Kehilangan Ponsel Menjelang Akhir Tahun

- Jumat, 27 November 2020 | 09:01 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

AYOBANDUNG.COM -- Hari Jumat, 14 Desember 2018 pukul 02.30 WIB saya terbangun seperti biasa untuk melakukan salat malam. Saya siswi madrasah aliyah kelas 2 yang tinggal di pondok kecil agar tidak menempuh waktu lama sampai ke madrasah. Namun saya sangat terkejut melihat pintu kamar di pondok terbuka lebar serta kabel charge ponsel di luar pintu. Saya langsung bangun dan mencari ponsel yang semalam dicharge di stop kontak. Namun apa daya ponsel itu sudah tak ada, hanya tersisa kabel charge yang berada di depan pintu. Saya kemudian membangunkan teman sekamar untuk membantu mencari ponsel yang tak ada. Ternyata tak hanya ponsel milik saya tapi juga milik dua teman yang lain.

Setelah keluar kamar saya melihat bahwa pintu gerbang utama tidak terkunci dan terbuka lebar. Saya lalu bertanya kepada teman yang semalam pulang agak larut malam. Dia mengatakan bahwa lupa mengunci pintu gerbang dan pintu kamar saat kembali ke pondok. Karena sudah merasa sangat capek maka langsung tertidur sepulang dari kegiatan malam di luar tanpa menguncinya kembali, padahal para pengurus sudah mengingatkan siapa yang terkhir wajib menguncinya. Seketika itu setelah mendengarkan perkataannya saya langsung tersungkur lemas, takut, menangis, sedih, serta bingung harus bagaimana.

Saya bingung karena semua nilai tugas-tugas untuk disetorkan pada pagi itu hilang semuanya. Saya juga takut dimarahi oleh ibu, karena baru 40 hari ponsel itu dibelikan untuk menunjang pembelajaran saya selama sekolah. Sekitar pukul 03.25 WIB, saya berinisiatif untuk membangunkan petugas pondok saat itu. Lalu saya melaporkan dan menceritakan apa yang telah terjadi dan pengurus pondok juga membantu dalam pencarian. Namun pencarian tersebut belum membuahkan hasil yang maksimal sehingga ponsel saya tidak bisa ditemukan.

Saya juga merasa agak kesal kepada teman-teman yang pulang larut malam, mereka juga penyebab hilangnya ponsel kami sebab tidak mengunci gerbang utama dan pintu kamar. Yang disayangkan adalah mereka tidak merasa bersalah sedikitpun atau mengucapkan kata maaf. Saya sangat sedih sekali, karena mereka begitu cueknya tanpa ada perasaan ingin mengucapkan maaf atau bagaimana.

Lalu saya memberi tahu ibu untuk menjemput dan setelah ibu sampai di pondok, saya menceritakan semunya, awalnya ibu marah dan terlihat sangat kecewa serta kesal sebab ulah keteledoran yang saya lakukan. Namun akhirnya ibu meminta izin kepada pengurus pondok untuk mengizinkan saya pulang. Ketika  sampai di rumah ibu menasihati saya untuk lebih berhati-hati dan ibu akhirnya menerima kejadian tersebut dengan lapang dada.

Akhirnya saya  berusaha ikhlas dan lapang dada bahwa memang belum diizinkan Allah untuk memiliki ponsel tersebut lebih lama. Kemudian semenjak itu saya belum kembali ke pondok lagi karena masih takut dan trauma. Mulai saat itu kembali menabung agar bisa membeli ponsel untuk menunjang pembelajaran lagi.  Di era kemajuan teknologi  semua diakses melalui ponsel pintar.

Setelah beberapa lama di rumah untuk menenangkan diri, saya kembali ke pondok untuk mengemasi barang lalu berpamitan kepada pengurus pondok, teman-teman, serta mengucapkan terima kasih atas semuanya. Saya pun memaafkan teman-teman agar bisa tenang dalam menjalani hari-hari tanpa memendam perasaan benci pada mereka.

Sejak saat itu saya jadi lebih berhati-hati menaruh barang atau yang lainnya, menjadi sedikit panikan apabila lupa dalam menaruh sesuatu meskipun  barang sepele. Saya menjadi takut terhadap orang-orang baru setelah kejadian tersebut. Dan sampai saat ini perasaan bersalah kepada ibu karena menghilangkan ponsel tersebut masih ada, meskipun kejadian itu sudah terjadi dua tahun lalu ketika saya kelas 2 madrasah aliyah.

Pesan cerita ini adalah kita harus berhati-hati dalam meletakkan barang berharga apa pun, karena kehilangan bisa kapan pun serta kepada siapa pun. Jangan lupa setiap kehilangan  memberikan pelajaran dan pengalaman yang besar untuk diri kita agar lebih bersyukur  memiliki sesuatu. Bersabar serta berlapang dada apabila mendapat cobaan kehilangan.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Menyelesaikan Pandemi dengan Keimanan, Rasionalkah?

Jumat, 24 September 2021 | 22:58 WIB

Boring Daring, Saatnya Belajar Luring!

Jumat, 24 September 2021 | 19:56 WIB

Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB

Alasan Wajib Bangga Menjadi Orang Bandung

Kamis, 23 September 2021 | 18:27 WIB

Buruk Pengelolaan Lapas di Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 17:28 WIB

Meragukan Keampuhan Strategi Joe Biden

Kamis, 23 September 2021 | 16:47 WIB

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB
X