Melacak Jejak Raden Kartawinata

- Sabtu, 13 Februari 2021 | 11:34 WIB
Raden Kartawinata semasa muda
Raden Kartawinata semasa muda

AYOBANDUNG.COM--Tutup kepalanya bendo, pandangannya tertuju ke depan, bajunya beskap dengan kalung tali yang melingkar di leher hingga pinggangnya, tangan kiri berkacak di pinggang dan telapak tangan kanannya menindih sebuah buku tebal di atas meja bundar berkaki tiga. Ke bawahnya kain batik hingga menutupi bagian kakinya yang tak beralas kaki. Inilah potret Raden Kartawinata (1852-1907) yang dikoleksi oleh KITLV dengan kode 7257.

Keterangan yang menyertai potret berwarna sepia ini tertulis, “zoon van Raden Hadji Moehamad Moesa, hoofdpenghoeloe van Garoet” alias anak lelaki Raden Haji Moehamad Moesa (1822-1886) yang menjabat sebagai hoofdpenghoeloe di Garut (1864-1886). Selain itu, ada perkiraan pembuat potretnya, yakni W.J. Beynon di Cirebon sekitar 1865. Bila melihat tampangnya dan 1852 sebagai tahun kelahirannya, saya tidak yakin potret tersebut dibuat pada 1865, karena penampilannya kayak menyiratkan umur sekitar 18 atau 20 tahun. 

Anggapan tersebut bisa jadi beralasan bila mengingat ada potret ayahnya yang juga dikoleksi KITLV dengan kode 42181. Di situ ada keterangan “Penghoeloe te Garoet” dan sama diperkirakan dibuat W.J. Beynon tetapi memberi angka perkiraan tahun pembuatannya 1870. Bila kita anggap potret Kartawinata maupun ayahnya dibuat saat bersamaan, saya cenderung memilih 1870 sebagai waktu pembuatannya, saat Kartawinata berumur 18 tahun, ketika sedang atau baru menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Kabupaten di Sumedang.

Yang jelas, baik Moehamad Moesa maupun Kartawinata merupakan sosok-sosok penting dalam perkembangan tradisi cetak di Tatar Sunda. Keduanya bahkan dianggap sebagai perintis penulisan buku cetak Sunda sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam tulisan ini dan tulisan-tulisan mendatang yang hendak saya lacak jejaknya terutama Kartawinata. Mengapa sosok Kartawinata alias Raden Adipati Aria Suria Nata Legawa layak diangkat dan patut diperbincangkan kembali? Salah satunya, dari kaca mata saya sebagai seorang penerjemah ke bahasa Sunda, dialah penerjemah resmi pertama bahasa Sunda dari kalangan pribumi (1872-1905). Sebelum Kartawinata, tidak ada pribumi Sunda yang dijadikan sebagai penerjemah bahasa Sunda.

Lebih jauhnya, dengan kemampuannya ditambah ihwal lainnya, Kartawinata beroleh manfaat besar dari mempelajari bahasa Sunda. Di samping menerjemahkan dari bahasa Belanda dan Jawa ke bahasa Sunda, ia menulis dalam bahasa Sunda, menyusun kamus Belanda-Sunda bersama P. Blusse (1876), menjadi anggota Perhimpunan Batavia (sejak 1879), menulis makalah ilmiah dalam bahasa Belanda, diangkat menjadi patih Sumedang (1883-1892), hingga beroleh posisi tertinggi yang dapat diraih oleh seorang pribumi: menjadi patih setaraf bupati (zelfstandig patih) bagi Sukabumi (1892-1905).

Ihwal Kartawinata telah dibahas antara lain oleh Tom van Den Berge (Karel Frederik Holle, Theeplanter in Indië 1829-1896, 1998) dan Mikihiro Moriyama (A New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing Configuration of Writing m Nineteenth Century West Java, 2003; atau Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, 2005). Ketiga buku tersebut pada gilirannya nanti akan saya gunakan sebagai titik pijak dan bahan rujukan untuk melacak jejak sekaligus menghimpun informasi mengenai Kartawinata. 

Untuk kali pertama ini, saya akan membahas jejak keluarganya, termasuk leluhurnya. Dari pihak ayahnya, kakek Kartawinata adalah Patih Limbangan Raden Rangga Soerjadikoesoemah sementara dari pihak ibunya, R.A. Perbatamirah, kakeknya adalah Dalem Tumenggung Sindangraja Suriadilaga (III) dengan leluhur Pangeran Santri dari Sumedang. Jadi, sebenarnya baik dari pihak ayahnya maupun ibunya, Kartawinata termasuk ke dalam kelompok menak tinggi, karena dekat dengan orang nomor satu di kabupaten.

Dari keterangan yang dihimpun Moriyama (2005) yang diperolehnya dari A. Rachman Prawiranata pada 27 Oktober 1994 di Bandung, Moehamad Moesa enam kali menikah. Istri pertamanya R.A. Perbata dan memiliki anak R.A.A. Soeria Nata Ningrat (Bupati Lebak), R.A.A. Soeria Nata Legawa atau Kartawinata (Patih Sumedang), R.S. Domas, dan R.H. Zainal Asikin (Hoofdpanghulu Limbangan). Istri keduanya R.A. Banonagara yang melahirkan R. Soeria Nata Madenda, R. Radja Bodedar, dan R. Niswan Radjanagara. Istri ketiganya R.A. Rija yang menurunkan R.A. Lasminingrat (istri Bupati Limbangan), R.A. Ratna Ningroem, R.A. Lenggang Kancana.

Lalu, istri keempatnya adalah R.A. Djoehro yang melahirkan R. Moerminah, R. Siti Rahmah, dan R.A.A. Prawirakoesoemah (Bupati Serang). Istri kelimanya R.A. Lendra Karaton dengan anak-anak yang dilahirkannya R. Ahmad Natalegawa (Wedana Singaparna) dan R. Moehamad Prawiradilaga (Wedana Cibeber). Sementara istri keenamnya adalah R. Tedjamantri yang melahirkan R. Andu Surja Adi Widjaja (Hoofdjaksa Bandung).

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X