Pindah ke Bandung dan Vaksin Kering

- Minggu, 31 Januari 2021 | 10:41 WIB
Perkakas yang digunakan oleh Otten untuk membuat vaksin kering.
Perkakas yang digunakan oleh Otten untuk membuat vaksin kering.

Dalam tulisan pertama (1926), ia menyatakan antara lain bahwa dengan mengeringkan vaksin dan menyimpannya dalam vakum, dimungkinkan memperoleh vaksin yang punya resistensi yang tinggi terhadap virus: dalam suhu 360C dapat bertahan berbulan-bulan, pada suhu 41-450C bisa berminggu-minggu, dan pada 580C bisa beberapa hari. Bila vaksin kering tersebut disimpan pada suhu normal seperti di Bandung, vaksin dapat efektif digunakan selama setahun atau lebih.

Kemudian, dia menyatakan bahwa mempertahankan vacuum berarti pula perawatan terhadap kualitas vaksinnya, bila vakumnya tidak berfungsi atau hilang maka hilang pula efektivitas vaksinnya. Dari pelbagai metode preparasinya, pada suhu ruangan sangatlah mudah, sementara untuk produknya (kamer-vaccine), metode yang digunakannya lebih rumit (frigolo- en vries-vaccine). Otten juga menyebutkan bahwa vaksin kering dapat digunakan ke daerah-daerah terpelosok dan terluar di kepulauan Nusantara.

Selanjutnya dalam tulisan kedua (1932), Otten menyatakan lebih jauh ihwal vaksin kering. Pertama, ia menyatakan bahwa preparasi untuk kelenjar getah bening kering (dry lymph), meskipun secara teknis lebih rumit dan memakan waktu daripada kelenjar gliserin, dapat dilakukan di mana-mana. Kedua, katanya, perkembangan vaksin yang diinokulasikan pada kerbau telah dapat dilakukan dengan kecapatan bermacam-macam tetapi biasanya maksimalnya tercapai setelah 3 hari.

Ketiga, vaksin kering bila disimpan dalam vakum dimungkinkan punya resistensi yang tinggi terhadap virus yang lama: 580C untuk selama beberapa hari, 370C dan 420C untuk berbulan-bulan dan dalam suhu ruangan, bahkan di daerah tropis bisa bertahan bertahun-tahun. Sehingga aktivitasnya dapat dianggap tidak terbatas. Keempat, sekalinya dipersiapkan untuk digunakan dengan gliserin, aktivitasnya akan cepat berkurang, sehingga aplikasi bagi kelenjar getah bening yang mencair hanya terbatas maksimal pada 3 hari tanpa jeda.

Kabar selanjutnya terkait pengembangan vaksin kering oleh Otten dapat disimak dalam “Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1934” (dalam MDVG deel XXIV, 1935). Di situ disebutkan bahwa Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur Bandung sedang melanjutkan penyiapan vaksin kering secara besar-besaran, dan juga melakukan penyelidikan uji coba dengan acuan pada aktivitias antigenik virus tertentu dalam berbagai modifikasinya.

Sementara aplikasinya yang pertama kali, saya mendapati hal menarik. Dari tiga tulisan W. A. Collier paling tidak saya jadi punya dua titik berangkat. Pada dua tulisan awalnya (“Over de houdbaarheid van droge pokstof” dan “De houdbaarheid van verdunde koepokstof” dalam Medisch Maandblad, deel II, 3, 1949) disebutkan bahwa vaksin kering dibuat oleh Otten pada Maret 1930 kemudian disimpan di Batavia dan Bandung. Sementara pada tulisan ketiganya (“Dried Smallpox Vaccine. Preparation of Otten's Vaccine at the Pasteur Institute, Bandoeng, Indonesia” dalam Bulletin of the World Health Organization Vol.5 No.2, 1952) disebutkan bahwa vaksin kering yang dibuat berdasarkan metode Otten di Bandung telah digunakan di Indonesia sejak 1931.

Dalam tulisan pertama Collier juga ada informasinya menarik, yakni terkait jumlah vaksin cacar kering yang telah disediakan oleh Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur di Bandung antara tahun 1931-1948. Beberapa datanya dapat diungkapkan lagi sebagai berikut: Pada 1931, dosis yang diberikan sebanyak 147.000 untuk 13 distrik vaksin; 1932 sebanyak 149.775 untuk  16 distrik; 1933 sebesar 356.800 vaksin untuk 32 distrik; 1934 sebesar 452.800 vaksin untuk 37 distrik; 1935 sebanyak 420.900 vaksin untuk 44 distrik; dan 1936 sebanyak 539.600 vaksin untuk 47 distrik. Data-data tersebut menunjukkan peningkatan jumlah vaksin yang diproduksinya sebagaimana yang diungkapkan dalam “Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1934” sekaligus distrik vaksinnya – yang termasuk ke dalam konsep sistem pencacaran – meningkat terus setiap tahunnya.

Dengan peningkatan-peningkatan tersebut tidak aneh bila Collier (“Over de houdbaarheid van droge pokstof”, 1949) mengatakan bahwa di Hindia Belanda tidak mungkin lagi memberantas wabah cacar tanpa menggunakan secara ekstensif vaksin kering yang dikembangkan oleh Otten. Sebab-sebabnya, sudah jelas seperti yang dinyatakan oleh Otten dalam kedua tulisannya, dan juga diulangi oleh Collier dalam tulisannya: ketahanan vaksin kering pada suhu tropis.

Kesuksesan pemberantasan dengan menggunakan vaksin kering dapat dilihat dari terus menurunnya kejadian wabah cacar di Hindia Belanda, terutama di Pulau Jawa dan Madura. Pada “Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1935” (dalam MDVG deel XXV, 1936) dinyatakan bahwa kasus cacar yang terjadi pada 1935 di Jawa dan Madura berjumlah 10 kasus, sebelumnya pada 1934 ada 4 kasus. Sementara di luar Jawa-Madura, ada 32 kasus pada 1935, dan 5 pada 1934.

Pada laporan yang sama untuk tahun 1936 (“Jaarverslag Dienst der Volksgezondheid in Nederlandsch-Indië 1936” dalam MDVG deel XXVII, 1938) disebutkan hanya ada satu kasus cacar yang dilaporkan terjadi di Jawa dan Madura. Di luarnya, pada 1936 ada 79 kasus cacar, meningkat lebih dari dua kali lipat dari 1935.  Setahun kemudian, dilaporkan bahwa pada 1937 tidak ada kasus cacar yang terjadi di Jawa dan Madura, kecuali satu kasus impor fatal yang terjadi di Surabaya (“Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1937” dalam MDVG deel XXVIII, 1939).

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

Pendidikan Islam Melahirkan SDM Unggul dan Berkualitas

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:24 WIB

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X