Imlek, Keharmonisan “Muslim-Tionghoa”

- Sabtu, 13 Februari 2021 | 07:58 WIB
Masjid Al-Imtizaj.
Masjid Al-Imtizaj.

AYOBANDUNG.COM--Sejatinya, kehadiran tahun baru Imlek 2572 Kongzili yang jatuh pada 12 Februari 2021 harus menjadi momentum yang tepat untuk menegaskan identitas (jati diri) ketionghoaan muslim (muslim Tionghoa) di Indonesia ini. 

Pasalnya, selama ini kita sering mengidentikan keturunan Tionghoa ini hanya memiliki (satu) keyakinan (beragama) Khonghucu, Buddha, Kristen yang seakan-akan menjauhkan dari risalah  Islam. Apalagi di masa pemerintahan Joko Widodo ini sentimen China semakin tumbuh subur. 

Untuk urusan Pilkada serentak 2020 (yang diikuti 270 daerah) isu SARA kerap kali terjadi pada pentas kontestasi demokrasi. Sebagai contoh pada Pilkada DKI Jakarta yang semakin memperuncing konflik antara Islam (Arab, turunan Habib) dengan Tionghoa (China, Kristen). Bila segala potensi konflik (vertikal, horizontal) ini tidak disikapi secara bersama-sama niscaya keutuhan NKRI akan segera terpecah belah. 

 Hikayat Peranakan

Dalam tulisan dari "Muslim Tionghoa" ke "Tionghoa Muslim": Perjumpaan Tionghoa dengan Islam di Nusantara Abad XVI-XXI, Didi Kwartanada menguraikan pada buku Darma Wasana (Kebajikan Penghabisan) yang memuat dua bahasa (huruf) jawa dan latin. Buku ajaran piwulang moral Islami ini ditulis oleh Gan See Han bersama dengan H.O.S.Tjokroaminito (pemimpin Sarekat Islam) terbit tahun 1919. 

Darma Wasana dibuka dengan huruf Arab (Bismillah) dan Gan See Han itu seorang Muslim Tionghoa yang fasih berbahasa Arab dan soal keislaman. Memang di kalangan masyarakat rupanya masih muncul pandangan yang melihat Islam dan ketionghoaan sebagai dua hal terpisah, yang tidak bisa disatukan. 

Di bulan November 2008, Zhuang Wubin menampilkan pameran foto di Surabaya mengenai sejarah Muslim Tionghoa di Indonesia. Salah satu alasan digelar pameran itu untuk memberikan suatu "perspektif alternatif" atas pendapat umum bahwa Tionghoa dan Islam itu dua hal yang tidak bisa menciptakan suatu kesatuan.

Keheranan serupa dengan peristiwa di Surakarta sudah dicatat seorang peneliti Belanda, saat melakukan penelitian lapangan di Yogyakarta tahun 1984, dengan adanya ucapan-ucapan Ono Cino nang masjid (ada Cina di masjid) dan Islam naning Cino (Islam tapi Cina). 

Menariknya dua puluh tahun kemudian ketidakpercayaan itu nyatanya masih eksis. Seorang Ibu etnis Jawa beragama Islam mengenang apa yang disaksikannya dalam satu pengajian; ada orang Cina beragama Islam, ikut pengajian, mengenakan jilbab seperti pengajian kemarin, orang-orang yang melihatnya merasa aneh. 

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB
X