C.L. Blume: “Djelma Bodas” dan Vaksinasi Cacar

- Senin, 2 November 2020 | 09:24 WIB
C.L. Blume si djelma bodas yang menggelari dirinya sendiri sebagai Rumphius Secundus alias Rumphius Kedua.
C.L. Blume si djelma bodas yang menggelari dirinya sendiri sebagai Rumphius Secundus alias Rumphius Kedua.

“Tuan Blume bekerja keras meluaskan upaya vaksinasi cacar di lingkungan Jasinga; biasanya saya mengikutinya hingga pelosok-pelosok kampung, beberapa di antaranya pemandangannya sangatlah indah. Kampung Putte (sic) pun kami kunjungi dan penduduknya kami temui tengah berkumpul di bawah naungan pohon sangat rimbun. Saat kami sambangi, penduduk langsung bubar, dan menyoraki kami dengan teriakan ‘djelma bodas’ (kulit putih)”.

Kutipan di atas saya temukan dalam Verschillende Reizen en Lotgevallen, van P. P. Roorda van Eysinga (III, 1832: 17). Kutipan yang dialih-bahasakan secara bebas dengan bantuan aplikasi terjemahan itu menyatakan peran penting Dr. C.M.L. Blume (1796-1862). Latar belakang dan kariernya di bidang kesehatan dan ilmu alam, saya baca dari tulisan karya C.G.G.J. van Steenis (“Dedicated to the memory of Carl Ludwig Blume”) dalam Flora Malesiana Series 1, Volume 10 yang dieditori C.G.G.J. van Steenis dan W.J.J.O. De Wilde (1989: 7-40). Di samping tentu saja ditambah bahan-bahan lainnya.

Menurut Steenis, Blume dilahirkan di Brunswick (Jerman) pada 9 June 1796. Ayahnya saudagar bernama Christiaan Nicolaas Ludwig Blume dan ibunya Melusine Caroline Sophie Drechsler. Blume yang sudah menjadi yatim piatu saat berusia lima tahun, sangat tertarik belajar farmasi dan membaca catatan perjalanan ke negeri-negeri asing. Antara 1813 hingga 1817, dia bergabung ke dunia militer dengan menjadi anggota pasukan Liitzowsche Jagercorps melawan Prancis, sebagai apoteker militer bagi pasukan medis tentara Belanda (1814), anggota pasukan ambulans divisi dua pasukan mobil Belgia (1815), dan apoteker di rumah sakit Den Helder dan Leiden (hingga 1817).

Minatnya untuk memperdalam sejarah alam dan pengobatan didukung keuangan dari Duchess Braunschweig dan bimbingan dari S.J. Brugmans. Pada 9 Juli 1817, Blume lulus sebagai doktor di bidang kesehatan dari Leiden. Setelah kembali bekerja di rumah sakit, pada 28 Maret 1818 dia diangkat menjadi perwira kesehatan kelas dua pada pasukan Hindia Belanda dan pada 28 Mei 1818 diangkat sebagai kelas satu.

Pada 11 Januari 1819, setelah tiba di Batavia, Blume diangkat sebagai wakil direktur bagi C.G.C. Reinwardt yang mengepalai dinas pendidikan, dinas kesehatan, pertanian, seni, dan penyelidikan ilmiah. Tempat tinggalnya menumpang di rumah Reinwardt di Bogor, sekaligus memperkaya koleksi Kebun Raya Bogor. Saat itu, pemerintah Hindia Belanda tengah memerangi wabah yang lazim melanda pribumi, yakni cacar, tifus, dan kolera. Oleh karena itu, semua pegawai negeri, termasuk agamawan pribumi, diwajibkan memahami seraya sama-sama mempromosikan pentingnya vaksinasi.

Ini nampak dari keputusan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen yang menerbitkan Resolutie in Rade dd. 11. April 1820. Di dalamnya disebutkan bahwa wabah cacar di Pulau Jawa harus diberantas. Dalam pelaksanaannya kalangan agamawan dan pejabat pribumi diangkat dan dibayar untuk menerangkan mengenai vaksinasi cacar kepada pribumi yang tidak mengetahui atau menolak upaya tersebut (Indie ter Bevordering der Kennis van Nederlands Oosterche Bezittingen, in het Nederduitsch en Maleisch [Boek III, Deel I, 1843: 116] karya P.P. Roorda van Eysinga).

Dalam hal ini, termasuk pula Blume. Bahkan, dengan Resolusi 11 April itu, dia diangkat sebagai inspektur vaksinasi cacar (inspecteur over de koepok-inenting atau de inspecteur der vaccine). Pada tahap awal, dia menginformasikan kepada pemerintah agar menggunakan tanaman asli di Hindia Belanda daripada menggunakan obat yang diimpor dari Eropa, karena sering hilang nilainya selama perjalanan lama di lautan.

Mula-mula dia melakukan perjalanan di Tatar Sunda untuk mendata orang, memvaksinasi cacar, dan mengumpulkan spesimen flora yang ada. Dalam praktiknya, dia ditemani pembantu, termasuk pribumi, juru gambar, dan orang-orang yang punya minat sama untuk pergi ke lapangan. Dia melakukan pengamatan di tempat, bertanya-tanya kepada penduduk pribumi mengenai manfaat tumbuhan sekaligus nama lokalnya, termasuk tanaman-tanaman yang berpotensi sebagai obat, mengumpulkan serangga dan hewan lainnya, memeriksa wabah, menaruh minat pada ihwal tanah, sumur air mineral, membuat catatan bagi riset lapangannya, dan lain-lain.

Pendataan jumlah orang ada yang telah divaksinasi dilakukannya melalui jalan memasang pengumuman di surat kabar. Pada 17 Januari 1821, Blume mengundang para dokter dan ahli bedah untuk mengiriminya data jumlah orang yang pernah divaksinasi oleh mereka selama tahun sebelumnya (Bataviasche Courant, 27 Januari 1821). Hasilnya, antara lain dapat dilihat dari dari keterangan yang diberikan pengawas H. L. Bruinings yang memberikan data jumlah orang yang divasksinasi cacar di Priangan, yakni sejumlah 15.672 orang. Dengan catatan, wabah cacar saat itu hanya terjadi di satu kabupaten di Priangan dan berharap upaya vaksinasi terus diperluas (“Mengelingen: Door den inspecteur der vaccine is aan Zijne Excellentie den Secretaris van Staat Gouverneur Generaal over Nederlandsch Indië, ingezonden het navolgend verslag van den staat der vaccine”, dalam Bataviasche Courant, 13 Oktober 1821).

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Khasiat Air Kelapa untuk Kesehatan

Rabu, 8 Desember 2021 | 13:42 WIB

Pendidikan Islam Melahirkan SDM Unggul dan Berkualitas

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:24 WIB

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB
X