Kuliner Bandung yang Tak Tergoyahkan

- Senin, 7 Desember 2020 | 14:43 WIB
Warga mengikuti lomba olahan dari singkong dan ubi dalam festival sahui (sampeu dan hui/singkong dan ubi) di Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (30/8/2020). Kegiatan yang digagas oleh mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN SGD Bandung bersama Kampung Berseri Astra (KBA) Cidadap Ecovillage ini diharapkan bisa mendorong warga atau petani untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola hasil panennya sehingga dapat menghasilkan olahan atau resep baru makanan berbahan singkong dan ubi.
Warga mengikuti lomba olahan dari singkong dan ubi dalam festival sahui (sampeu dan hui/singkong dan ubi) di Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (30/8/2020). Kegiatan yang digagas oleh mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN SGD Bandung bersama Kampung Berseri Astra (KBA) Cidadap Ecovillage ini diharapkan bisa mendorong warga atau petani untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola hasil panennya sehingga dapat menghasilkan olahan atau resep baru makanan berbahan singkong dan ubi.

AYOBANDUNG.COM -- Salah satu hal menarik dan tak bisa lepas dari benak siapapun, khususnya bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung adalah kuliner yang ada di kota ini. Kekayaan kuliner yang dimiliki kota ini merupakan anugerah tersendiri yang bisa jadi tak dimiliki daerah lain. Keunikan dan jenis makanan atau minuman yang ada menjadi kekuatan tersendiri yang tak terbantahkan dan membuat nama Kota Bandung menjadi sebuah kota yang sayang kalau tidak dikunjungi.

Banyaknya toko oleh-oleh di Kota Bandung ataupun penjualnya langsung baik yang mengambil lokasi outdoor maupun yang memakai lokasi indoor seperti kedai atau toko telah menjadi titik sentral jenis-jenis kuliner itu, sehingga semakin banyak dikenal orang dari berbagai penjuru neger bahkan dikenal pula di mancanegara. Uniknya, Bandung tak sekadar menampilkan satu jenis kuliner yang menjadi andalan tapi malah beragam dan menjadi  daya pikat siapa saja yang berkunjung ke kota ini, baik untuk camilan saat berwisata maupun menjadi oleh-oleh saat pulang ke rumah masing-masing.

Kuliner Bandung">Kuliner Bandung sendiri telah menjadi daya jual bernilai tinggi yang sulit terbantahkan oleh siapapun. Karenanya kini banyak pengelolaan untuk penjual kuliner ini tidak asal saja secara kovensional, melainkan kini kuliner Bandung dijual dengan kemasan unik dan juga layanan yang menarik. Tentu saja ini menjadi nilai tambah saat kuliner-kuliner itu dijajakan kepada para pelancong atau mereka para penikmat kuliner itu sendiri. Dengan begitu maka mereka semua lidahnya akan selalu dimanjakan saat menikmati kuliner yang dipilihnya.

Dengan begitu, potensi semacam ini jelas potensi yang harus diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan pendapatan yang akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.  Bandung selain memiliki peninggalan bersejarah gedung-gedung tempo dulu atau lokasi taman-taman yang telah dibangun masa Wali Kota Ridwan Kamil, ternyata memiliki keunggulan kuliner yang tak tergoyahkan. Bahkan uniknya, memunculkan nama-nama yang terbilang unik dan memiliki kesan khusus bagi mereka yang mendengarkannya.

Es Goyobod, Peueyeum Bandung, Colenak, Cireng, Cilok, Seblak, Batagor, Bandrek atau Bajigur termasuk nama yang tak ada bandingannya. Dari namanya saja sudah tampak kekhasan dan keunikan. Dengan begitu tak mengherankan jika banyak orang yang kemudian penasaran ingin menikmatinya. Inilah hal yang tak bisa terbantahkan jika kuliner khas Bandung ini menjadi primadona dan sosok andalan untuk pengembangan potensi ekonomi yang ada.

Kita sendiri bisa melihat semua itu di dekat bandara, terminal-terminal, pusat pertokoal atau mal sentra-sentra kuliner itu sendiri yang dikondisikan sebaga foodcourt atau ada juga yang dijajakan menggunakan foodtruck. Bahkan ada juga yang menjajakan kuliner tersebut dengan gerobak keliling atau gerobak yang sengaja mangkal di sebuah tempat. Kondisi ini jelas sangat memanjakan para penikmat kuliner karena apa yang mereka inginkan akan semakin mudah untuk dijangkau. 

Tentu saja jika hal ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia pariwisata dan budaya, maka pengembangan khazanah kuliner seperti ini menjadi penting karena beririsan dengan kegiatan kepariwisataan serta pertumbuhan ekonomi sendiri. Bahkan kuliner Bandung dapat dianggap sebagai kuliner yang memasyarakat selain kemasan yang unik  juga  harganya terjangkau. Dengan adanya kedua hal tersebut tak salah jika kemudian orang bergitu berlomba-lomba untuk bisa menikmatinya. Terlebih rata-rata penjual kuliner di Kota Bandung memiliki keramahan, sebab biasanya orang-orang bersuku Sunda mah biasa someah ke semah (ramah kepada tamu,pen). Jadi kalau ada yang tidak ramah atau malah kadang menjual dengan harga tinggi, bisa saja penjualnya tak tahu filosofi tadi.     

Karenanya sayang jika kondisi ini telah ada tak dirawat sebaik mungkin.  Maka para penjual kuliner yang ada jangan sampai kesannya tak memiliki pelayanan yang terbaik kepada mereka para penikmat kuliner termasuk wsiatawan yang berkunjung ke Kota Bandung. Malah ada baiknya sebisa mungkin melakukan inovasi serta memberikan pekayanan yang baik agar merak semua tidak kapok saat membeli dan menikmati kuliner tersebut. Karena jika hal ini tercipta secara baik maka citra kuliner Bandung akan semakin eksis di jagat perkulineran nasional atau bahkan perkulineran internasional. 

Karenanya sejak saat ini maka mesti dipikirkan cara pengembangan usaha kuliner tersebut karena zaman semakin hari akan semakin maju. Hal ini telah menandakan pula bahwa mereka yang terjun menjadi pengsuaha kuliner Bandung tak bisa tinggal diam dengan kondisi yang ada saat ini, melainkan meski berbenah diri dan melakukan terobosan untuk pengembangan usahanya agar tetap eksis di era persaingan yang terjadi. Kini tak bisa lagi sekedar mengandalkan nama besar melainkan harus tetap mampu pula memberikan pelayanan yang terbaik. 

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB

Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB

Jual Beli Jabatan Menjerat Walikota Tanjungbalai

Jumat, 10 September 2021 | 16:42 WIB

Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB

Vigilantisme Media Sosial

Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB

Memahami Pemilihan Perdana Menteri Jepang

Senin, 6 September 2021 | 22:28 WIB
X