengalami dampak terburuk.

Dalam kondisi serba sulit ini, negara dianggap lambat mengatasi pandemi beserta masalah-masalah ekonomi sosial yang menyertainya. Beberapa negara bahkan dianggap meremehkan bahaya penyebaran dan lebih memilih mengamankan sektor ekonomi. Pilihan ini tentu sangat dilematis dan tidak mudah diambil.

Ada salah satu cara atau pembiasaan yang setidaknya dapat membantu meminimalisir dampak pandemi yang serba sulit ini, ialah membangun kesadaran Kolektif.

Gagasan kesadaran kolektif berasal dari sosiolog Prancis Emile Durkheim, yang menjelaskan bagaimana seorang individu bisa melihat bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat luas yang memungkinkan masyarakat bekerja sama dalam banyak hal.

Hari ini kita banyak menyaksikan sebuah gerakan yang muncul dari kalangan masyarakat sipil untuk mendorong terjadinya perubahan perilaku masyarakat secara meluas untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Tindakan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan sebagainya, adalah tindakan yang harus dilakukan setiap individu dan didorong oleh  kesadaran kolektif untuk memastikan setiap individu melakukan hal serupa.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB

Membangun Budaya Inovasi ASN di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 14:20 WIB

Kurir Shopee Diduga Maling Helm di Sarijadi

Kamis, 24 November 2022 | 11:34 WIB

Menyeruput (Kisah di Balik) Kesegaran Es Oyen

Rabu, 23 November 2022 | 14:50 WIB

Kehidupan LGBT dalam Perspektif Sosiologi

Rabu, 23 November 2022 | 10:24 WIB

Gempa Cianjur dan Piala Dunia

Selasa, 22 November 2022 | 12:22 WIB

Miskonsepsi IPA dan IPS dalam Dunia Pendidikan

Selasa, 22 November 2022 | 10:50 WIB

Lika-Liku Pejuang Rupiah pada Masa Kini

Senin, 21 November 2022 | 18:26 WIB

Toponimi Mengawetkan Kata Selama Ribuan Tahun

Jumat, 18 November 2022 | 13:56 WIB
X