N-250, Muara Kebanggaan dan Air Mata

- Selasa, 1 September 2020 | 08:01 WIB
Pesawat N250 terparkir di hanggar milik Dirgantara Indonesia (PT DI) Kota Bandung, Kamis (12/9/2019). Pesawat N250 ini merupakan pesawat buatan Presiden ke 3 Indonesia BJ Habibie.
Pesawat N250 terparkir di hanggar milik Dirgantara Indonesia (PT DI) Kota Bandung, Kamis (12/9/2019). Pesawat N250 ini merupakan pesawat buatan Presiden ke 3 Indonesia BJ Habibie.

AYOBANDUNG.COM -- Bagi mereka yang pernah mengunjungi Air and Space Museum di Washington DC, pastilah tak melewatkan momen untuk melihat pesawat Oliver Wright bersaudara. Aneka roket Saturnus. Kapsul Apollo. Pesawat terbang. Pakaian astronot dari masa ke masa. Wahana pendarat di bulan dan berbagai wahana ruang angkasa lainnya. Serba mengagumkan. Banggalah orang Amerika!

Indonesia juga punya produk kebanggaan, pesawat penumpang N-250">N-250. Pesawat ini dirancang dan dibangun generasi muda dibawah pimpinan Chief Designer Prof. Dr.Ing.BJ Habibie.

Sejak 26 Agustus 2020, N-250">N-250 ditempatkan di Museum Pusat TNI AU, Dirgantara Mandala, Yogyakarta. Penempatannya di museum dimaksudkan supaya pengunjung memahami, bangsa Indonesia telah mampu merancang bangun produk berteknologi tinggi. Tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain.

Pendapat itu benar, namun N-250">N-250 menyisakan ironi tentang kegagalan.Kisah pilu yang berujung kepada pertanyaan, mengapa bisa begini?

Masakan bangsa Indonesia tak boleh punya kebanggaan? Sekarang, bising dengan isu utang luar negeri. Menjadi terpecah belah karena mencemaskan realisasi tesis Samuel Huntington. Melihat koruptor yang bangga dengan kelemahan ahlaknya. Menyaksikan rakyat menunggu Bansos. Dan seterusnya!

Salah Mereka!

Mungkin hanya di Indonesia. Pesawat terbang buatan sendiri. Telah menjalani uji selama 800 jam terbang. Sudah pula keliling separuh dunia.Tinggal mengurus sertifikasi dari Kemenhub, Federation Aviation Administration (Amerika Serikat), dan Joint Airworthiness Authority (Eropa). Eh, dipensiunkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

N-250">N-250 pesawat regional dapat mengangkut 50-70 penumpang. Dibuat generasi muda. Ada di antaranya aktivis tapi bukan berlatar belakang Sospol atau hukum melainkan pendidikan teknik, metalurgi, dan ilmu-ilmu yang susah-sulit-rumit.

Mereka belajar di ITB dan perguruan tinggi terkemuka di dunia. Juga sudah magang di Airbus, Boeing, Cassa, MBB, Fokker dan sebagainya. Di antaranya Jusman Syafii Djamal, yang antara lain mempelajari computational aerodinamics. Said Djauharsyah Jenie, alumni ITB, MIT, dan fakultas tehnik Universitas Delft, Belanda. Ribuan lagi anak-anak muda yang sengaja dididik.

Pesawat N-250">N-250 adalah pesawat berbaling-baling yang pengendaliannya menggunakan komputer (fly by wire). Saat itu hanya ada tiga yang memakai teknologi tersebut yakni Airbus 340 dan Boeing 767. Jadi prospeknya bagus!

Pesaingnya adalah seri ATR bermesin dua buatan Prancis. Negeri kelahiran Direktur Pelaksana IMF saat itu, Michel Camdessus.

Selain N-250">N-250 Gatotkaca. Ada lagi N-250">N-250-Kerincing-Wesi">N-250">N-250 Kerincing Wesi, sudah menjalani 200 uji jam terbang. Kini teronggok di komplek PT Dirgantara Indonesia, Bandung.

Seandainya?

Dalam LoI-nya, IMF mengharuskan penghentian proyek ini. Padahal keberhasilan N-250">N-250 tinggal selangkah lagi. BJ Habibie menyebut sikap IMF itu kriminal.

Dalih IMF, perekonomian Indonesia yang morat marit memerlukan perbaikan mendasar. Proyek yang tidak prioritas disetop. Pada 15 Januari 1998, Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent di Cendana, sebagai syarat supaya IMF membantu.

Berdasarkan LoI itu, IMF sepakat mengucurkan paket bantuan US$23 miliar. Bantuan yang tidak seluruhnya dicairkan tetapi diirit-irit sambil melihat kepatuhan Indonesia.

IMF membawa petaka. Ia memberi resep seperti yang diberikan buat Tanzania dan Yunani. Namanya gagah sekali,  Structural Adjustment Program (SAP) yakni pencabutan subsidi, privatisasi, perdagangan bebas, dan pembatasan intervensi negara dalam ranah ekonomi.

Intinya ekonomi Indonesia dibuat makin liberal. Stanley Fischer, orang nomor dua di IMF, yang menggodog resep ini.

Yang makin membuat panik adalah penutupan 16 bank. Nasabah berbondong-bondong mengambil simpanan. Struktur keuangan perbankan kacau.

Indonesia mengalami krisis moneter, perbankan, ekonomi kemudian ditambah krisis politik. Perekonomian Indonesia mundur, tetapi ‘kaum’ penyebab krisis malah makin kaya.

Industri strategis pemerintah, seperti IPTN/PT DI bukan penyebab krisis multidimensi itu. Melainkan perusahaan-perusahaan swasta yang serampangan meminjam dalam matauang asing.

Saat itu, total utang per Maret 1998 mencapai US$138 miliar atau hampir 100% dari GDP. Sebagian besar milik swasta.

Maka ketika spekulan George Soros beraksi, nilai rupiah amblas sampai Rp 16.650 per US$1. Pinjaman pun menggelembung. Ekonomi limbung. Indonesia berpaling ke IMF, yang kemudian memberi resep yang salah.

Visi Presiden Soeharto

Habibie tak mungkin mengelola industri-industri strategis kalau tak ada perintah Presiden Soeharto. Dia sudah nyaman di posisi nomor dua sebagai Wakil Presiden/Direktur Produksi Messerschmidt Boelkow Blohm (MBB).

Posisi yang dalam kultur Jerman hanya buat mereka yang punya kemampuan luar biasa atau jenius. Posisi yang membuatnya paham persenjataan dan rahasia Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Presiden Soeharto ingin menyambung pertanian yang kuat dengan industri yang tangguh yang memerlukan pemilikan teknologi yang tepat.Untuk itu diperlukan pembangunan industri strategis guna melepaskan diri dari ketergantungan dari luar. Untuk itu dipilih BJ Habibie.

Pemerintah kemudian membentuk badan yang mempunyai tugas pengkajian dan penerapan teknologi (BPPT). Badan ini mempersiapkan perencanaan mendetail (mikro) dari industri yang perlu dibangun untuk mendampingi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Sebetulnya komposisinya sudah ideal. Kelompok ekonomi dikendalikan Ketua Bappenas Dr. Widjojo Nitisastro yang berlatar belakang statistik dan Kelompok Tehnokrat yang dipimpin Prof. Dr.Ing. B.J Habibie, berlatar belakang tehnik dan punya ambisi memajukan generasi muda supaya sekolah tinggi mungkin.

Pada 1978, Habibie diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Pembangunan III, di samping menjabat sebagai ketua dan Dirut badan-badan yang erat hubungannya satu dengan yang lain, ialah lembaga-lembaga teknologi dan industri, ujar Presiden Soeharto.

Habibie juga menjadi Kepala BPPT dan Kepala BPIS (Badan Pengembangan Industri Strategis) yang menangani sepuluh perusahaan. Kesepuluh perusahaan itu adalah IPTN (bidang dirgantara), PT PAL Indonesia (bidang perkapalan), PT Pindad (bidang senjata dan pertahanan), Perum Dahana (bidang bahan peledak), PT Krakatau Steel (bidang industri baja), PT Barata Indonesia (bidang alat berat), PT Boma Bisma Indra (bidang permesinan), PT Industri Kereta Api/INKA (bidang industri perkertaapian), PT Inti (bidang telekomunikasi), dan Lembaga Elektronika Nasional sebagai lembaga kajian elektronika dan komponen.

Bila INKA menampilkan lokomotif dan rangkaian kereta modern. IPTN/PT DI menuntaskan impian Presiden Soeharto agar Indonesia memiliki industri yang mandiri dan membanggakan bangsa. Cassa, CN235 dan N250 serta kelak N2130, yang diumumkan Soeharto pada 10 November 1995.

Sebenarnya yang lebih dahsyat adalah program mempersiapkan generasi muda untuk kelak mengisi posisi-posisi pada BPPT maupun BPIS. Ribuan lulusan SMA atau S-1 yang dikirim untuk belajar pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Terutama di luar negeri.

Kalau tidak ada krisis, mereka inilah yang menjadi tulang punggung kemajuan ekonomi. Menguasai Imtek! Menguasai Iptek!

Gara-gara krisis ’98, upaya menyambung sektor pertanian yang kuat dengan industri yang tangguh berantakan. Untunglah Indonesia tidak terpecah-pecah.

Seandainya Soeharto mengikuti jejak PM Mahathir yang menolak saran IMF atau menuruti saran Prof.Steve Hanke, dari University of John Hopkins agar rupiah dipatok terhadap US$, apakah ekonomi Indonesia dapat diselamatkan?

Menyimpan Kisah Pilu

Malam hari, di Masjid Habibur Rahman, komplek IPTN, ribuan karyawan IPTN  shalat Isya berjamaah. Merekapun berdoa agar penerbangan perdana berlangsung lancar.

Keesokan hari, Pak Harto, Bu Tien dan para undangan tak bisa menyembunyikan kegembiraan ketika saat N-250">N-250 take off dari landas pacu Bandara Hussein Sastranegara, Bandung. Lalu, terbang selama 55 menit. Ketika itu, 10 Agustus 1995. Berarti 50 setelah Indonesia merdeka. Bangsa ini menorehkan prestasi yang membanggakan.

Hanya tiga tahun setelah acara tersebut, Indonesia takluk di tangan IMF.

25 tahun sesudah terbang perdana, Gatotkaca digotong lewat jalan tol ke Yogya.

Awalnya, membanggakan. Kemudian terhempas!

Entah, apalagi yang harus dikatakan tentang bangsa ini. Ada yang ingin membuat negaranya maju, diakali dengan berbagai cara! Kapankah kiamat?

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X