Kota Vertikal, Kota Masa Depan

- Sabtu, 10 Juli 2021 | 21:26 WIB
Kota Vertikal
Kota Vertikal

AYOBANDUNG.COM--Kota vertikal agaknya bakal menjadi salah satu solusi untuk menyiasati langkanya lahan di kawasan perkotaan di masa depan.

Kota-kota kita terus tumbuh dan kian sesak. Kebutuhan lahan untuk permukiman, pendidikan, industri maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya terus meningkat. Dapat saja suatu saat kota kehabisan lahan untuk mengakomodir sejumlah kepentingan penduduknya. 

Memperluas kota bisa saja dilakukan sepanjang masih ada lahan yang memungkinkan untuk perluasan kota. Tapi, bagaimana jika lahan kota benar-benar terbatas. Saat ini, dengan mudah bisa kita saksikan bagaimana lahan-lahan di perkotaan kita yang dulunya berupa ruang-ruang terbuka hijau telah dikonversi menjadi lahan-lahan terbangun.  Jika hal seperti ini terus dibiarkan, maka akan muncul ketidakseimbangan ekosistem yang akan membahayakan kelangsungan kehidupan kawasan perkotaan.

Apa yang harus dilakukan?

Di masa depan, membangun kota secara horizontal mungkin bakal semakin sulit dilakukan. Oleh sebab itu, kota vertikal agaknya perlu menjadi pilihan.

Secara sederhana, kota vertikal merupakan menara-menara pencakar langit  (skyscapper) dengan puluhan lantai -- atau bahkan ratusan -- yang dirancang untuk mengakomodir berbagai kebutuhan warga kota, mulai dari tempat tinggal, pendidikan, perkantoran, layanan kesehatan, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, ruang hijau hingga ke lahan-lahan pertanian.

Kota vertikal diyakini sebagai salah satu kunci dalam mengatasi problem overpopulasi kawasan perkotaan di masa depan. Dalam karyanya bertajuk Vertical Cities: Can Mega-Skyscrapers Solve Urban Population Overload?, Kayla Matthews (2018) menulis antara lain bahwa keberadaan kota vertikal bukan hanya mampu menyelamatkan lahan-lahan terbuka di sekitar kita, membuat lingkungan lebih bersih dan menjaga ketahanan pangan, tetapi juga membantu warga kota lebih menghemat waktu dan energi lantaran mengurangi jarak tempuh mereka saat harus pergi ke kantor, sekolah, rumah sakit, berbelanja maupun keperluan-keperluan lainnya. Warga tak perlu berkendara, karena fasilitas-fasilitas tersebut dapat ditempuh dengan jalan kaki. 

Bagaimana dengan kebutuhan ruang hijau serta pasokan energi? Dengan perancangan yang apik, ruang-ruang hijau berupa green roof dan juga lahan pertanian dapat disediakan pula dalam kota vertikal. Artinya, warga tetap mampu mengakses ruang-ruang terbuka hijau dan mendapat pasokan bahan pangan dari lokasi yang sangat dekat dengan tempat tinggal mereka.

Adapun soal pasokan energi, kota vertikal dapat memanfaatkan energi ramah lingkungan berupa listrik tenaga surya maupun tenaga angin. Menara pencakar langit memiliki banyak permukaan di mana kita dapat memasang panel surya untuk menghasilkan listrik. Tambahan lagi, dengan posisinya yang tinggi, potensi untuk memasang turbin angin untuk menghasilkan energi listrik juga terbuka lebar.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB
X