Dua Kalimat Bahasa Sunda Pertama yang Dicetak dalam Aksara Latin

- Senin, 12 Juli 2021 | 17:15 WIB
Andries de Wilde.
Andries de Wilde.

Eksistensi bahasa Sunda selalu menarik untuk diperbincangkan dari berbagai hal. Buktinya peneliti Jepang Mikihiro Moriyama sampai tega membuat disertasi terkait budaya buku cetak berbahasa Sunda yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Sundanese Print Culture and Modernity in Nineteenth-century West Java.

Pada halaman 15 di buku tersebut dinyatakan bahwa secara formal bahasa Sunda mulai dikenal pada tahun 1841 seiring diterbitkannya kamus trilingual Belanda-Sunda-Melayu yang disusun oleh Andries de Wilde.

Berawal dari informasi Moriyama tersebut maka penulis memiliki banyak pertanyaan terkait hal itu. Apakah sebelum kamus tersebut terbit kalimat-kalimat bahasa Sunda telah mulai ditulis dan dicetak ke dalam aksara latin? Jika sudah, maka di dalam buku apa? Berapa kalimat yang telah ditulis? Bagaimanakah isi kalimatnya? Siapa yang menulisnya? Untuk menginformasikan apa? 

Berdasarkan informasi awal yang didapat dari buku Moriyama tersebut, maka untuk menjawabnya kemudian penulis membuat dugaan. Jika Andries de Wilde pernah menulis buku, mungkin bahasa Sunda telah ada di dalam buku itu mengingat dialah penyusun kamus pertama bahasa Sunda

Ternyata benar adanya, Andries de Wilde sebelum itu pernah menerbitkan buku berjudul De Preanger-Regentschappen op Java Gelegen terbitan tahun 1830. Selanjutnya, penulis pun berhasil mendapatkan file elektroniknya kemudian menelusuri halaman demi halamannya. Dan memang, di dalamnya kosa kata dan istilah-istilah berbahasa Sunda bertebaran. Hanya saja yang ingin penulis dapatkan yaitu kata-kata yang terangkai dalam sebuah kalimat. Lalu pada akhirnya tibalah pada halaman 147 baris ke-13. Di sana sebuah kalimat berbahasa Sunda muncul seperti ini,‘Ukker ngoppie kawoela noehn’. Mungkin itulah kalimat berbahasa Sunda pertama yang dicetak dengan aksara latin.

De Wilde menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda seperti ini ‘wij drinken koffij Mijnheer’ yang artinya kurang lebih ‘kami sedang minum kopi Tuan’. Ejaan ‘koffij’ di sana adalah ejaan khas bahasa Belanda abad ke-19 yang saat ini ejaannya adalah ‘koffie’. Kemudian kalimat bahasa Sunda tersebut jika disajikan dengan ejaan saat ini adalah ‘Eukeur ngopi kaula nun’. Kalimat itu muncul pada saat De Wilde menceritakan bagaimana masyarakat di distrik-distrik di sepanjang Pantai Selatan menyeduh kopi.

Hal itu ia dapatkan saat melakukan perjalanan menuju pulau Nusa Kambangan. Dari Patroman ia menyusuri sungai Citanduy dengan perahu tenda. Saat keluar dari tenda pada pagi hari kedua, sebelum fajar, dia melihat para pendayung itu mengeluarkan bungkusan kecil dari korset atau ikat pinggangnya. Setelah itu mereka mengambil air dari sungai dengan cangkir tempurung kelapa, dan kemudian mereka minum beberapa teguk. Saat fajar menyingsing, De Wilde bertanya kepada mereka dengan bahasa Sunda, apa yang tengah mereka lakukan. Jawaban yang dia terima adalah kalimat seperti yang telah penulis jelaskan di atas. "Ukker ngoppie kawoela noehn.

Kemudian ternyata tidak hanya satu kalimat yang muncul, melainkan dua kalimat. Kalimat yang ke-dua terdapat pada halaman 166 baris ke-14 yaitu,“Panan powee ukker kijoeh”. De Wilde menerjemahkan kalimat itu ke dalam bahasa Belanda de zon stond zoo yang kurang lebih artinya sepadan dengan “Kan matahari sedang seperti ini” yang jika ditulis dengan ejaan bahasa Sunda sekarang adalah “Panan poe eukeur kieu”.

Di sana De Wilde menuliskannya untuk menjelaskan bahwa masyarakat Priangan saat itu sangat mengenal waktu walaupun tanpa bantuan jam. De Wilde pun menyebutkan bahwa masyarakat Priangan sangat hafal pada posisi matahari sehingga ketika menunjuk ke langit dengan jari tangan mereka pasti dapat menunjukkan waktu, baik saat mereka ingin beristirahat atau hanya sekedar ingin tahu waktu saja.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Jangan Ngaku Bestie Kalau Masih Suka Nyinyir

Rabu, 26 Januari 2022 | 15:01 WIB

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB
X