Almarhum Markis Kido, Christian Eriksen, dan Buaian Indeks Pembangunan Manusia

- Kamis, 24 Juni 2021 | 09:35 WIB
Kabar duka menyelimuti dunia bulutangkis Indonesia. Salah satu putra terbaiknya, Markis Kido, meninggal dunia hari Senin (14 Juni 2021) malam.
Kabar duka menyelimuti dunia bulutangkis Indonesia. Salah satu putra terbaiknya, Markis Kido, meninggal dunia hari Senin (14 Juni 2021) malam.

Di awal Bulan Juni ini dunia olahraga berkabung. Meninggalnya legenda bulu tangkis Indonesia Markis Kido menjadi salah satu rentetan musibah yang dialami atlet dunia. Beberapa saat sebelum Markis Kido menghembuskan nafas terakhir, terdengar kabar kolapsnya pemain sepak bola asal Denmark Christian Eriksen pada saat laga Piala Eropa berlangsung.

Menariknya, menurut dr. Tirta kedua peristiwa yang dialami Kido dan Eriksen memiliki kemiripan yaitu keduanya mengalami henti jantung atau cardiac arrest. Henti jantung bisa dipicu oleh aktivitas fisik yang sangat berat. Meskipun mengalami peristiwa yang mirip, kedua atlet tersebut bernasib lain. Markis Kido menghembuskan nafas terakhir dan Eriksen bisa bangun dari koma setelah tiga hari tidak sadarkan diri.

Memang umur setiap makhluk hidup sudah diatur oleh Allah Swt. Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun manusia berkewajiban untuk berusaha seoptimal mungkin untuk bertahan hidup. Perbedaan nasib Kido dengan Eriksen menurut para pakar medis akibat perbedaan pertolongan pertama yang diterima oleh keduanya. Pada saat Eriksen mengalami kolaps, rekan satu timnya segera melakukan langkah-langkah pertolongan pertama sebelum akhirnya tenaga medis datang untuk melakukan perawatan lebih lanjut.

Kapten timnas sepak bola Denmark Simon Kjaer disorot sebagai penyelamat Eriksen karena telah memberikan pertolongan pertama yang tepat. Hal dilakukan Kjaer adalah memastikan Eriksen tidak menelan lidahnya dan melakukan PCR atau bantuan pompa jantung secara manual. Pertolongan sederhana tersebut mampu menyelamatkan  hidup Eriksen. Lalu bagaimana dengan Kido?

Tentu di sini kita tidak bermaksud menyalahkan orang-orang di sekitar Kido pada saat kejadian nahas tersebut berlangsung. Namun yang perlu kita pahami dan menjadi bahan evaluasi adalah pentingnya mengetahui pengetahuan dasar pertolongan pertama.

Inilah yang membedakan kurikulum pendidikan negara maju dan Indonesia. Setiap tahunnya, menjelang pertengahan tahun baik media cetak maupun online kompak memberitakan hasil ujian nasional, penerimaan siswa baru, penerimaan mahasiswa baru dan lain sebagainya yang masih terkait dengan dunia pendidikan. Ujian nasional masih menjadi acuan hasil belajar siswa, Indeks Prestasi menjadi tujuan utama mahasiswa kuliah. Pada intinya, fokus pendidikan Indonesia masih mengacu kepada hasil ujian diatas kerta. Kualitas sekolah dan universitas juga masih mengacu pada angka-angka yang mengukur prestasi akademik saja.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia hanya terlena dengan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang sudah masuk kategori tinggi. Saat ini angka IPM Indonesia sudah mencapai 71,94. Meskipun sudah masuk kategori tinggi, perbedaan IPM antar daerah masih sangat timpang terutama bagi Indonesia daerah timur yang nilai IPMnya masih berkisar 30-50 atau masuk kategori rendah.

IPM sendiri merupakan indeks yang tersusun dari tiga indikator yaitu Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan dan Indeks Pengeluaran. Keterwakilan tiga indikator tersebut dari sisi kesehatan, pendidikan dan pengeluaran membuat IPM sangat layak untuk mewakili kualitas manusia suatu wilayah. Namun demikian yang perlu menjadi sorotan kita bersama adalah indikator yang menilai manusia dari sisi pendidikan.

Indikator pendidikan yang diwakili oleh harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia terus membaik dari sisi kuantitas. Penduduk yang mengenyam pendidikan sampai dengan kuliah semakin banyak. Namun kembali lagi ke permasalahan awal tulisan ini, bahwa keterampilan dasar penduduk Indonesia belum bisa didapatkan meskipun sudah mengenyam pendidikan yang tinggi.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB
X