Berfoto di Tempat Kawe, Akan Malu pada Waktunya

- Jumat, 2 Juli 2021 | 09:37 WIB
Ilustrasi swafoto
Ilustrasi swafoto

AYOBANDUNG.COM--Wisuda di kampus itu sudah selesai. Dengan sukacita bersama keluarganya, para sarjana dengan toga dan map ijazah di tangan, berfoto untuk mengabadikan peristiwa penting dalam perjalanan sejarah hidupnya. Ada tukang foto keliling yang memotret siapa saja yang lewat bersama keluarganya.

Lalu segera dicetak, dan fotonya digelar di pinggir gedung di dalam kampus. Ada juga studio dadakan, dengan latar gambar rak buku yang rapi, penuh dengan deretan buku-buku berjilid tebal. Banyak juga yang berfoto di studio dadakan itu. Latar foto itu mencitrakan bahwa ia sebagai sarjana yang lulus berbekal ilmu pengetahuan. 

Berfoto di tempat-tempat dengan latar kawe, bukan hanya di kampus-kampus saat wisuda, tapi sudah menjalar ke tempat-tempat wisata. Seperti halnya tukang foto yang membuat latar bergambar rak yang penuh buku, tukang jasa wisata pun kini sedang keranjingan membuat latar-latar foto dengan bangunan-bangunan yang menjadi penanda di berbagai kota di dunia.

Harapan dapat berkunjung ke berbagai tempat wisata unggulan dunia yang dirasanya mustahil, maka para wisatawan pun dengan senang hati membayar katang ke tempat-tempat wisata yang menyediakan gambaran kawe dunia di tempat itu.

Dengan tak terbebani perasaan bahwa tempat itu kawe, wisatawan secara berkelompok, datang dengan menyewa bus, untuk berfoto di tempat-tempat kawe. Mereka merasa seolah-olah berada di tempat-tempat wisata dunia. Memang itu soal pilihan.

Banyak juga yang sudah melanglang buana, namun ia pergi juga ke tempat kawe untuk berfoto ria bersama teman-temannya. Hasil fotonya dengan penuh gaya dan tawa, tak menanti hitungan menit, sudah berterbangan di langit medsos. Foto-foto tanpa keterangan, apalagi menuliskan cerita di balik apa yang dilihatnya.

Tempat-tempat wisata, entah meniru dari mana, dibuat perahu-perahuan dari bambu atau kayu yang dirakit menjorok di atas jurang. Ada juga bentukan yang menyerupai sarang burung atau telapak tangan raksasa.

Pengunjung menunggu giliran untuk berfoto di sana, atau di tempat yang latarnya dibuat hiasan dari ranting pohon yang dibentuk melengkung menyerupai logo hati, ditafsirkan bermakna cinta, love.

Diharapkan bentukan itu menggambarkan suasana hati yang berfoto di sana, yang sedang dicurahi rasa cinta. Bentukan-bentukan seperti itu dengan sengaja dibuat di berbagai kawasan wisata alam. Ada juga titik berfoto dengan kayu yang dibuat menyerupai jendela atau pintu, tak lupa menuliskan lokasi di atasnya. Tanpa keterangan atau narasi satu dua kalimat di bawah foto-foto itu, orang tidak akan mengetahui di mana lokasi pemotretan itu dilakukan, karena tempat berfoto menjadi seragam.  

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X