Catur dan Momentum Bangkitnya Olahraga Nasional

- Kamis, 25 Maret 2021 | 07:20 WIB
Ilustrasi olahraga catur.
Ilustrasi olahraga catur.

Dalam buku legendaris pemasaran berjudul Positioning : The Battle of your Mind, dikatakan salah satu pakar marketing global, Al Ries, perang pemasaran bukanlah terletak pada pasar, namun berada dalam benak pelanggan. Apakah yang dilakukan seorang Deddy Corbuzier, tentu saja memanfaatkan strategi marketing mumpuni, sekalipun mungkin publik tidak menyadarinya.

Boleh setuju, boleh tidak, Ia telah bertransformasi menjadi ikon marketer dalam benak puluhan juta penggemarnya di dunia hiburan. Bagaimana Ia mempertahankan talkshow daringnya sekaligus menangguk untung dalam acara heboh tersebut.

Apa yang dilakukan seorang entertainer Deddy, mempertemukan Grand Master (GM) catur Irene Sukandar dengan Dadang Subur sang “Dewa Kipas”, tentu berada di atas angin sekaligus menguntungkan banyak pihak dari segi ekonomi di tengah pandemi. Paling tidak, ada 3 cuan besar mengalir, yang meraup keuntungan yaitu empunya acara alias si gundul Deddy, pemain, dan pastinya sponsor. Oya, ada 4 sebenarnya, di tambah dengan brand image olahraga yang dimainkan.

Pertanyaannya, apakah ini alami atau memang siasat marketing dari seorang  Dedy? Mari kita bedah lebih tajam dengan membuka tabir rahasia marketing yang selama ini sering dimanfaatkan para jagoan marketeers perusahaan kelas dunia.

Dan, jurus ini tentu juga berlaku untuk policy maker agar tidak blunder lagi dalam mengeksekusi kebijakan, seperti kebijakan baru-baru ini yang rada nyeleneh yaitu ketika menggaungkan benci produk luar negeri, namun justru tidak lama kemudian muncul perintah impor beras dari kementerian terkait yang benar-benar menohok akal sehat publik. Mau tidak mau, ingatan publik akan kembali pada sebuah buku yang sempat heboh tahun 2020, ketika menyebutkan presiden terkesan kontradiksi.

Diferensiasi never die

Kalau Anda menggeluti dan hidup dalam dunia pemasaran yang menyasar pasar besar dengan demografi serta geografi gigantis, maka sudah lumrah Anda harus memahami 3 hal. Dalam ilmu marketing, paling tidak, Anda menggunakan segmentation, targeting, positioning (STP). Dalam rumus marketing lain yang dikenalkan “empu” marketing Indonesia Hermawan Kartajaya sebagai tokoh pertama marketer di tahun '90-an, menyebutnya dengan istilah positioning, differentiation, branding ( PDB ).

Saya tidak ingin merumitkan Anda dengan istilah-istilah di atas, tetapi dari survei terbatas, orang lebih mudah mengingat istilah PDB karena identik dengan istilah ekonomi yaitu produk domestik bruto sebuah negara. Asosiasi yang diferensiasi, bukan?

Pertanyaannya, diferensiasi (pembeda) seperti apa yang dirancang seorang mentalis Deddy, yang sudah beralih profesi tersebut? Mungkinkah, ia hanya seorang anomali dalam sebuah dunia panggung hiburan, khususnya hiburan yang memanfaatkan ledakan dunia platform media sosial dan momentum work from home? Mungkin Anda akan mengatakan, ia hanya lucky dan sekadar memamfaatkan popularitas sebelumnya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB
X