Budaya Baru Tiga Singa

- Jumat, 9 Juli 2021 | 12:17 WIB
Ilustrasi logo Euro 2020.
Ilustrasi logo Euro 2020.

Sebelumnya, setelah kalah dari Jerman Barat lewat adu penalti pada semifinal Piala Dunia 1990, TTS bertanding kembali dengan Jerman --- yang telah melakukan unifikasi --- pada semifinal Piala Eropa 1996. Stadion Wembley, London, 26 Juni 1996, yang penuh itu bergemuruh begitu Alan Shearer mencetak gol pada menit ketiga. Namun, tiga belas menit kemudian Stefan Kuntz menyamakan skor. Skor 1-1 ini bertahan hingga akhir babak kedua perpanjangan waktu. Dalam adu penalti, enam penembak Jerman sukses, sementara penembak keenam TTS gagal. Dan itu adalah pemain bernomor punggung 6: Southgate.

Ketika menerima permintaan untuk melatih TTS, tentu Southgate ingat itu. Tentu pula ia tahu TTS mungkin akan kembali bertanding melawan Jerman, Kroasia, dan tim-tim lain yang pernah mengalahkannya. Dan pertandingan dengan tim-tim itu bukanlah untuk mengulang kekalahan, tapi untuk “memulangkan” sepak bola, untuk menulis sejarah. Untuk itu, 55 tahun yang menyakitkan harus diubah dari sarang hantu menjadi buku pemandu.

Mewujudkannya tentulah tak mudah. Namun Southgate tidak sendirian. Staf pelatih yang bersamanya sehaluan dengannya. Begitu pula para pemain yang dipilihnya. Marcus Rasford misalnya. Bintang Manchester United (MU) yang masa lalunya kelam karena kemiskinan ini tegas berkata, “Untuk apa takut terhadap masa lalu? Inggris harus mencatatkan namanya dalam sejarah.”

Harry Maguire lebih terang lagi. Bek tengah tangguh yang pula kapten MU ini berkata bahwa kehidupan keseharian dan permainan di lapangan saling mempengaruhi. Maka menjalani hidup keseharian dengan tanggung-jawab, jujur, empati, dan disiplin merupakan jalan menuju permainan di lapangan yang tangguh, tenang, nyaman, kompak, dan kreatif. Maguire sampai memeluk pemahaman demikian berkat jernih, gigih, dan tabah menahankan perih mempelajari masa-masa kelam hidup kesehariannya dan permainannya di lapangan, juga bentangan kelam pengalaman TTS.

Demikianlah etos TTS dalam kepelatihan Southgate. Kecuali itu, seperti ditulis Shaista Aziz, seorang juru kampanye anti-rasisme dan anggota Jaringan Sepak Bola Pengungsi Suaka FA, TTS Southgate adalah tim inklusif, yang karenanya “memenangkan begitu banyak hati. Dengan bertekuk lutut (sebelum pertandingan --- HG), dengan berdiri melawan homofobi dan fanatisme, tim ini bermain untuk kita semua.”

Namun, apa TTS akan memenangi final melawan Italia? Apa sepak bola akan pulang? Apa TTS akan menulis sejarah? Saya bukan juru ramal. Saya hanya berani berkata bahwa TTS telah mengalahkan Kroasia yang mengalahkannya dalam semifinal Piala Dunia 2018, telah mengalahkan Jerman yang mengalahkannya dalam semifinal Piala Eropa 1996, serta di semi final telah mengalahkan Denmark yang bermain solid, kreatif, dan dengan ingatan akan Christian Erikson, bintang mereka yang jatuh karena serangan jantung ketika mereka melawan Finlandia. Semua itu, hemat saya, buah dari budaya baru TTS yang memungkinkan sepak bola terasa sebagai permainan humanis.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB
X