Mencari Akar Masalah Maraknya Pelecehan Seksual di Indonesia

- Senin, 24 Mei 2021 | 20:30 WIB
Ilustrasi penyintas Pelecehan Seksual.
Ilustrasi penyintas Pelecehan Seksual.

Kasus pelecehan seksual agaknya telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Kurangnya pengetahuan tentang pendidikan seksual dari orang tua menjadi salah satu penyebab terjadinya pelecehan seksual.

Masyarakat Indonesia masih menganggap tabu segala hal yang berbau seks. Terlebih dengan adanya budaya victim blaming membuat korban tindak pelecehan seksual memilih untuk bungkam dan memendam pengalaman pahitnya itu sendirian. 

Mari sejenak kita kilas balik terhadap kasus pelecehan seksual di Indonesia beberapa waktu lalu. Masih ingatkah Anda tentang kasus Agni pada 2017 silam? Mahasiswi asal UGM tersebut mengalami pelecehan seksual oleh rekannya sendiri pada saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Agni sempat merasakan posisi dilematis ketika laporan terkait pelecehan seksual yang dialaminya tidak mendapatkan respon baik dari pihak UGM. Proses penaganan kasus Agni memakan waktu sangat lama karena baru selesai di tahun 2019. Ini merupakan potret lemahnya penanganan pelecehan seksual oleh otoritas karena tidak segera ditangani dengan baik.

Kasus tersebut diakhiri dengan mediasi oleh kedua belah pihak, pelaku hanya meminta maaf dan terbebas dari segala tuntutan. Meskipun kasus tersebut berakhir damai, namun di dalam diri Agni masih menyisakan trauma yang mendalam sehingga mengharuskannya untuk konseling kepada psikolog sampai benar-benar dinyatakan sembuh. 

Kasus Agni hanya salah satu dari segudang kasus pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia. Melansir laman resmi komnasperempuan.go.id menurut catatan tahunan (Catahu) Komnas Perempuan, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2020 sebanyak 299.911 kasus. Terdiri dari kasus yang ditangani oleh Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama sejumlah 291.677 kasus. Kemudian Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah 8.234 kasus. Lalu dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan sebanyak 2.389 kasus. Dengan catatan, 2.134 kasus merupakan kasus berbasis gender dan 255 kasus di antaranya adalah kasus tidak berbasis gender.

Menurut salah satu Dosen Universitas Padjadjaran, Evelynd M.Comm&MediaSt, dampak paling signifikan yang dirasakan oleh penyintas pelecehan seksual di lingkungan kampus adalah menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka akan menghilang dan tidak mau muncul lagi di lingkungan kampus untuk bertemu dengan teman-temannya. Evelynd mengatakan, gejala awalnya adalah penyintas seringkali bolos dari kampus dan merasa dikucilkan.

“Korban merasa bahwa hal yang dialaminya merupakan sesuatu yang tidak harus dibicarakan sehingga korban akan menutupnya rapat-rapat, tentu saja ini akan berdampak dengan kejiwaan mereka,” ujar Evelynd.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB
X