“Beberes" Solusi Atasi Kekumuhan Menjadi Keindahan

- Senin, 1 Maret 2021 | 15:25 WIB
Tampak keindahan dilokasi selokan cilimus yang sedang dihias.
Tampak keindahan dilokasi selokan cilimus yang sedang dihias.

Salah satu problematika yang dihadapi warga Kota Bandung adalah soal sampah. Banyak solusi yang ditawarkan, karena masalah sampah ini kerap terjadi dimana-mana. Kepedulian warga Kota Kembang dituntut dalam hal ini.

Menyadari akan hal itu sejumlah warga kota ini berupaya menjadikan kekumuhan yang diakibatkan karena sampah menjadi tempat yang indah dan dapat dimanfaatkan warga untuk berselfieria atau foto bersama. Mereka menamainya dengan konsep Beberes.

Beberes” sebuah akronim yang berarti “Bebenah Bersihkeun Rancage Sauyunan” atau dalam Bahasa Indonesia (Benahi Bersihkan Bersama Dalam Satu Ikatan Yang Harmonis). Konsep ini dipopulerkan oleh seorang pria 63 tahun bernama Ujang Rahmat atau yang lebih dikenal dengan Sapaan Bah Ujang (Warga Jalan Nana Rohana Rt 06 / 01 Keluarahan Warung Muncang Kecamatan Bandung Kulon,Kota Bandung.).

“Abah kan suka yang bersih-bersih. Nah kalau melihat yang kotor-kotor Abah jadi kurang suka. Makanya ingin selalu melihat daerah itu bersih biar indah dan sedap dipandang mata,” katanya dalam sebuah kesempatan.

Bah Ujang pun mengungkapkan rasa kekhawatirannya sebagai orang yang begitu mencintai kotanya. Dia selama ini banyak melihat warga yang tidak disiplin dan seenaknya saja buang sampah ke selokan yang sering menimbulkan kekotoran dan membuat daerah tersebut menjadi kumuh karenanya akibat kurang disiplinnya warga yang membuang sampah ke selokan. Di lain pihak pria ini pun merasa Ruang Terbuka Hijau (RTH) Abadi bagi anak anak bermain di wilayah perkotaan Kota Bandung sangat kurang. Tentunya anak-anak itu butuh udara segar yang akan membuat mereka dapat hidup sehat.

Rupanya hal ini pun tak hanya digulirkan Bah Ujang saja, namun warga lain pun turut andil di dalam membersihkan wilayahnya, agar terlihat indah Ketika dilihat orang banyak. Adalah AwA Sungkawa (pria 48 tahun yang akrab dipanggil Mang Awa) yang selalu membersihkan sampah ketika musim hujan tiba yang tertimbun di selokan. Akibatnya sampah yang dibuang sembarangan itu membuat selokan selalu tersumbat dan harus selalu dibersihkan.

“Bukan tak rela membersihkan tapi kan kalau terus-terusan seperti ini menandakan banyak orang menjadi tak peduli akan kebersihan lingkungan,” ungkapnya.

Dengan dibenahi dan dibersihkannya sebagian alur selokan Sungai Cilimus, yang berukuran kurang lebih 3,5m x 40 m, Bah ujang dibantu para relawan bahu membahu membersihkan ruas selokan sungai tanpa pamrih serta dibarengi rasa semangat dan sosial yang tinggi. Sebagian ruas selokan sungai tersebut ditata dan disulap menjadi area/lahan ajang bersilaturahmi warga serta dijadikannya sebagai objek tempat berswafoto. Tentu saja, ini juga sebagai Ruang Terbuka Hijau abadi.

Adanya kondisi sungai yang terlihat elok dan indah merupakan bentuk kepedulian serta kecintaan terhadap lingkungannya sendiri yang telah ditunjukkan oleh Bah Ujang dan Mang Awa serta para relawan lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa jika ada kemauan dan kerja keras maka hasil pun takkan mengecewakan.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB
X