Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

- Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB
Logo NATO
Logo NATO

Artikel lima itu untuk pertama kali  direalisasikan ketika teroris menyerang World Centers di New York pada 9 September 2011. Juga ketika menanggapi situasi di Suriah dan konflik Rusia-Ukraina.

Pembalasan atas serangan teroris ke World Trade Centre itu berbuntut pada serangan total ke Afghanistan, dimana ‘biang’ teroris Osama bin Laden bermukim. Sampai sekarang tentara internasional di sana tidak pulang-pulang, walaupun jenazah Osama sudah dibuang ke laut.  Belakangan, Presiden Trump memerintahkan perundingan dengan Taliban.

Teater Asia

Presiden Joe Biden sejak awal sudah menyatakan akan bersaing dengan China sampai ke tahap yang ekstrem tetapi menghindari perang. Dalam persaingan ini, AS akan mengajak sekutu dekat seperti Australia, Korea Selatan, Taiwan dan Jepang, tetapi tidak menutup kemungkinan mengajak negara-negara lain karena aspek persaingan tidak hanya militer saja.

Kemungkinan juga akan berlangsung pembendungan pengaruh China pada aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya. Pembendungan itu makin lama makin menguat sampai pada akhirnya AS atau China lelah atau tak berdaya.

Seperti biasa, bila dua kekuatan besar bertemu maka yang ikut repot adalah negara-negara menengah atau  kecil. Mereka itu berkerumun di Asia Tenggara kepulauan maupun daratan.

Kawasan Asia Tenggara dan laut China Selatan selama ini menjadi medan pertarungan tanggung. Statusnya akan menjadi medan pertarungan utama bila AS dan sekutu-sekutunya merasa berhak menentukan masa depan China di Asia Tenggara dan laut China Selatan.

Banyak pihak, persaingan AS-China akan berlangsung di Asia Timur, dimana Taiwan berlokasi. Namun terlampau berbahaya jika Beijing berupaya mengambil alih Taiwan.

Presiden Xi Jinping menyerukan kepada Joe Biden agar sama-sama memusatkan perhatian kepada pembenahan masalah di dalam negeri. Biden mengesampingkan saran itu dan membentuk Satgas Khusus yang akan memberi saran-saran bagaimana menghadapi China.

Jadi segala hal bisa terjadi. Di Asia tidak ada pakta militer seperti NATO tetapi ada kerjasama dan pangkalan militer. Bila armada laut atau pangkalan militer Amerika Serikat di Jepang atau Korea Selatan diserang, bisakah Pasal Lima diberlakukan?

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB
X