Hantu Cacar

- Jumat, 9 Oktober 2020 | 10:11 WIB
Salah satu buku yang membahas hubungan antara higienitas dengan adat istiadat masyarakat Sunda karya R.A. Sangkaningrat, dkk. (1927).
Salah satu buku yang membahas hubungan antara higienitas dengan adat istiadat masyarakat Sunda karya R.A. Sangkaningrat, dkk. (1927).

AYOBANDUNG.COM -- “Cacar diciptakan pada zaman prasejarah melalui mutasi ganjil, dari fiksi fantasi. Hal ini menyebabkan adanya transformasi virus majal yang menjangkiti tikus gerbil menjadi pembunuh paling ganas dalam sejarah ras manusia. Dari kelahiran peradaban manusia, cacar adalah kekuatan merusak yang begitu digdaya sehingga diberi status sebagai seorang dewa. Hingga abad ke-19, cacar adalah Malaikat Kematian yang mengangkangi undian hidup, menyapu habis seseorang dalam tiga kali dan membunuh setengah dari korbannya”.

Dengan tepat Gareth Williams (Angel of Death: The Story of Smallpox, 2010: xvii) menggambarkan bahwa cacar dianggap mempunyai kekuatan yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia (adikodrati). Dalam pelbagai peradaban di dunia pun memang terbukti demikian. Di India dan Nepal, cacar dianggap sebagai perwujudan Dewi Sitala atau Sitala Mata (yang bermakna harfiah yang dingin atau keren) karena dianggap yang membawa cacar sekaligus yang menolong orang yang menderita penyakit tersebut. Ia digambarkan menunggang keledai sambil membawa kendi dan sapu (The Life and Death of Smallpox, Ian Glynn dan Jenifer Glynn, 2005: 10; Williams, 2010: 3-4).

Di Afrika Barat, terutama dalam budaya Yoruba, cacar dianggap sebagai Shapona, dewa pengendali dunia dengan wajah seram dan pendek gemuk; di Tiongkok disebut sebagai Chu’an Hsing Hua Chieh, dewa yang sedang menunggang kuda (Williams, 2010: 3-4). Sementara bagi penduduk asli Benua Amerika, cacar adalah anak-anak panah gaib bagi nasib yang naik pitam (Smallpox: A History, S.L. Kotar dan J.E. Gessler, 2013: 5).

Ketakjuban terhadap cacar juga tercermin dari sejumlah nama yang memperlihatkan pesonanya. Menurut Williams (2010: 2), cacar mempunyai nama-nama figuratif seperti “Angel of Death”, “Destroying Angel”, “tian hua” dalam bahasa Mandarin yang berarti “bebungaan surgawi” dan bisa jadi merupakan bentuk eufemisme bagi ruam dan alusi kepada dewa cacar, “boginje” yang berarti dewi-dewi dalam bahasa Serbo-Kroasia, “eulogia” dalam bahasa Yunani yang berarti berkah, dan “koze” dalam bahasa Slovenia yang berarti kambing.

Demikian juga yang berkembang di Nusantara. Sebagaimana yang ditelusuri oleh Peter Boomgaard (“Smallpox, Vaccination, and the Pax Neerlandica, Indonesia, 1550-1930”, 2003: 600), penyebab cacar di Nusantara (termasuk Malaysia) baik bagi yang beragama Islam atau non-Islam adalah hantu, dewa, atau kekuatan jahat, yang kebanyakannya berwujud perempuan. Disebutkan pula anggapan hasil kerja hantu, setan, dan jin, yang berasal dari lautan, sehingga banyak ritual penanganan cacar dengan jalan membuat rakit yang dialunkan ke hilir sungai. Selain itu, bagi daerah yang terlanda cacar, biasanya sering ditinggalkan oleh penduduknya, karena kekuatan mahluk halus penyebabnya dianggap sangat menakutkan.

Namun, bagi penduduk kota yang lebih padat penduduknya biasanya tetap bertahan, karena barangkali wabah cacar sudah lazim terjadi, sehingga tidak lagi menakutkan dan tidak ada gunanya melarikan diri. Ada juga upaya membendung mahluk halus cacar atau manusia pembawanya, misalnya dengan menutup jalan, menjaga kesehatan.

Bagi rumah yang dijangkiti oleh penduduk diberi tanda, sementara bagi orang mati karena cacar dianggap sebagai kematian yang buruk, sehingga tidak akan diterima di alam kubur serta akan dikucilkan dari komunitas leluhurnya (Bali, Kalimantan, dan Sulawesi Tengah). Penguburannya tanpa upacara penghormatan (Halmahera, Timor) dan dilarang menunjukkan perkabungan (Batak, Timor). Meski ada pula yang menganggap cacar sebagai hadiah dari dewa seperti yang nampak berkembang dalam kepercayaan orang Bali dan Baduy (Banten).

Selain itu, umumnya di Indonesia, untuk mencegah datangnya keburukan biasanya menyebut hal tersebut dengan nama lain, yang mempunyai konotasi positif. Misalnya menyebut cacar dengan kata bunga atau penyakit halus (Boomgaard, 2003: 601).

Apa yang menjadi kepercayaan orang Sunda terhadap cacar pun tidak jauh berbeda, karena pada dasarnya masih terpengaruh oleh kepercayaan lama. Menurut S. Coolsma (Twaalf Voorlezingen over West-Java, 1879: 68-73) dan Sugiarto Dakung (Bibliografi Beranotasi Folklor Sunda, 1986: 80), orang Sunda dari dulu sampai sekarang mendapatkan pengaruh dari berbagai agama, seperti Hindu, Buddha dan Islam. Selanjutnya mereka mengambil-alih beberapa unsur dari agama baru itu, tetapi tidak melepaskan dasar atau agama kunonya, yaitu kepercayaan kepada kekuatan alam.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Nama Mahluk Halus Jadi Nama Geografi

Rabu, 17 Agustus 2022 | 16:18 WIB

Sudah Menjaga Pola Makan, Kenapa Masih Sering Sakit?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Raden Dewi Sartika di Cicalengka (1894-1902)

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:33 WIB

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X