Ramai Konten Family Issues di Tiktok, Wajarkah?

- Senin, 10 Mei 2021 | 16:30 WIB
Ilustrasi anak bersedih karena adanya masalah keluarga.
Ilustrasi anak bersedih karena adanya masalah keluarga.

Berbeda dengan Safa, sebagai pengguna Tiktok, Zahra Isnaina, tidak pernah menjadikan masalah keluarga menjadi konten. Zahra menganggap masalah keluarga cukup diketahui oleh keluarga atau orang terdekatnya. Namun, ia mengakui tidak merasa terganggu dengan adanya konten-konten tersebut. ia merasa itu hak mereka dan terkadang membuatnya jadi lebih aware terhadap orang-orang di sekitar.

“Kalau masalah keluarganya abusive kita bisa lebih aware sama harassment-nya, kalau udah out of control sampai nyeritain detailnya menurut aku udah gak penting buat di-share,” jelas Zahra.

Menurutnya, Pembuatan konten tentang masalah keluarga, tidak bisa dikatakan salah atau benar. Ia merasa setiap hal yang dilakukan pasti ada konsekuensinya. Perbedaan pendapat terhadap konten masalah keluarga sangat beragam, sehingga akan menimbulkan pro dan kontra.

Di balik hal tersebut, apakah masalah keluarga wajar untuk dijadikan konsumsi publik?

Membuat Konten Family Issues, Wajar atau Tidak?

Anneth kembali menjelaskan, saat ini masyarakat sudah mulai krisis moral dan identitas. Terkadang masyarakat melakukan sesuatu hanya sekadar mengikut trend, tanpa melihat esensinya. Lain halnya dengan mereka yang memiliki tujuan positif. Seringkali para pembuat konten hanya ingin viral, dan itu yang membuatnya menjadi tidak wajar.

“Karena itu tadi yang seharusnya hanya ada di ranah private terus kemudian menjadi konsumsi publik, itukan hal-hal yang privasi,” ujar Anneth.

Menurutnya, hal tersebut kurang etis untuk dianggap wajar, karena tidak semua orang nyaman dengan konten seperti itu. Menganggap wajar hal ini dapat membuat masyarakat sulit membedakan yang seharusnya privasi dan yang pantas untuk publik.

Berkaca dari hal tersebut, Anneth menegaskan sebelum berpikir untuk masuk ke ranah publik, alangkah lebih baik masalah keluarga ini diselesaikan melalui mediasi.

Berdasarkan ilmu sosiologi, konflik bisa berdampak destruktif dan konstruktif. Saat masalah sudah semakin besar, seperti mendapat ancaman, kita bisa melaporkannya. Gunakan pihak ketiga ketika permasalahan tidak bisa diselesaikan oleh pihak yang bertikai.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB
X