Dari Padang Sidempuan ke Garut

- Senin, 7 September 2020 | 10:37 WIB
Peta daerah Padang Sidempuan tahun 1910
Peta daerah Padang Sidempuan tahun 1910

AYOBANDUNG.COM -- Mei 1933, keadaan Garut tampak seperti tak terkendali. Akibat kecamuk wabah sampar sudah lebih dari 2000 orang yang ditahan karena mengabaikan protokol kesehatan waktu itu. Di antara banyak orang yang digelandang ke penjara itu akibat melakukan protes bahkan perlawanan terhadap petugas kesehatan. Yang lebih buruk lagi ditambah dengan kedaan bupati Garut beserta jajaran pegawai sipilnya dianggap lemah. Demikian pula Asisten Residen Garut A. Sangster banyak dikeluhkan warga Eropa, karena kebijakannya dianggap aneh.

Hal inilah menurut wartawan yang menulis dalam Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (edisi 31 Mei 1933) yang menjadi alasan utama diselenggarakannya penyelidikan di sana. Sampai-sampai anggota Dewan Rakyat (Volksraad) Oto Iskandar di Nata menyampaikan pendapatnya di hadapan para anggota lainnya pada 30 Mei 1933. Setelah membaca tulisan J.J. Mys dalam AID de Preanger Bode ihwal perlawanan masyarakat Garut terhadap “suntik mayat”, Oto paling tidak mengajukan dua pertanyaan.

Pertama, apakah pemerintah kolonial tidak berpikir bahwa aturan pemeriksaan kematian seharusnya dikembangkan sesegera mungkin sebagaimana yang disarankan J.J. Mys. Kedua, apakah sudah disiapkan untuk menyelidiki atau menjawab pertanyaan mengapa masyarakat Garut demikian bergebu-gebu melakukan perlawanan terhadap “suntik mayat”, padahal di tempat lainnya yang sama-sama terjangkit sampar, perlawanannya tidak begitu kuat.

Dalam suasana inilah, Dokter Ahmad Ramali dipindahkan dari Padang Sidempuan, Sumatra Utara, ke Batavia. Menurut Supriati (DR. Ahmad Ramali: Hasil Karya dan Pengabdiannya, 1981, dalam “Islam dan Persoalan Higiene di Hindia Belanda” karya Gani A. Jaelani, 2017), Ahmad Ramali yang lahir di Bonjol pada 20 November 1903 ini lulusan Openbare Lagere Europesche School di Bukittinggi dan STOVIA (1928). Setelah lulus, dia menjadi dokter di rumah sakit pemerintah di beberapa daerah, yaitu Pematang Siantar, Padang Sidempuan, Jakarta, Semarang, dan Tuban. Saat bertugas di Padang Sidempuan, dia kerap memberi ceramah dalam bidang kesehatan, terutama untuk menangkal malaria, di sebuah perkumpulan anak-anak sekolah bernama Gezondheid Briegade. Konon, tindakannya dianggap mengurangi kewibawaan pemerintah Belanda, dan karenanya kemudian ia dipindahtugaskan ke Batavia.

Namun, sebaliknya dengan yang saya baca dari koran Belanda di atas, kepindahan Dokter Ramali justru disebabkan oleh mutunya yang tinggi dalam bidang keilmuan Islam untuk menangani sampar di Jawa, terutama untuk membantu memecahkan kasus-kasus yang terjadi di Garut. Sebelum kepergiannya ke Batavia, ia telah melakukan surat-menyurat dengan Snouck Hurgronje, Hussein Djajadiningrat, serta guru-guru agama di Pulau Jawa.

Perintah resmi kepindahannya ke Batavia terjadi pada awal Juni 1933. Ia diminta untuk bekerja dalam penanganan kasus sampar di Garut karena melibatkan perlawanan dari masyarakat yang menggunakan isu agama. Dalam Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (edisi 8 Juni 1933) disebutkan bahwa baru-baru ini Dokter Ramali bekerja di Tapanuli untuk meyakinkan penduduk dengan menggunakan dalil agama mengenai pentingnya mengeringkan kolam-kolam ikan karena menjadi sarang bagi jentik-jentik nyamuk penyebar malaria. Ia menggunakan hadis dan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menegaskan pentingnya menjaga kesehatan.

Untuk tugas barunya dalam penanganan sampar di Garut, Dokter Ramali menulis sebuah brosur dalam bahasa Melayu berjudul Tangkal Pest: Jaitoe Persatoean Ilmoe dan Agama Menolak Bahaja Pest dan langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda menjadi Noelak Pest: Ngahidjikeun Pangaweroeh djeung Agama pikeun Noelak Kasakit Pest. Kalau melihat pemberitaan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (edisi 21 Desember 1933), keduanya diterbitkan paling tidak diterbitkan pada Desember 1933. Jadi, lima bulan atau lebih setelah dia diperintahkan untuk pindah ke Batavia dan bekerja membantu menangani wabah sampar di Garut.

Memang menurut Jaelani (2017) Dokter Ramali memiliki ketertarikan untuk melihat hubungan antara Islam dengan ilmu kedokteran akibat kedekatannya dengan tokoh Sarikat Islam (SI) H. Agus Salim. Bahkan sebelum menulis Tangkal Pest, Dokter Ramali menulis artikel berjudul “Bijdrage tot de Medisch-Hygiënische Propaganda in eenige Islamitische streek” tentang kesesuaian antara prinsip-prinsip Islam dengan hidup higienis. Tulisan yang dimuat dalam GTvNI ini kemudian dijadikan bahan disertasinya di Universitas Gadjah Mada: Peraturan-peraturan untuk memelihara kesehatan dalam hukum Syara’ Islam (1950).

Bukti kedekatan Dokter Ramali dengan H. Agus Salim terlihat dari pengantar Tangkal Pest yang ditulis oleh tokoh SI itu. Di dalam pengantarnya antara lain H. Agus Salim menulis demikian: “… Saja merasa senang, karena karangan toean itoe memboektikan, bahwa djalan kebenaran dan keoetamaan haroes ditjari pada djalan persatoean ‘ilmoe dan agama, dengan ‘ilmoe sebagai alat perkakas dan agama sebagai pedoman penoentoen”.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Fakta di Balik Mimpi dalam Tidur Kita Selama Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 19:06 WIB

Semua Guru adalah Guru Bahasa

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:08 WIB

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
X