N-250, Muara Kebanggaan dan Air Mata

- Selasa, 1 September 2020 | 08:01 WIB
Pesawat N250 terparkir di hanggar milik Dirgantara Indonesia (PT DI) Kota Bandung, Kamis (12/9/2019). Pesawat N250 ini merupakan pesawat buatan Presiden ke 3 Indonesia BJ Habibie.
Pesawat N250 terparkir di hanggar milik Dirgantara Indonesia (PT DI) Kota Bandung, Kamis (12/9/2019). Pesawat N250 ini merupakan pesawat buatan Presiden ke 3 Indonesia BJ Habibie.

Indonesia mengalami krisis moneter, perbankan, ekonomi kemudian ditambah krisis politik. Perekonomian Indonesia mundur, tetapi ‘kaum’ penyebab krisis malah makin kaya.

Industri strategis pemerintah, seperti IPTN/PT DI bukan penyebab krisis multidimensi itu. Melainkan perusahaan-perusahaan swasta yang serampangan meminjam dalam matauang asing.

Saat itu, total utang per Maret 1998 mencapai US$138 miliar atau hampir 100% dari GDP. Sebagian besar milik swasta.

Maka ketika spekulan George Soros beraksi, nilai rupiah amblas sampai Rp 16.650 per US$1. Pinjaman pun menggelembung. Ekonomi limbung. Indonesia berpaling ke IMF, yang kemudian memberi resep yang salah.

Visi Presiden Soeharto

Habibie tak mungkin mengelola industri-industri strategis kalau tak ada perintah Presiden Soeharto. Dia sudah nyaman di posisi nomor dua sebagai Wakil Presiden/Direktur Produksi Messerschmidt Boelkow Blohm (MBB).

Posisi yang dalam kultur Jerman hanya buat mereka yang punya kemampuan luar biasa atau jenius. Posisi yang membuatnya paham persenjataan dan rahasia Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Presiden Soeharto ingin menyambung pertanian yang kuat dengan industri yang tangguh yang memerlukan pemilikan teknologi yang tepat.Untuk itu diperlukan pembangunan industri strategis guna melepaskan diri dari ketergantungan dari luar. Untuk itu dipilih BJ Habibie.

Pemerintah kemudian membentuk badan yang mempunyai tugas pengkajian dan penerapan teknologi (BPPT). Badan ini mempersiapkan perencanaan mendetail (mikro) dari industri yang perlu dibangun untuk mendampingi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Sebetulnya komposisinya sudah ideal. Kelompok ekonomi dikendalikan Ketua Bappenas Dr. Widjojo Nitisastro yang berlatar belakang statistik dan Kelompok Tehnokrat yang dipimpin Prof. Dr.Ing. B.J Habibie, berlatar belakang tehnik dan punya ambisi memajukan generasi muda supaya sekolah tinggi mungkin.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X