Jatinangor, Perwujudan Cinta Baron Baud pada Gadis Beraroma Tropika

- Sabtu, 13 Maret 2021 | 11:18 WIB
Rumah administrator Baron Baud di Jatinangor.
Rumah administrator Baron Baud di Jatinangor.

AYOBANDUNG.COM--Seperti lazimnya perkebunan teh, sejauh mata memandang, di lengkung-lengkung punggung perbukitan itu, yang tampak hanyalah permadani hijau pucuk-pucuk teh yang segar, yang ujung-ujungnya bergelayut embun pagi yang berkilau saat matahari pagi mengusir halimun yang erat memeluk bukit.

Ketika nafas mengepulkan uap hangat, bergumpal-bergumpal kecil, keindahan pucuk-pucuk teh yang berebut hangatnya matahari adalah sorga perkebunan tropika.

Jalan-jalan tanah sebahu lebarnya, jalan yang teramat akrab dengan kaki perempuan pemetik teh yang perkasa. Di jalan itu, mereka beriringan menuju kebun-kebun teh yang membentang berbukit-bukit.

Pucuk-pucuk teh yang segar saling mengacungkan jari, ingin dipetik tangan-tangan kokoh yang terampil agar menyaksikan bagaimana manusia mendapatkan kepuasan di pagi dan sore hari ketika teh hangat diseruput. 

Bagi tuan Baud, ternyata ada pesona lain yang menggetarkan jiwanya di antara beningnya embun di pucuk-pucuk teh tropika. Getar itu karena hadirnya sesosok gadis desa yang membuat hatinya menjadi lebih berbunga.

-
Wilhelm Abraham Baron Baud. (Buku Peringatan Der Nederlandsch Indische The)

Sangat mungkin, saat itulah Tuan Baud merasakan kehijauan pucuk-pucuk teh belum cukup. Sepertinya perlu ada sedikit tambahan warna lain.

Maka ditanamlah kembang jatinangor yang bernuansa merah, sehingga permadani hijau dengan garis-garis coklat sebahu yang melengkung menapaki punggung perbukitan itu tampak jelas dengan kehadiran kembang jatinangor yang berjajar merah setinggi hamparan teh. Suasana menjadi lebih hegar, lebih segar dan gembira, seperti suasana hatinya. 

Akhirnya Tuan Baud menikah dengan Ma Kolat, diperkirakan lahir antara tahun 1798 dan 1858, gadis desa dengan aroma tropika, dan dikaruniai seorang putri, Mimosa/Ida Bsse. Baud, yang lahir pada tanggal 17 June 1876 di Djatinangor.

Kembang jatinangor (Alternanthéra ficoides R. Br. Var. bettzickiana Back.), bukanlah kembang asli dari Tatar Sunda, namun berasal dari Amerika. Kembang ini diberi nama lokal Jukut sélong. Dalam bahasa Jawa terkenal dengan sebutan Kecicak abang, dan umum dalam bahasa Indonesia disebut Bayem merah.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Fakta di Balik Mimpi dalam Tidur Kita Selama Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 19:06 WIB

Semua Guru adalah Guru Bahasa

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:08 WIB

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
X