Mantra dan Ritual Cacar

- Minggu, 18 Oktober 2020 | 18:27 WIB
Dua pustaka yang memuat mantra dan ritual pencegahan dan pengobatan cacar secara tradisional.
Dua pustaka yang memuat mantra dan ritual pencegahan dan pengobatan cacar secara tradisional.

Sepanjang yang saya baca, orang Sunda sudah mengenal urutan-urutan kemunculan penyakit cacar, berikut cara pencegahan, penanganan dan pengobatannya. Hal ini dimungkinkan karena pertautan orang Sunda dengan wabah cacar telah berlangsung sejak lama, sehingga dapat mengenali, berusaha untuk menanganinya, dan meneruskan kembali pengalaman pengenalan dan penanganan tersebut kepada generasi selanjutnya. Bila membaca pustaka terkait cacar di Tatar Sunda, pengetahuan tradisional ini terus bertahan hingga terbasminya cacar di tanah air pada tahun 1950-an.

Untuk pencegahannya ada jimat, mantra, dan lain-lain yang digunakan untuk menangkal datangnya penyakit cacar. Misalnya, C. Albers (“Uittreksel uit een brief van Br. Albers”, 1870: 109) mendapati seorang haji yang menggantungkan ekor harimau saat cacar berkecamuk, dengan harapan agar dirinya terbebas dari jurig kuris (hantu cacar). Sementara Achmad Djajadiningrat (Kenang-kenangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, 1936: 160) mengutarakan jimat dan tanaman yang dapat menolak cacar sebagai berikut:

“Dari Halim sahabat saya adalah saya menerima ‘azimat, tertulis diatas kertas, yang mesti saya lekatkan diatas pintu didalam rumah saya. Azimat, penolak cacar itu digambarkan sebagai bintang, namanya ‘Wafaq Suleiman’. Pada petak-petak yang tertulis pada gambar itu dituliskan: Suleiman, Muhammad, Umat, Usman, Ali, Abubakar. Gambar bintang itu, menurut keterangan Halim ialah cap Nabi Suleiman. Orang kebanyakan yang tidak beruang pembeli Wafaq Suleiman, meletakkan seranting ‘apa’ diatas pintunya. ‘Apa’ kata orang Bantam Utara, ialah sebangsa tanaman, sedang orang Sunda menamai tanaman itu ‘kihapa’. Daun-daunnya serupa buah-buahan yang hampa, rupanya itulah sebabnya maka dinamai kihapa; hapa, artinya hampa. Boleh jadi orang Bantam Utara mengambil nama “apa” itu dari kata Sunda ‘hapa’ juga, karena orang Jawa tidak memakai huruf h pada pangkal-pangkal perkataan”.

Tentu saja, pernyataan Albers dan Achmad Djajadiningrat di atas merupakan buah dari coba-coba beberapa lama untuk mencegah datangnya mala dari cacar melalui kekuatan folklor sebagian kelisanan, terutama kepercayaan. Ekor harimau bisa jadi dimaksudkan sebagai penanda untuk menakut-nakuti hantu cacar yang akan menyambangi. Demikian pula adanya azimat wafaq merupakan simbol kekuatan agama untuk mencegah wabah dan reranting ki hapa yang menjadi penanda kehampaan dari penyakit atau dengan kata lain kekebalan terhadap cacar.

Mengenai penanganan dan pengobatan cacar, keterangan yang dikumpulkan oleh F.D.E. van Ossenbruggen (“Eigenaardige gebruiken bij pokken-epidemieën in den Indischen Archipel”, 1911) dan Raden Ajoe Sangkaningrat, dkk. (Iets over hygiene in verband met adat geloof en bijgeloof van het Soendaneesche volk, 1927) sangat membantu membaca pengalaman orang Sunda selama berhubungan dengan cacar. Ossenbruggen membagi-bagi lokasi yang mempraktikkan penanganan dan pengobatan tersebut. Dalam uraiannya, ia menuliskan deskripsi dari Priangan, Banten, Banten Selatan, dan Bogor.

Di Priangan, menurut Ossenbruggen, anak penderita cacar tidak diperbolehkan makan makanan berlemak, orang tidak menghitung uang di rumah, tidak banyak berkata-kata, dan rumah agar terang terus. Orang yang terjangkit dimandikan dengan air yang telah dijampi-jampi (panimbulan), dengan harapan bintil-bintil cacarnya muncul berisi (beuneur) tidak kempis hampa (hapa). Bila telah kering harus diserahkan kepada ibunya atau pelayan. Pengobatan selanjutnya adalah dengan memanggil dukun untuk merapalkan mantra cacar (jampe kuris), dan melakukan ngalungsur, yaitu mencampurkan tepung beras dengan cikur (kencur) dan garam dengan air. Selanjutnya saat sore harus ngarawun atau membakar bahan apapun yang berbau, karena dianggap dapat menyingkirkan hantu cacar, dan asapnya diarahkan ke dalam rumah. 

Sementara seorang atau dua orang tua menjaga orang yang sakit dengan bersenjatakan lima atau tujuh pelepah aren, yang sewaktu-waktu si sakit mengeluh atau menjerit, pelepah tersebut harus dipukul-pukulkan ke udara. Setiap satu jam atau dua jam harus ada orang yang mengelilingi rumah dan memukul-mukulkan pelepah tersebut. Langit-langit rumah dipasangi daun nanas dan kapur putih, jukut palias (sejenis rumput), dan bawang. Hal yang sama harus dipasang di sudut-sudut rumah dan di samping jendela. 

Di depan rumah harus diberi tanda silang (cakra) dengan kapur. Selama wabah terjadi, lebih baik tidak berjalan dalam gelap, atau membiarkan pintu tetap terbuka, karena jurig kuris dapat muncul berupa seekor anjing hitam. Untuk mengusir hantu cacar, orang kauman (kalangan agamawan Islam) akan berkeliling rumah penderita, keliling kampung atau kota, seraya membaca ayat-ayat Al-Qur’an, yang biasanya diawali dengan suku kata qul la yu qi ba na, sehingga disebut sebagai kulayu.

Kemudian di Banten dikenal mantra pengusir cacar yang menyebutkan nama-nama hantu cacar, harapan agar tidak mengganggu manusia, dan permintaan menjauh ke ladang-ladang atau tempat kembara badak, sebagai berikut: Ki tumenggung langkung gunung, ki demang langkung pasir, ki lebe karahaan, sang kulincir putih, si toong, si depong, si colek, si letek, si uwek-uwek, ulah barangirak sinigawe sia ka urang manusa! Aing geus nyaho di ngaran sia! Los ka ditu ka tegal papak ka pamahpalan badak, istan, istan, istan!” 

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB

Asa di Fenomena Citayam Fashion Week SCBD

Rabu, 20 Juli 2022 | 15:38 WIB

Musim Kondangan dan Fenomena Amplop Digital

Selasa, 19 Juli 2022 | 19:30 WIB
X