Sejarah Panjang Roti Bakar di Bandung

- Jumat, 28 Mei 2021 | 09:44 WIB
Roti Cari Rasa -- Roti Bakar Bandung.
Roti Cari Rasa -- Roti Bakar Bandung.

Kota Bandung dikenal sebagai Kota Kreatif di bidang gastronomi.  Salah satu hidangan yang memiliki memori kolektif di masyarakatnya, bahkan dikenal oleh para wisatawan domestik adalah Roti Bakar. Keberadaan roti bakar ini mulai dikenal oleh masyarakat di Kota Bandung, sejak mulai masuknya tepung terigu yang disosialisasikan oleh bangsa Belanda. 

Roti Bakar">Sejarah Roti Bakar

Sejarah keberadaan roti bakar dimulai dari foodscape atau bentang makanan sejak adanya  tepung terigu yang terbuat dari gandum, ragi dan mentega masuk ke kota Bandung yang dipengaruhi oleh beragam akulturasi dibawah pemerintahan Hindia Belanda. Kota ini pada masa pemerintahan Hindia Belanda sudah menjadi pusat belanja dan pusat jajan, hal ini dibuktikan dengan keberadaan toko serba ada pada tahun 1899 bernama Klass de Vries (sekarang BRI Tower di alun-alun). Pada masa pemerintahan Hindia Belanda ini selain beragam bahan baku, peralatan memasak berupa loyang, hingga teknik memasak Belanda yang menggunakan oven masuk ke Kota Bandung.

Roti bakar pun semakin dikenal dihidangkan di Warung Kopi Purnama di Jalan Alkateri yang dikenal sebagai salah satu kedai kopi legendaris dan ikon wisata heritage di Kota Bandung. Warung Kopi  di Jalan Alkateri No. 22 ini sudah ada sejak tahun 1930, dinobatkan sebagai kedai kopi tertua di kota ini. Sebelum tahun 1960-an, Warung Kopi ini dimulai sebagai tempat bersosialisasinya komunitas pedagang Tionghoa yang berjualan di Pasar Baru, pasar tertua di Kota Bandung yang sudah berdiri sejak tahun 1842. Mereka menggunakan warung ini sebagai wadah interaksi sosial para pedagang terutama masyarakat Tionghoa saat itu, yang merupakan jejak pertama tradisi kopitiam di Kota Bandung. Warung Kopi Purnama dengan asal-usul budaya kopitiam yang dibawa pendirinya tersebut, mengalami akulturasi beberapa budaya lain yang ada di Bandung. Akulturasi budaya tersebut terlihat dari inovasi beberapa hidangan pendamping kopi dan menu sarapan yang ada di kedai yaitu diantaranya Roti Bakar yang dikenal sangat enak yaitu roti sarikaya dan roti bakar mentega dan masih tersaji hingga kini.

Roti Bakar Sebagai Status Sosial

Roti ini pun dihidangkan sebagai hidangan sarapan pagi bagi masyarakat kelas atas di  Roti Bakar Gempol di Jalan Gempol Wetan No. 44 yang berdiri sejak tahun 1958.  Eksistensinya dapat dipahami keberadaannya karena wilayah ini merupakan bekas kawasan pemukiman bangsa Belanda, dan hingga kini masih terdapat bangunan cagar budaya. Keistimewaan Roti Bakar Gempol adalah tektur roti yang tebal, dan isi roti yang menggunakan selai coklat, strawberry, susu, kacang dan nenas. Hingga kini roti ini

Roti awalnya dikonsumsi oleh masyarakat kelas atas, lambat laun mulai dikenal dan disukai oleh berbagai lapisan masyarakat. Bagi masyarakat kelas menengah sudah mulai memasyarakat pada tahun 1970 an dan mulai dijual dikelas kaki lima.  Bagi penulis sendiri yang berasal dari keluarga menengah dimana memiliki ayah seorang tentara, dan ibu seorang guru, sudah menikmati pula roti bakar sejak tahun 1970 an di Gang Kote dan di depan Bioskop Capitol (sekarang sudah berubah menjadi kawasan wisata kuliner Sudirman Street). Sejak tahun 1970 an lidah penulis dimanjakan dengan rasa “Belanda”, yaitu aneka selai seperti coklat, strawberry, yang terasa mewah di masa itu adalah adanya penggunaan kornet dan keju.

Roti Bakar Semakin Bergengsi

Roti Bakar ditingkat industri kuliner pun  juga semakin berkembang pada tahun 1980 an dengan adanya Roti Bakar Duti di Jalan Gardujati Jl. Gardujati No.14, yang melakukan inovasi pada isian rotinya dengan menggunakan daun selada, tomat, dan juga ham, bratwurst dan juga fillet ayam serta menggunakan sambal juga saus tomat. Saat ini Roti Bakar Duti sudah memiliki varian pilihan rasa hampir 20.  Roti bakar pun telah menjadi sarana bersosialisasi bagi para kaum muda di Kota bandung, penulis bersama penikmat lainnya menikmati hidangan roti bakar di Jalan Wastukencana sudah menyediakan roti bakar dengan disajikan dengan peralatan makan garpu dan pisau yang termasuk bergengsi di masa itu.

Roti Bakar Inovatif

Kota Bandung sekarang sudah memiliki produk turunan dari Roti bakar yaitu Bolu Bakar, yang menjadi oleh-oleh yang diburu oleh para penikmat gastronomi. Tampilan mirip dengan roti bakar namun memiliki tekstur yang lebih lembut daripada roti bakar. Hal ini sesuai permintaan wisatawan yang ingin mendapatkan Bolu Bakar Tunggal yang berada di Jl. Jend. Sudirman No.570-574. Varian rasa andalan yang ditawarkan roombuter dan isi abon dan tuna. Roti bakar umumnya memiliki klasifikasi manis dan asin, sehingga inovasipun dilakukan sesuai dengan standarisasi dua pilihan ini. Anda tertarik menikmati Roti Bakar di Kota Bandung ?

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB
X