Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai

- Sabtu, 6 Maret 2021 | 20:13 WIB
Cabai Rawit.
Cabai Rawit.

AYOBANDUNG.COM--Akhir-akhir ini di berbagai daerah, masyarakat mengeluhkan melambungnya harga cabai rawit merah  hingga Rp120.000 sampai Rp130.000 per kg.

Padahal sebelumnya harga cabai rawit merah hanya mencapai Rp60.000 sampai Rp80.000 per kg. Kondisi ini memaksa konsumen mengurangi konsumsi cabai rawit merah. Sementara para pengusaha rumah makan dan restoran terpaksa tetap membeli walaupun dengan harga tinggi demi menjaga pelanggannya.

Para pedagang mengaku pasokan cabai rawit merah berkurang diduga akibat cuaca buruk dan gagal panen sehingga mendongkrak harga cabai merah di tingkat konsumen. Tidak hanya komoditas cabai rawit merah, cabai rawit hijau dan cabai keriting ikut bergerak naik.

BPS mencatat kenaikan harga cabai rawit menjadi pemicu terjadinya inflasi di bulan Februari 2021 sebesar 0,10 persen. Komoditas cabai rawit sendiri menyumbang andil inflasi sebesar 0,02 persen pada bulan Februari 2021. Kenaikan harga cabai rawit terjadi di 65 kota Indeks Harga Konsumen (IHK). Kenaikan tertinggi terjadi di Pangkal Pinang dengan 39 persen dan Merauke dengan 38 persen. 

Pemerintah menjadikan cabai sebagai salah satu komoditas hortikultura strategis nasional selain bawang merah. Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat luas panen cabai besar tahun 2020 mencapai 144.391 hektare dengan produktivitas rata-rata sebesar 8,77 ton per hektare.

Lahan tersebut terletak di 33 provinsi dan 225 kabupaten/kota. Produksi cabai rawit pada 2019 tercatat sebanyak 1,37 juta ton dan ditargetkan mencapai 1,47 juta ton pada 2020. Produksi cabai rawit pada 2024 diharapkan mencapai 1,92 juta  ton. Adapun luas panen cabai rawit saat ini diperkirakan mencapai 177.581 hektare dengan tingkat produktivitas 7,8 ton per hektare. Lahan panen cabai rawit berada di 33 provinsi dan 219 kabupaten.

Konsumsi masyarakat terhadap komoditas cabai ini cukup tinggi. Kita tahu masyarakat kita sangat menggemari sambal sebagai penambah selera makan. Tidak nikmat rasanya jika makan tanpa sambal. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan konsumsi cabai cukup tinggi. Lalu kira-kira apa penyebab melambungnya harga cabai yang selalu terjadi sepanjang tahun.

Menurut ekonom senior Indep, Bustamil Arifin, hal ini merupakan kalender atau siklus tahunan yang kerap terjadi pada penghujung musim hujan. Komoditas cabai mengalami kelangkaan karena prediksi panen baru akan terjadi di akhir bulan Maret atau April 2021. 

Sampai saat ini petani cabai belum memiliki alat atau teknologi untuk membuat komoditas cabai bisa tetap segar dan memiliki daya tahan lama hingga sampai ke tangan konsumen. Sementara konsumen kita lebih suka cabai yang terlihat masih segar saat di beli di pasar dibandingkan cabai yang sudah kering. Di sisi lain teknologi pengolahan cabai dalam bentuk lain seperti cabai bubuk kurang diminati konsumen.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB
X