Budaya Baru Tiga Singa

- Jumat, 9 Juli 2021 | 12:17 WIB
Ilustrasi logo Euro 2020.
Ilustrasi logo Euro 2020.

AYOBANDUNG.COM--Apakah sepak bola akan pulang? Belum ada jawaban pasti sampai peluit akhir pertandingan final Piala Eropa 2020 pada Minggu, di Stadion Wembley, London. 

Namun para pecandu sepak bola sudah melihat dan mendengar orang-orang Inggris menegas-negaskan bahwa sepak bola adalah olahraga yang berasal dari negara mereka.

Meski demikian, Tim Tiga Singa (TTS) --- yang telah mengikuti kejuaraan internasional sejak 1872 --- baru sekali meraih prestasi, ketika menjadi juara Piala Dunia 1966. Tentulah prestasi ini sejarah yang sungguh membanggakan. Namun sejarah itu belum pula berulang.

Lazimlah, jika sejak sehabis meraih juara Piala Dunia itu setiap TTS mengikuti kejuaran baik Piala Dunia maupun Piala Eropa, orang-orang Inggris selalu gemuruh mendengung-dengungkan bahwa itu adalah usaha membuat sepak bola “coming home”. Dan kepulangan itu adalah sejarah baru.

Tidak ada satu pun TTS yang berbalik memunggunginya. Setiap TTS terjun ke setiap kejuaraan internasional bahkan dengan penuh gairah memanggul mimpi bangsa Inggris yang tahun ke tahun semakin menggunung itu. Ingatlah, misalnya, sehabis TTS mengalahkan Ukraina 4-0 di Roma, pelatihnya Garet Soutghate mengatakan, 

“Perjalanan kami masih panjang dan kami belum puas. Malam ini adalah malam yang amat menyenangkan bagi semua orang, tapi aku harus berkata bahwa aku sudah memikirkan tantangan berikutnya sebelum akhir pertandingan.” Tantangan Itu adalah “kami belum pernah ke final Kejuaraan Eropa. Ini adalah kesempatan lain untuk membuat sejarah.”

Hal senada dilontar Soutghate pada Piala Dunia 2018, “Sebagai tim dan skuat, Anda ingin menulis cerita dan sejarah Anda sendiri.” Harry Kane, kapten tim Inggris dan kapten klub Totenham Hotspur, berucap sehaluan, “Kami berkata kami ingin menulis sejarah kami sendiri.” Dele Alli pun berucap sama, “Kami ingin menulis sejarah kami sendiri sekarang.”

Namun Rusia bukan tempat TTS menulis sejarah. Dengan enam gol, Kane memang mendapat Sepatu Emas. Namun, di semi final melawan Kroasia, saat Inggris unggul 1-0, Kane gagal memanfaatkan dua peluang emas berturut-turut; pertama, bola yang ditendangnya dari jarak cuma sekitar tiga depa ditepis  kiper; kedua, bola yang ditendangnya dari jarak sekitar sedepa saja membentur tiang gawang. Kegagalan ini berkontribusi pada sukses Krosia masuk final, dengan gol Ivan Perisic pada menit ke-68, dan gol Mario Mardzukic pada babak perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-109.

Daniel Taylor, yang menonton langsung di Stadion Luzhniki, menulis, “Rasanya seperti menyaksikan lukisan indah yang dirobek di depan mata Anda.” Dia tahu “impian Inggris untuk mencapai final Piala Dunia pertama mereka selama lebih dari setengah abad telah berakhir.” Dan di saat-saat putus asa setelah peluit akhir, Taylor menegaskan, “para pemain yang kalah berkeliaran tanpa tujuan di sekitar lapangan, hampir seperti zombie dalam kesedihan mereka.” (The Guardian, 11 Juli 2018)

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Fakta di Balik Mimpi dalam Tidur Kita Selama Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 19:06 WIB

Semua Guru adalah Guru Bahasa

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:08 WIB

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
X