Pamali sebagai Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda

- Kamis, 13 Mei 2021 | 17:05 WIB
Ilustrasi anak-anak Sunda sedang bermain ban bekas.
Ilustrasi anak-anak Sunda sedang bermain ban bekas.

“Jangan duduk di atas bantal nanti bisulan!”

“Jangan duduk di depan pintu nanti susah dapat jodoh!”

Pernahkah Anda mendengar seseorang berbicara kalimat-kalimat seperti di atas? Jika pernah, seharusnya Anda tidak asing dengan pamali.

Menurut KBBI, pamali atau pemali adalah pantangan atau larangan (berdasarkan adat dan kebiasan). Di Indonesia budaya pamali ada di berbagai daerah, salah satunya di Jawa Barat yang dianut oleh masyarakat Sunda.

Pamali dalam masyarakat Sunda disebut juga panyaraman yang berasal dari kata caram dalam bahasa Sunda yang artinya melarang.  Larangan berupa pamali ini biasanya disampaikan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.

Pamali bisa disebut juga tradisi yang diturunkan dari generasi tua pada generasi selanjutnya Siapa yang lebih tua? Yaitu karuhun atau orang tua kita” ujar Danan Drajat seorang mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia.

Masyarakat Sunda terutama generasi milenial banyak yang sudah tidak menggunakan pamali, karena dianggap mitos dan sudah tidak relevan untuk dijadikan sebagai aturan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal pamali bukan hanya hanya omong kosong atau mitos atau takhayul yang digunakan untuk menakut-nakuti agar tidak melakukan sesuatu. Pamali memiliki nilai-nilai pendidikan karakter di dalamnya.

Secara fungsional pamali memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter masyarakat Sunda. Misalnya jika kita maknai secara sekilas pamali yang berbunyi “Jangan duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh”, akan terdengar tidak masuk akal karena tidak ada hubungannya antara duduk di depan pintu dengan jodoh seseorang di masa depan. Namun jika ditelaah lebih dalam lagi, pamali ini mengajarkan norma kesopanan karena duduk di depan pintu menghalangi orang lain yang akan keluar masuk melewati pintu tersebut.

“Dalam pamali itu bukan hanya larangan bukan  ‘teu menang dilakukaeun’ bukan hanya itu, tetapi berkaitan juga tentang karakter orang Sunda misalkan trisilas silih asah, silih asih, silih asuh. Dan juga disebut gapura pancawaluya. cageur, bageur bener, pinter siger. Berkaitan dengan hal tersebut pamali juga ada nilai pendidikan karakternya” ujar Danan

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB

Pahlawan Big Data di Tengah Pandemi

Jumat, 19 November 2021 | 21:55 WIB

Proses Terbentuknya Karanghawu

Jumat, 19 November 2021 | 15:37 WIB
X