C.L. Blume: “Djelma Bodas” dan Vaksinasi Cacar

- Senin, 2 November 2020 | 09:24 WIB
C.L. Blume si djelma bodas yang menggelari dirinya sendiri sebagai Rumphius Secundus alias Rumphius Kedua.
C.L. Blume si djelma bodas yang menggelari dirinya sendiri sebagai Rumphius Secundus alias Rumphius Kedua.

Secara rinci, jumlah orang yang divaksinasi cacar di Tatar Sunda pada 1820 menurut Blume adalah sebagai berikut: Banten (7.849 orang), Batavia (1.283 orang), Bogor (3.567 orang), Priangan (12.672 orang), Krawang (975 orang), dan Cirebon sebanyak 5.750 orang. Secara keseluruhan, jumlah yang divaksinasi cacar pada tahun 1820 di Pulau Jawa sebanyak 27.915 orang (De geneeskunde in Nederlandsch-Indië gedurende de negentiende eeuw, 1936, karya D. Schoute).

Pada 11 Juni 1822, Blume diteguhkan sebagai inspektur vaksin sekaligus pekerjaan yang berkaitan dengan kesehatan lainnya. Selain urusan vaksinasi cacar dan riset botaninya, atas permintaan Reinwardt, Blume diangkat sebagai direktur Kebun Raya Bogor (‘s lands planten-tuin te Buitenzorg) pada bulan Juni 1822 (Bataviaasche Courant, 15 Juni 1825). Setahun kemudian, pada 12 Agustus 1823, dia diangkat sebagai komisaris dinas kesehatan masyarakat.

Beberapa bulan kemudian, Blume menerbitkan jumlah orang yang divaksinasi cacar. Khusus untuk di Tatar Sunda, ia mencatat bahwa antara tahun 1822 dan 1823 di Banten ada 10.815 dan 4.288 orang yang divaksinasi; Batavia (6.025 dan 5.452 orang); Bogor (3.333 dan 2.371 orang); Priangan (22.865 dan 23.395 orang); Karawang (1.072 dan 1.092 orang); dan Cirebon (9.357 dan 8.037 orang). Total orang yang divaksinasi di Pulau Jawa pada 1821 sebanyak 134.025 orang dan pada 1822 sebanyak 119.596 orang. (Leydse Courant, 10 Oktober 1823).

Dalam kerangka penyebarluasan informasi kesehatan, Blume juga menulis dalam koran. Di antaranya dia menulis “Epidemic onder de buffels” (Bataviaasche Courant, 10 Jan. 1824) mengenai wabah yang menerjang kerbau dan “Inlandsche middelen tegen diarrheen” (Bataviaasche Courant, 23 Febr. 1825) mengenai resep pribumi untuk mengobati diare. Ditambah dengan keterlibatannya di lingkungan Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen. Pintu masuknya adalah saat dia secara resmi terdaftar sebagai anggota biasa (gewone leden) kala Perhimpunan Batavia untuk Ilmu Pengetahuan dan Seni itu melakukan rapat pada 7 Oktober 1823 (Nederlandsche Staatscourant, 16 Maret 1824).

Pada 26 Juni 1826, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengizinkan Blume untuk mengambil cuti besar ke Belanda selama dua tahun. Dua tahun kemudian, 1828, dia mengundurkan diri sebagai kepala Dinas Kesehatan Masyarakat, sehingga Blume tidak kembali lagi bekerja di Pulau Jawa. Gantinya, dia melanjutkan kerjanya di bidang botani.

Yang menarik sepanjang kariernya sebagai inspektur vaksin dan pengelana, Blume menaruh hormat dan memberi simpati terhadap nasib pribumi, bahkan menganggapnya sebagai sesama warga negara Hindia Belanda. Pada 1829, buktinya, dia pernah mengirimkan surat kepada gubernur jenderal Hindia Belanda yang berisi mengenai usul agar penghapusan candu. Penghormatan kepada pribumi di antaranya adalah penggunaan nama Bapa Santir, orang Sunda yang menemani Blume berkeliling Gunung Salak, untuk genus tumbuhan Santiria (Flora Javae, jilid IV, 1828).

Sebaliknya, F.W. Junghuhn yang dianggap sangat progresif, liberal, berpikir bebas, melecehkan Bapa Santir yang dianggapnya hanyalah kuli, tukang angkut barang (Java: deszelfs gedaante, bekleeding en inwendige structuur, jilid II, 1853). Padahal, barangkali Bapa Santir itu pandai, pribumi yang sangat ahli tanaman, mengetahui nama Sundanya, dan gunanya, dan banyak menolong Blume. 

Blume yang dinaturalisasi menjadi warga negara Belanda sejak 1851 itu meninggal di dunia di Leiden pada 3 Februari 1862, setelah mengidap penyakit sejak lama. Karya-karya monumentalnya di bidang botani ada delapan judul, yaitu Catalogus, Bijdragen, Enumeratio, Flora Javae, Rumphia, Museum Botanicum, Flora Javae, dan Nova Series  serta satu karya tulis mengenai kolera di Asia (Over de Asiatische cholera, uit eigene waarnemingen en echte stukken, 1831).

Barangkali dengan kematian Blume masih ada orang pribumi yang meneriakinya sebagai djelma bodas tetapi mungkin juga ada yang mengangkat topi dan menundukkan kepala seperti Bapa Santir.

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB
X