Bandung 210 Tahun: Ruwet

- Jumat, 25 September 2020 | 07:53 WIB
Ilustrasi kemacetan di Kota Bandung.
Ilustrasi kemacetan di Kota Bandung.

ANDAI Gubernur Jenderal ke-36 Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels,, tidak membuat titah dengan mengatakan "Zorg dat als ik terug kom hier, een stad is gebouwd" (Usahakan jika aku ke sini lagi, di tempat ini telah dibangun sebuah kota), maka mungkin Bandung tidak akan pernah ada. 

Tapi, sejarah telah dibuat. Bandung lahir, tumbuh, berkembang, menjadi dewasa, dan semakin tua.

Kini usia Bandung 210 tahun. Kawasan yang dulunya leuweung geledegan ini telah mewujud sebagai sebuah metropolitan modern. Dari yang asalnya hutan belantara berganti menjadi hutan beton.

Sejumlah literatur menyebut, Bandung baheula dirancang sebagai kota tempat untuk peristirahatan dan pelesiran. Kota ini dirancang untuk dihuni oleh tak lebih 300 jiwa saja.

Tapi, itu dulu. Sekarang lain lagi. Bandung kiwari dihuni oleh lebih dari 2,5 juta jiwa. Dan jumlah ini, cepat atau lambat, niscaya bakal terus bertambah.

Secara teroritis dan empiris, Bandung sudah mengalami overpopulasi. Jumlah penduduk yang demikian banyak membuat daya dukung lingkungan Bandung semakin berat.

Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, kalaupun Bandung terus dirundung berbagai masalah, yang membikin Bandung kian ruwet, maka itu bisa dibilang wajar-wajar saja. Bagaimanapun, semakin banyak orang, lazimnya semakin banyak menelurkan persoalan -- dari yang ringan sampai yang superberat. 

Jika ada lorong waktu, yang bisa membalikkan masa lalu, mungkin banyak juga yang ingin agar Bandung bisa dikembalikan lagi ke kondisinya di masa silam. Namun, ini mustahil. Kita tak akan bisa mundur. Tak mungkin mengembalikan Bandung seperti dulu lagi, saat Bandung masih dihuni oleh kurang dari 500 ribu jiwa.

Menurut kajian yang dilakukan Arno Adi Kuntoro dkk (2017), dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi yang sangat tinggi, Bandung semestinya ditopang oleh sistem pasokan air bersih yang memadai dan sistem penanggulangan banjir yang prima.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Fakta di Balik Mimpi dalam Tidur Kita Selama Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 19:06 WIB

Semua Guru adalah Guru Bahasa

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:08 WIB

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
X