Imlek, Keharmonisan “Muslim-Tionghoa”

- Sabtu, 13 Februari 2021 | 07:58 WIB
Masjid Al-Imtizaj.
Masjid Al-Imtizaj.

Satu diantara orang Tionghoa yang menganut Islam pun mengakuinya, "Di Indonesia kalau ada keturunan Cina masuk Islam atau seorang Cina duduk bersimpuh di masjid menunaikan Sholat, akan dianggap aneh, ganjil dan mengherankan. Mengapa? Barangkali karena golongan Cina dianggap sebagai kelompok masyarakat di luar Islam. Padahal, kalau mau membaca sejarah, kita akan menumui bahwa kaum Muslim Tionghoa sebenarnya telah sejak lama menjalin kerjasama dengan Muslim pribumi Indonesia." (Dyayadi[ed],2008:122 dan Rezza Maulana,2010:8-9).

Imlek di Masjid

Ihwal kuatnya menjalankan ajaran Islam secara kaffah di kalangan Tionghoa muslim ini dapat kita lihat pada acara Imlek yang digelar Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Daerah Istimewa Yogyakarta di masjid Syuhada Kotabaru pada tahun 2003.          

Hasil penelitian Rezza Maulana bertajuk "dari Imlek di Masjid ke Pengajian Imlek: Penciptaan dan Representasi Tradisi Tionghoa Muslim Yogyakarta di Ruang Publik” menunjukkan fenomena ini bukan hanya berkaitan dengan pesoalan reka cipta tradisi, melainkan erat hubunganya dengan kontestasi dan identifikasi diri (kelompok) di ruang publik. 

"Suasana perayaan tahun abru Imlek pada Sabtu malam, 8 Februari 2003, di masjid Syuhada Kotabaru agak mencekam. Pulungan orang keturunan Tionghoa muslim memasuki masjid dengan khusus untuk mengikuti perayaan Imlek yang diadakan PITI cabang Yogyakarta. Prosesi perayaan diisi dengan shalat Isya dan dilanjutkan dengan sujud syukur. Usai shalat, menikmati hidangan santap malam sekedarnya sebagai tanda syukur dan keceriaan.

Dalam perayaan tahun baru ini tidak ada pembakaran dupa maupun persembahan seperti yang terjadi pada perayaan tahun baru Imlek biasanya. Suasan di luar mesjid agak tegang karena dijaga oleh beberapa orang dari kelompok keamanan. Penjagaan dilakukan karena sebelumnya ada ancaman dari beberapa kelompok masyarakat yang tidak setuju dengan perayaan tahun baru Imlek di mesjid Syuhada.” (Ubed Abdilah Syarif,Thesis Master CRCS-UGM,2005:1)

Kali pertama di Indonesia, peringatan Imlek diadakan di mesjid Syuhada yang dimotori PITI pasca runtuhnya rezim Soeharto ini merupakan gagasan brian dari H. Budy Setyagraha, tokoh Tionghoa muslim Yogyakarta yang pernah menjabat ketua PITI periode 1984-2003. 

Menurut Makruf Siregar, ide tentang peringatan Imlek di mesjid terinspirasi setelah Pa Budy mengikuti pengajian rutin bulanan PITI yang diadakan di kediaman Prof. Mukti Ali (mantan menteri Agama dan Rektor UIN Yogyakarta). 

Mengingat ide ini cukup kontroversial, oleh beberapa pihak, termasuk Makruf disarankan untuk dikonsultasikan lebih dahulu kepada MUI Yogyakarta sekaligus mendapat tantangan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Irfan S. Awwas, Ketua MMI menilai acara ini mengandung unsur bidah, khurafat, sehingga dapat merusak akidah Islam. Mereka mengancam akan menggagalkan acara ini karena mengandung unsur perbuatan yang dapat dikategorikan syirik.

Walhasil, pertemuan antara PITI, MUI dan perwakilan komunitas Tionghoa sebagai saksi menyimpulkan Imlek bukanlah perayaan yang terkait dengan satu keyakinan (ritual) agama tertentu (Khonghucu, Tao, Buddha), melainkan hanya sebuah tradisi orang-orang China zaman dahulu untuk menyambut pergantian muslim (awal tahun). 

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Jangan Ngaku Bestie Kalau Masih Suka Nyinyir

Rabu, 26 Januari 2022 | 15:01 WIB

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB
X