Wabah dalam Bahasa Sunda

- Senin, 14 September 2020 | 08:32 WIB
 R. Koesoema di Brata di dalam bukunya Nasehat Kaoetamaan Lampah (1921) cenderung menyajikan sasalad dengan arti wabah secara umum.
R. Koesoema di Brata di dalam bukunya Nasehat Kaoetamaan Lampah (1921) cenderung menyajikan sasalad dengan arti wabah secara umum.

Sementara penggunaan kata pagebug dapat disimak dari buku-buku sebagai berikut. Pertama, Duriat Kabawa Maot (1966: 32) karya Ida N. Lab. Ida antara lain menulis, “Dua bulan ka tukang di dieu teh aya pagebug. Biasa bae panyakit kuris” (Dua bulan yang lalu di sini ada wabah. Seperti biasanya berupa penyakit cacar). Kedua, dalam Diwadalkeun ka Siluman (1976: 7), Ki Umbara menyatakan “Bejana lain ngan di lembur urang bae pagebug hayam teh” (Konon, bukan hanya di kampung kita saja yang terjadi wabah ayam itu). Ketiga, dalam Wawacan Pangeran Dipati Ukur (1980: 55) karya H.S. Ranggawaluja. Di situ antara lain disebutkan demikian, “Bahureksa katarajang ku pagebug, keur muriang panas tiris, malaria nuju kambuh” (Bahureksa tertimpa wabah, sedang-sedangnya demam, penyakit malarianya menjadi kambuh). Keempat, dalam Basa Bandung Halimunan (2001), Us Tiarsa R menyebut “cek kolot mah usum pagebug, cenah, da loba pisan nu gering” (kata tetua konon sedang musim wabah, karena banyak sekali yang sakit). 

Kutipan dari keempat buku di atas dapat dibilang menyamakan pagebug dengan wabah. Adakah yang menggunakan dua kata tersebut secara bergantian dalam pengertian yang sama? Setelah dicari-cari memang ada. Ini misalnya dapat dilihat dari buku Bab Adat2 Oerang Priangan djeung Oerang Soenda lian ti eta (1913) karya Hadji Hasan Moestapa. Di dalamnya kita akan mendapati istilah dan kata-kata “usum sasalad” (musim wabah, 103), “tangtu alamat aya pagebug” (tentu pertanda ada wabah, 104), dan kalimat “Jeung saperti dina taun 1880 kurang aya sasalad banget di distrik Leles, panyakit nyeri beuteung …” (Dan seperti sebelum tahun 1880 ada wabah hebat di distrik Leles, yaitu penyakit sakit perut). 

Atau bisa dapat dibaca juga dari Tjarijos Raden Oestama (1919: 59) karya R. Ardiwinata. Di situ ada kutipan menarik karena kata sasalad dan pagebug ditulis dalam satu napas. Berikut ini kutipannya: “Kasabelas poena ti sabral eta kapal layar ti Bombay, jol datang ka palabuhan Aden. Harita Raden Ustama hanjakaleun pisan, henteu meunang hanjat ka dinya, sabab pinuju pagebug panyakit sasalad” (Kesebelas harinya sejak kapal itu berlayar dari Bombay, tibalah di pelabuhan Aden. Saat itu Raden Ustama merasa sayang sekali tak dapat mendarat di sana, sebab sedang ada wabah). Tetapi saya menangkap kesan lain juga. Dalam kutipan ini, kayaknya kata pagebug seperti mengandung arti wabah secara umum, sementara kata sasalad mengandung arti khusus, yaitu wabah penyakit tertentu.

Dengan demikian, dari penelusuran pelbagai pustaka di atas, saya melihat pergeseran makna untuk istilah wabah dalam bahasa Sunda. Bila semula orang Sunda mengenal kata sasalad dalam pengertian penyakit untuk tanaman, tetapi kemudian berubah menjadi penyakit menular yang menyerang manusia secara cepat menjadi wabah. Dan setelah terpengaruh bahasa Jawa dengan digunakannya kata pagebug, orang Sunda juga jadi mengenal, bahkan menggunakan, istilah lain untuk menyebut wabah. Sekarang kedua tersebut menjadi khazanah kosa kata Sunda yang dapat dipertukarkan penggunaannya.

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

Fakta di Balik Mimpi dalam Tidur Kita Selama Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 19:06 WIB

Semua Guru adalah Guru Bahasa

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:08 WIB

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
X