Menambah Penghasilan dari Budi Daya Tanaman Porang

- Kamis, 8 April 2021 | 15:50 WIB
Tanaman Porang (Amorphophallus oncophyllus).
Tanaman Porang (Amorphophallus oncophyllus).

Menghadapi situasi cuaca yang tidak bersahabat tentu menjadikan tantangan bagi petani dan harus berinovasi demi menghasilhan keuntungan yang besar.

Apalagi pada masa pandemi ini, dengan penurunan produksi bahan pangan nasional yang dirasakan saat ini, dikarenakan semakin sempitnya luas lahan pertanian produktif akibat beralihnya fungsi pertanian konversi lahan sawah menjadi lahan hunian dan industri.

Tanaman porang atau Amorphophallus oncophyllus pun menjadi salah satu alternatif tanaman yang bisa beradaptasi di semua jenis tanah, yang bisa ditanam di musim kering dan hujan dengan masa tumbuh sampai panen selama 6-8 bulan. Tanaman porang mulai dikenal tahun 1975 oleh pedagang dari Nganjuk dan pada tahun 2018 mulai ditekuni lagi.

Untuk mendongkrak Pertanian di masa pandemi Covid-19 tanaman umbi porang menjadi komoditas yang menjanjikan. Di kutip dari beberapa media, tanaman umbi porang menjadi komoditas ekspor yang memiliki nilai jual tinggi. Tetapi saat ini pembudidayaannya masih bersifat individu (perorangan). Di sinilah diperlukan peran dari pemerintah sebagai pondasi dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus sebagai penguatan ketahanan pangan di masa pandemi.

Berdasarkan rilis data Badan Pusat Statsitik (BPS) dari publikasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2019 menunjukan laju pertumbuhan ekonomi sektor ini ada di kisaran 15,46 persen dan mengalami kenaikan sebesar 2,19 persen di tahun 2020.

Tanaman pangan masih menjadi salah satu subsektor pertanian memiliki posisi strategis dalam menyediakan kebutuhan akan nutrisi bagi manusia, sumber lapangan kerja dan pendapatan serta sumber devisa negara.

Untuk meningkatkan kontribusi peningkatan ekonomi sektor pertanian jangan bergantung terhadap salah satu komoditas saja, pemerintah daerah dituntut harus bisa bisa memberikan potensi pengembangan Tanaman mempunyai peluang yang sangat besar bagi masyarakat terutaman daerah yang mempunyai luas wilayah pertanian subur seperti daerah jawa, tanaman umbi porang menjadi peluang untuk dimanfaatkan sebagai penambah penghasilan yang tinggi. Pemerintah daerah diharapkan harus lebih proaktif untuk mewujudkan kemandirian petani dan pertanian sebagai pondasi pangan nasional.

Masih dikutip dari beberapa media, tanaman umbi porang sebenarnya bisa mendapatkan keuntungan milyaran per hektarnya. Dengan perhitungan per hektarnya mendapathan hasil sebanyak 150 ton kali harga jual Rp8000 per kilogram (dengan keuntungan sekitar 1.2 milyar), dengan menghabiskan biaya 70 juta per hektar masa panen selama 8 bulan, maka mendapatkan keuntungan per bulannya sekitar Rp141 jutaan.

Tanaman porang dengan keuntungan yang sangat mengiurkan ternyata mempunyai manfaat atau keuntungan sebagai bahan makanan, kosmetik, campuran bahan kertas, dan penjernih air.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Mewaspadai Konflik Terbuka di Asia Pasifik

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:55 WIB

Mewujudkan Indonesia Emas dengan Memberantas Stunting

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:54 WIB

Imlek: Merawat Kebhinekaan, Meneguhkan Keindonesiaan

Senin, 23 Januari 2023 | 18:20 WIB

Potret ‘Pengemis Online’ yang Meresahkan

Senin, 23 Januari 2023 | 16:51 WIB

BIJB Kertajati Dijual?

Senin, 23 Januari 2023 | 16:08 WIB

Tahun 1845 Baru Ada 13 Orang Tionghoa di Bandung

Sabtu, 21 Januari 2023 | 15:02 WIB

Cokelat sebagai Peluang Usaha Baru untuk Remaja

Selasa, 17 Januari 2023 | 12:41 WIB

Ideologi di Balik Sepak Bola

Selasa, 17 Januari 2023 | 10:54 WIB

Membangkitkan Inovasi dan Daya Saing UMKM

Senin, 16 Januari 2023 | 17:00 WIB

Penggunaan Mobil Listrik di Indonesia, Efektifkah?

Senin, 16 Januari 2023 | 15:12 WIB
X