Wabah dalam Bahasa Sunda

- Senin, 14 September 2020 | 08:32 WIB
 R. Koesoema di Brata di dalam bukunya Nasehat Kaoetamaan Lampah (1921) cenderung menyajikan sasalad dengan arti wabah secara umum.
R. Koesoema di Brata di dalam bukunya Nasehat Kaoetamaan Lampah (1921) cenderung menyajikan sasalad dengan arti wabah secara umum.

Yata duka kunang tribwana lwaka ngaranya. Kahuruan dayeuh, burung tahun, eleh ku sasalad, larukangkang salah masa, sarba pala tan pawwah, sarba satwa añarak. Yata duka kunang tribwana lwaka ngaranya ma.” Kutipan ini dari naskah Sunda kuna “Sanghyang Sasana Maha Guru” yang disunting dan diterjemahkan oleh Aditia Gunawan (Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka: Suntingan dan Terjemahan, 2009).

Terjemahannya: “Yaitu kesengsaraan di tiga dunia tempat manusia tribwana loka. Negara mengalami kebakaran, gagal panen, hancur karena wabah, musim kemarau berkepanjangan yang tidak pada waktunya, semua buah-buahan tidak berbuah, semua binatang musnah. Itulah kesengsaraan di tiga dunia tempat manusia”.

Hal yang menarik, dari kutipan di atas adalah kata sasalad yang masih dikenal dalam bahasa Sunda modern. Kata tersebut dalam pengertiannya saat ini bertaut erat dengan wabah. Dengan kata lain, sasalad adalah wabah. Namun, sebagaimana yang dibaca dari konteksnya, sasalad dalam naskah yang diperkirakan oleh Aditia Gunawan berasal dari abad ke-16 ini mengandung arti kegagalan panen akibat wabah hama (eleh ku sasalad) yang menerjang tanaman. Betapapun berkaitan dengan tanaman, yang jelas kata tersebut merujuk kepada penyakit yang menjangkit secara massif. Sekaligus pula, kutipan itu menjadi bukti tertua penggunaan kata sasalad dalam arti wabah dalam bahasa Sunda.

Selain sasalad, dalam bahasa Sunda dikenal istilah pagebug yang kemungkinan besar ditimba dari bahasa Jawa, pagebluk atau pageblug. Dalam perkembangan selanjutnya, kamus-kamus Sunda menunjukkan makna berbeda kata sasalad. Andries de Wilde (Nederduitsch-Maleisch en Soendasch woordenboek, 1841: 124) memberi persamaannya dalam bahasa Belanda sebagai “plaag, bezoeking” (sampar). Sementara Jonathan Rigg (A Dictionary of the Sunda language of Java, 1862: 431) memberinya makna “a disease amongst buffaloes, which kills them; sasalad kebo, this disease among buffaloes. It also means the great slaughtering of buffaloes on festive occasions” (penyakit di antara kerbau, yang membunuhnya; sasalad kebo, penyakit yang menjangkit di antara kerbau. Kata tersebut juga berarti menjagal banyak kerbau pada acara pesta). 

Sementara untuk pagebug yang berasal dari kata gebug, Wilde (1841: 16) memberi artinya sebagai “besmettelijk. Wl. lamper, jangkiet” (menular). Tetapi Rigg (1862) tidak memasukkan lema pagebug. Jadi, paling tidak sampai pertengahan abad ke-19 dapat dibilang kata sasalad selalu berkaitan dengan wabah sampar kerbau (bubonic pest), sementara pagebug merupakan kata yang menunjukkan wabah secara umum.

Namun, sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ada perkembangan terkait kedua kata tersebut. Karena akhirnya jadi punya makna yang sama-sama menunjukkan arti wabah. Hal ini dapat dilihat dari keterangan Sierk Coolsma (Soendaneesch-Hollandsch woordenboek, 1884, 1913: 556) yang menuliskan “Sasalad, ong. = pagëboeg, plaag, een heerschende ziekte, epidemie” (wabah, sampar, penyakit menular, epidemi). Demikian pula yang dinyatakan F.S. Eringa (Soendaas-Nederlands woordenboek, 1984: 657): “salad, sasalad: epidemie, besmettelijke ziekte” (epidemi, penyakit menular). R. Sacadibrata (Kamus Basa Sunda, 2005: 134, 272, 347) dan R.A. Danadibrata (Kamus Basa Sunda, 2006: 481, 614) kemudian memberikan arti yang sama.

Bukti penggunaan kata sasalad maupun pagebug dapat disimak dari buku-buku Sunda sejak abad ke-19 hingga abad ke-21.  Mari kita mulai dengan sasalad yang bisa ditemukan dari Pandji Woeloeng (1876: 6) karya R.H. Moesa. Di situ antara lain ada kutipan “Dumadakan manggih mayit, sakitan keuna sasalad, ceulina dikeureut bae” (Tiba-tiba menemukan mayat, meskipun bekas terkena wabah, telinganya terus dipotong). Di situ sasalad sesuai dengan pengertian bahasa Sunda saat ini. 

Demikian pula dalam Tjarita Djalma Paminggatan (1912: 35) karya R. Ardiwinata. Di sana terbaca, “... kaula bet katarajang nyeri suku, nya eta sasalad di eta tempat malah loba pisan anu maraot ku lantaran eta panyakit teh” (... saya jadi sakit kaki, yakni wabah yang berjangkit di tempat itu, bahkan banyak sekali orang yang meninggal akibat penyakit itu). C.M. Pleyte dalam Pariboga: Roepa-roepa Dongeng Soenda (1914: 6) memaksudkan hal sama, dengan kutipan: “Boga bujang keur sahiji teh, paeh katarajang sasalad ...” (Hanya punya satu-satunya pembantu lelaki, tetapi kemudian mati karena terjangkit wabah).

Banyak lagi buku Sunda lainnya yang menerangkan sasalad sebagai wabah. Ini bisa dibaca dari Nasehat Kaoetamaan Lampah (1921: 16) karya R. Koesoema di Brata pada kutipan “Saperti nu geus mindeng kapanggih, dina waktu usumna kolera, atawa sasalad sejen, teu lian nu dicatur, kajaba ti perkara jurig” (Seperti yang sering ditemukan, saat sedang berkecamuk kolera, atau wabah lain, tiada lain yang dibicarakan, kecuali soal hantu). Juga R. Sacadibrata dalam Dongeng-dongeng Sasakala Jilid 2 (1952: 164). Di dalam salah satu dongengnya ada kutipan, “Jakasona jeung aki pangebon kaget reh nagara combrek tiiseun, sabab katarajang sasalad banget, nu gering sore, paeh isuk, gering isuk, paeh sore” (Jakasona dan kakek jurukebun merasa kaget karena mendapati kerajaan sepi, sebab terjangkit wabah yang hebat, yang sakit pada sore hari, meninggal esok paginya, orang yang sakit pagi hari meninggal sore harinya).

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

Pansos Demi Cuan?

Selasa, 28 September 2021 | 08:00 WIB

Selamatkan Remaja dari Perilaku Kejahatan Seksual

Senin, 27 September 2021 | 12:46 WIB

Pemerintah China Diuji Kasus Evergrande

Senin, 27 September 2021 | 08:00 WIB

Menyelesaikan Pandemi dengan Keimanan, Rasionalkah?

Jumat, 24 September 2021 | 22:58 WIB

Boring Daring, Saatnya Belajar Luring!

Jumat, 24 September 2021 | 19:56 WIB

Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB

Alasan Wajib Bangga Menjadi Orang Bandung

Kamis, 23 September 2021 | 18:27 WIB

Buruk Pengelolaan Lapas di Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 17:28 WIB

Meragukan Keampuhan Strategi Joe Biden

Kamis, 23 September 2021 | 16:47 WIB

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB
X