Motivasi Orang Tua Dibutuhkan Anak Saat Pembelajaran Daring

- Kamis, 15 Juli 2021 | 17:40 WIB
Seorang siswa yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yoga (12), saat menyaksikan arahan tentang tahun ajaran baru dari Wali Kota Bandung Oded M Danial pada siaran langsung daring di kediamannya, Jalan Sekeloa, Kota Bandung, Senin (13/7/2020). Memasuki hari pertama sekolah pada tahun ajaran baru 2020/2021 yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19, mengakibatkan siswa di beberapa sekolah di Kota Bandung menerapkan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia guna meminimalisasi penyebaran pandemi Covid-19 pada lingkungan pendidikan.
Seorang siswa yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yoga (12), saat menyaksikan arahan tentang tahun ajaran baru dari Wali Kota Bandung Oded M Danial pada siaran langsung daring di kediamannya, Jalan Sekeloa, Kota Bandung, Senin (13/7/2020). Memasuki hari pertama sekolah pada tahun ajaran baru 2020/2021 yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19, mengakibatkan siswa di beberapa sekolah di Kota Bandung menerapkan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia guna meminimalisasi penyebaran pandemi Covid-19 pada lingkungan pendidikan.

Jika melihat kondisi terkini, sebagaimana ada rencana perpanjangan PPKM darurat sampai waktu 6 minggu menjadikan sebuah alasan kuat di mana pembelajaran di sekolah yang akan dimulai bulan Juli sepertinya akan pupus sudah.

Artinya, pembelajaran daring akan dilanjutkan. Tentu saja hal ini bukan kabar baik bagi anak-anak yang sudah jenuh dengan sistem belajar seperti ini. Namun begitu, hal ini sudah menjadi konsekuensi logis demi menekan semakin banyaknya orang-orang yang terpapar virus corona selama ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pemerintah berencana untuk memperpanjang PPKM Darurat hingga 6 minggu lamanya. Opsi itu menjadi salah satu skenario yang disiapkan oleh pemerintah untuk menekan penyebaran virus corona atau Covid-19 yang akhir-akhir terus meningkat lewat varian delta-nya. PPKM Darurat selama 4-6 minggu dijalankan untuk menahan penyebaran kasus. Mobilitas masyarakat diharapkan menurun signifikan," sebut bahan paparan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat Rapat Kerja Bersama dengan Badan Anggaran DPR RI dikutip dari Suara.com.

Tentu saja jika rencana ini benar adanya maka kembali menjadi tantangan bagi para orangtua. Sejatinya kegembiraan yang membuncah karena Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim telah mencanangkan bulan Juli sebagai awal pembelajaran kembali di sekolah semakin kuat untuk tidak digelar. Jelas tak ada pilihan lain kecuali anak-anak mesti belajar lagi di rumah. Hal ini sebenarnya diakui atau tidak telah membuat para orangtua menerima kenyataan pahit, ia harus bekerja ekstra agar anak-anaknya tidak ketinggalan mata pelajaran.

Bukti sahih yang tidak terbantahkan adalah berita AyoBandung.com edisi 11 Juli 2021Sebanyak 164 siswa SD dan SMP di Kota Cimahi gagal naik kelas pada tahun ajaran 2020/2021. Selain itu ada juga 2 siswa yang tercatat tidak lulus sekolah.”Hal ini membuktikan kepada kita semua, jika fungsi pengawasan serta dukungan dari orangtua dalam pembelajaran daring tidak optimal, maka dipastikan hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan akan tidak sesuai harapan. Banyak anak-anak yang gagal paham dan sulit memahami pelajaran daring yang dilakukan. Banyaknya anak SD yang tidak naik kelas menandakan bahwa para orangtua harus mampu peduli dengan pembelajaran daring yang dilakukan oleh anak-anaknya.

Persoalannya, pembelajaran daring yang dilakukan di rumah memang menjemukan dan menjenuhkan. Tentu saja banyak anak-anak kita yang belajar di ruang sunyi tanpa ada teman-teman yang bisa bersama saat mengikuti pelajaran di sekolah. Di lain pihak, para orangtua yang tidak mumpuni terhadap mata pelajaran yang disampaikan guru malah membuat komunikasi dengan anak saat pembelajaran daring menjadi buntu. Yang ada antara anak dan orangtua malah tak berdaya dengan keadaan hingga anak-anak mereka menjadi malas untuk belajar.

Memang hal ini bukan situasi yang menyenangkan para orangtua karena ada semacam “keterpaksaan” karena kondisi yang terjadi. Namun demikian tak ada yang patut dipersalahkan dalam hal ini karena semua mengutamakan keselamatan dibanding banyak anak didik yang harus terpapar virus corona. Benar satu tahun lebih para orangtua harus belajar untuk bisa memahami cara belajar anak. Tentu saja ini bukan tugas mudah. Namun yang jadi pertanyaan, tanggung jawab siapa ketika anak belajar di rumah? Tentu saja menjadi tanggung jawab orangtua.

Guru hanya mengarahkan saja, karena kita tahu guru mata pelajaran tertentu bisa jadi harus memegang lebih dari satu kelas. Jadi orangtua yang tidak peduli terhadap anak-anaknya saat pembelajaran daring maka bisa menyebabkan anak-anak mereka kesulitan untuk mengerjakan tugas yang secara langsung menghambat terhadap proses pemberian nilai. Jika nilai-nilai yang didapat tidak sempurna terlebih tidak mampu melakukan remedial maka dipastikan apa yang menimpa anak-anak sekolah di Kota Cimahi akan menimpa anak-anak kita juga. Jelas hal ini harus menjadi perhatian para orangtua agar anak-anaknya tidak tinggal kelas apalagi mesti drop out, itu sangat disayangkan.

Kita mengetahui, para orangtua anak didik yang ada hadir dari berbagai jenjang tentu saja tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sama. Namun yang mesti menjadi keseragaman kita bersama adalah bahwa untuk saat ini justeru peran orangtua yang akan menentukan maju mundur pendidikan anak itu sendiri. Kita memang masih belum mengetahui sampai kapan pandemik ini akan berakhir? Namun sebelum hal itu menjadi kenyataan, seyogyanya para orangtua mesti tanggap jika pembelajaran daring itu adalah sebuah keniscayaan sehingga mereka perlu memberikan motivasi agar anak-anak tetap mampu belajar dan mendapatkan nilai yang baik.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Fakta di Balik Mimpi dalam Tidur Kita Selama Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 19:06 WIB

Semua Guru adalah Guru Bahasa

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:08 WIB

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
X