Menyikapi Secara Proporsional Pidato Biden

- Kamis, 22 April 2021 | 17:50 WIB
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

Isi pidato Presiden Joe Biden dalam menyambut bulan Ramadan sangat berbeda dengan kebijaksanaan pendahulunya, Presiden Donald Trump. Maka dari itu, muncul harapan Amerika Serikat akan lebih baik memperlakukan dunia Islam.

Pidato tersebut sebetulnya lebih ditujukan kepada masyarakat Muslim yang memilih Biden. Jadi, lebih tepat diartikan sebagai balas jasa.

Inti pernyataan Presiden AS itu terarah kepada: memerintahkan Kementerian Kehakiman memanfaatkan segala daya untuk fokus mengatasi kejahatan yang didasarkan kepada kebencian terhadap agama tertentu.

Menjamin aspirasi Muslim-Amerika lebih didengar.

Memperluas jaminan kesehatan bagi Muslim Amerika, dengan mengenyampingkan pendapatan atau ras.

Menaikkan gaji minimum federal hingga US$15, memperkuat serikat buruh sektor swasta atau pemerintah dan mengatasi kesenjangan upah.

Barangkali sebagai sweetener, Biden mengecam pelanggaran hak-hak asasi manusia di seluruh dunia, termasuk perlakuan atas suku Uyghur di China dan Rohingya di Myanmar.

Memenuhi Janji

Dewasa terdapat sedikitnya 3,45 juta penganut agama Islam. Kebanyakan tinggal di negara bagian Michigan. Jumlahnya diperkirakan meningkat dua kali lipat pada 2050.

Badan Penyelidik Federal (FBI) mengungkapkan setidaknya 15% kaum muslim mengalami tindak kriminal tetapi yang dilaporkan umumnya menyangkut perundungan (bully). Tindakan itu kerap disangkutkan dengan kebencian terhadap agama.

Dibanding agama Kristen atau Yahudi, penganut agama Islam paling beragam dalam konteks negara, bahasa dan budaya.  Separuh kaum muslim berasal dari luar negeri. Mereka berasal dari Afrika, Teluk Persia, Asia Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan dan India serta Asia Tenggara. Sisanya dilahirkan di Amerika Serikat.

Pada awal tahun 2017, pemerintah melarang kaum muslim dan pengungsi, yang umumnya berasal dari berbagai negara konflik, datang serta menetap di Amerika Serikat. Larangan ini sebenarnya bertentangan Undang-Undang Dasar dan Hak-Hak Sipil tetapi pemerintah Presiden Trump tidak peduli.

Pidato Biden memberi harapan baru bagi kaum muslim yang belakangan ini tertekan, mekipun realisasi pernyataan itu masih harus ditunggu. Sebagaimana diketahui Presiden Barrack Obama pada masa pemerintahannya, 2009-2017, membentuk seksi diplomasi kaum muslim pada kementerian luar negeri. Kenyataannya hal ini tidak terlalu efektif sebab bagaimana berhubungan 1,8 miliar penganut agama Islam.

Atas dasar itu, Biden kemungkinan diharapkan bersikap realistis. Misalnya dengan merealisasikan janji mengizinkan hingga 125 ribu pengungsi menetap di Amerika Serikat setiap tahun.

Sebelumnya, Trump menetapkan membekukan masuknya para pengungsi ke Amerika Serikat (AS) selama 120 hari. Melarang para pengunjung dari tujuh negara yang penduduknya kebanyakan Muslim, yaitu Irak, Suriah, Iran, Sudan, Libya, Somalia, dan Yaman. Khusus untuk Suriah, larangan masuknya pengungsi diberlakukan tanpa batas.

Trump berkilah larangan tersebut bukan berdasarkan kebencian atas agama, melainkan karena alasan keamanan.

Peran Kaum Muslim

Walaupun jumlah penganut agama Islam sangat sedikit tetapi mereka berperan pada tempat pemilihan lokal di negara-negara bagian yang diperebutkan (swing states) para Capres seperti, Virginia, Ohio, Florida, Michigan, Wisconsin dan Pennsylvania. Masyarakat muslim berperan mencegah Trump meraih kemenangan. Pada Pilpres 2016, Trump meraih kurang dar 11 ribu suara. Dalam Pilpres yang lalu, jumlahnya tak jauh berbeda.

Data menunjukkan kaum muslim sudah mendukung AS sejak awal. Bampett Muhammad dan Yusuf Ben Ali membantu Jenderal George Washington melawan pemerintah kolonial Inggris. Peter Buckminster, yang kemudian berganti nama menjadi Saleem Buckminster, menembak mati Mayor Jenderal   John Pitcairn dalam pertempuran Bunker Hill.

Kerajaan Maroko merupakan pihak asing pertama yang mengakui kemerdekaan AS.  Kedua negara, pada 1786 menandatangani perjanjian perdamaian dan persahabatan. Kedua perjanjian itu berlaku sampai sekarang.

Fazlur Rahman Khan, kelahiran Dhaka, Bangladesh dijuluki Einstein dalam pembangunan pencakar langit. Dia merintis pembangunan gedung berstruktur seperti tabung yang menghemat penggunaan baja dan lebih tahan goncangan.

Karya-karyanya antara lain, The Sears Tower di Chicago yang berlantai 108 dengan ketinggian 442 meter dari permukaan tanah.  Trump International Hotel and Tower di New York dan gedung Akademi Angkatan Udara di Colorado.  Khan wafat tahun 1982.

Dalam bidang kedokteran dikenal DR. Ayub Ommaya. Petinju Mohammad Ali. Malcolm X di bidang politik.

Huma Abeedin, pembantu dekat Menlu Hillary Clinton dan kemudian menjadi wakil ketua kampanye Clinton untuk Presiden. Karirnya tidak mulus karena lima anggota Kongres dari partai Republik pada 2012 menuduh...anggota keluarganya memiliki hubungan organisasi teroris asing. Tuduhan itu ditepis dan koran Washington menyebut cermin sikap paranoid.

Para imigran juga menyokong peran Silicon Valley, di California, sebagai pusat keungggulan. Tidak hanya intelektualitas tetapi juga dana.

Perlu Dukungan

Biden mewarisi keadaan yang compang-camping akibat kebijaksanaan pendahulunya yang bersifat nasionalis. Di dalam negeri, pemerintah mengabaikan fakta bahwa kaum muslim memberi kontribusi sangat berarti.

Di bidang diplomasi, Biden mengupayakan negaranya kembali bergabung dengan WHO dan WTO. Memperbaiki hubungan dengan sekutu-sekutunya di Eropa. Mendukung Ukraina melawan Rusia  Berkoordinasi dengan Jepang, Australia dan India menghadapi China.

Pidato Biden yang pro kaum muslim merupakan angin segar yang menguntungkan dunia Islam dan juga Amerika Serikat sendiri. Bila AS dewasa ini disebut sebagai negara adi kuasa, maka hal tersebut berkat kontribusi para imigran.

Keunggulan dalam teknologi, rekayasa, matematika dan ilmu pengetahuan Amerika Serikat banyak ditopang kalangan imigran. Ashwin Vasavada, Dara Sabahi, Megan Lin, misalnya, memainkan peran penting dalam misi penjelahan planet Mars.

Dengan demikian, pidato Biden di awal Ramadan itu ada baiknya disikapi secara proporsional. Tidak lebih! [*]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB
X