Raffles, Cacar, dan Sawah Jennerian

- Selasa, 17 November 2020 | 08:26 WIB
Raffles mengintensifkan upaya pemberantasan cacar melalui vaksinasi saat menjabat sebagai Letnan Gubernur Jawa antara 1811-1816.
Raffles mengintensifkan upaya pemberantasan cacar melalui vaksinasi saat menjabat sebagai Letnan Gubernur Jawa antara 1811-1816.

Thomas Stamford Raffles (1781-1826) pulang berlayar ke Inggris pada 25 Maret 1816.

Letnan Gubernur Jawa ini selama sekitar enam tahun sempat tinggal di Pulau Jawa di masa pendudukan Inggris yang singkat (The British Interregnum) antara tahun 1811 hingga 1816.

Sekembali ke Inggris, sebelum berangkat ke Hindia sebagai Letnan Gubernur Bencoolen (1818-1824), Raffles sempat melakukan korespondensi dan mengunjungi penemu vaksin cacar, Edward Jenner (1749-1823). Topik bahasan surat dan kunjungan Raffles memang berkaitan intensifikasi pemberantasan wabah cacar melalui vaksin yang ditemukan Jenner.

Salah satu bukti korespondensi Raffles-Jenner itu mengemuka dalam salah satu surat bertitimangsa Berkley, 5 September 1816, yang dikirimkan Jenner kepada Dr. B.W. Coley di Cheltenham, Inggris.

“Saya sangat terbantu oleh Anda karena komunikasi ihwal pemerkenalan vaksin ke Pulau Jawa, dan saya mohon untuk menghaturkan selamat dan terima kasih kepada Tuan Raffles atas suratnya yang sangat menggugah mengenai vaksin, dan menyakinkan kepadanya betapa saya bahagia dan merasa sangat terhormat mendapatkan kunjungannya di Berkeley …,” demikian antara lain yang ditulis Jenner, sebagaimana yang saya simak dari buku The life of Edward Jenner, with illustrations of his doctrines, and selections from his correspondence (1838: 188-189) karya John Baron.

Dr. Coley, yang merupakan dokter bedah angkatan laut Kerajaan Inggris serta mantan dokter dan ahli bedah di Rumah Sakit Angkatan Laut di India (Surgeon, Royal Navy, and late Physician and Surgeon of a Naval Hospital in India, Cambray Parade berdasarkan buku A general Cheltenham guide [1818:106] karya J K. Griffith), pasti sebelumnya pernah berkomunikasi, bahkan bertemu, dengan Raffles.

Ini terlihat dari surat yang dikirimnya dan dimuat dalam Medico-Chirurgical Journal; or, Quarterly Register of Medical and Surgical Science Volume 3(14), edisi Februari 1817 (170-171). Dalam pengantar surat bertitimangsa Cheltenham, 10 Desember 1816, yang ditujukan kepada editor jurnal kesehatan tersebut, Coley menulis: “Kemajuan vaksinasi merupakan pokok obrolan yang menarik bagi orang Inggris, karena penemuannya pun memang milik kita pula; oleh karena itu, saya mengirimkan sisipan untuk jurnal yang Anda kelola, berupa cacatan mengenai keadaan vaksinasi yang berjalan baik di Pulau Jawa, yang saya peroleh dari otoritas paling tinggi.”

Isi sisipan tersebut berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh Raffles di Pulau Jawa demi mengintensifkan pembasmian wabah cacar. Antara lain, Coley menyatakan “Dalam kerangka mengelola pajak dari negeri itu, bagian-bagian lahan tertentu yang termasuk masing-masing desa, dibangun terpisah untuk mendukung penegakan vaksin; dan sejumlah mantri cacar pribumi dipilih di setiap distrik. Mantri-mantri cacar tersebut di bawah pengawasan langsung para dokter bedah Eropa, yang juga memberikan bayarannya dari pajak tanah; Pemerintah Inggris telah membatalkan haknya bagi pelembagaan ini. Jumlahnya sekitar satu persen dari pajak keseluruhan negeri itu; dan sebagai tanda hormat serta pujaan bagi Dr. Jenner, tanah atau sawah itu dijadikan Sawah Jennerian, dan diakui di semua daftar nama penyewa di negeri itu; kata Jennerian, dipadukan sedemikian rupa dengan bahasa negeri itu, dalam arti menjadi bersatu padu. Dengan pengaturan ini, setiap orang semestinya mengagumi rasa klasik Gubernur Jawa, sehingga mengabadikan nama Jenner, and kemampuan yang ditampilkannya dalam pendirian lembaga yang begitu baru dan bertahan lama.”

Memang Coley mengakui bahwa Raffles bukan orang pertama kali yang memperkenalkan vaksinasi ke Hindia Belanda. Katanya, “Vaksinasi telah diperkenalkan ke bagian timur Pulau Jawa di masa kekuasaan Belanda, tetapi tidak ada perencanaan umum yang diadopsi untuk menyebarkan keuntungan besar vaksinasi ke seantero negeri itu atau membuatnya menjadi permanen. Sungguh, beberapa waktu sebelum pengukuran untuk mengetahui pengaruh vaksinasi telah dilakukan Inggris, dan hanya karena pemerkenalan sistem baru pemerintahan yang memungkinkan vaksinasi dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan.”

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X