Tinjauan Eskatologis tentang Gerakan Literasi

- Kamis, 29 April 2021 | 21:30 WIB
Ilustrasi buku sebagai salah satu sumber literasi.
Ilustrasi buku sebagai salah satu sumber literasi.

Literasi sementara ini menjadi simbol gerakan membaca dan menulis. Pada tahap ini pemerintah memperluas arti literasi yang dituangkan dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN). GLN terbagi ke dalam 6 (enam) jenis aspek literasi dasar; yaitu (1) literasi baca-tulis, (2) literasi numerasi, (3) literasi sains, (4) literasi finansial, (5) literasi digital, dan (6) literasi budaya dan kewargaan.

Pembagian jenis literasi ini tentu bukan untuk memecah fokus gerakan membangun keterampilan literasi kita. Malah sebaliknya, GLN membuatnya lebih nyata dan lebih terarah.

Untuk menguatkan pandangan eskatologis terhadap GLN ini tidak serta merta dapat dilekatkan begitu saja. Mari kita runut.

Pertama, Islam pertama kali ditandai dengan turun wahyu iqra kepada Muhammad bin Abdullah. Sejak itu beliau dinobatkan sebagai Nabi dan Rasul pembawa ajaran literat.

Kenapa saya sebut ajaran literat? Literasi itu bukan terhenti pada kegiatan membaca dan menulis. Gerakan ini mengarahkan pada sebuah pemahaman yang utuh tentang sesuatu. Bukan pada kata atau kalimat yang tersurat saja. Namun, perlu dilanjutkan pencarian makna dan hikmah dari setiap naskah yang kita baca.

Al-Qur’an menyebut 24 (dua puluh empat) ayat terkait anjuran berpikir (ta’qilun). Berpikir tentang banyak hal. Dari fenomena dan nomena, yang kemudian mengantar pada sebuah pengetahuan. Hakikat epistemologi adalah pencarian pengetahuan sehingga absah menurut metodenya. Melahirkan keyakinan bahkan ilmu pengetahuan.

Logika berpikir bayani, burhani, dan irfani, adalah istilah yang dipinjam dari pemikiran Al-Jabiri untuk mewakili epistemologi dalam kajian studi yang dilakukannya, yang sebelumnya ia gunakan sebagai kritik atas nalar Arab. Proses itu dapat menjadi pijakan kita dalam berliterasi. Bagaimana penggalian pengetahuan kita dapatkan, bagaimana dalil-dalil logika menjelaskannya, bahkan pengetahuan yang kita peroleh tanpa memerlukan dalil logika sama sekali.

Kedua, teologi meniscayakan keyakinan tanpa keraguan. Dalam hal ini erat kaitan dengan dogma keimanan. Sebuah keyakinan akan suatu kebenaran diperoleh tidak secara an sich. Seperti tubuh menerima vaksin anti virus, ia akan bereaksi sehingga efek muncul sampai berhenti pada kesimpulan tubuh seseorang dinyatakan sehat dan kebal terhadap penyakit yang ditimbulkan virus tersebut.

Begitulah proses literasi semestinya mengantarkan pada sebuah pengetahuan yang membawa keyakinan akan kebenaran suatu informasi. Penanaman akidah literasi tidak cukup hanya dengan modal sosialisasi dan gembar-gembor kegiatan seremoni. Sebagaimana dakwah punya misi membentuk dan menguatkan keyakinan. Keyakinan yang tumbuh dan mengakar logis berdasar pada argumen-argumennya.

Ketiga, literasi akan semakin berarti dengan menunjukkan hasil berupa produk-produk karya. Karya sebagai hasil perenungan dan pengejawantahan pengetahuan tentang sesuatu yang diharap membawa manfaat bagi semua penikmat karyanya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB

Evergrande CS Membuat China Bangkrut?

Minggu, 10 Oktober 2021 | 14:00 WIB
X