N-250, Muara Kebanggaan dan Air Mata

- Selasa, 1 September 2020 | 08:01 WIB
Pesawat N250 terparkir di hanggar milik Dirgantara Indonesia (PT DI) Kota Bandung, Kamis (12/9/2019). Pesawat N250 ini merupakan pesawat buatan Presiden ke 3 Indonesia BJ Habibie.
Pesawat N250 terparkir di hanggar milik Dirgantara Indonesia (PT DI) Kota Bandung, Kamis (12/9/2019). Pesawat N250 ini merupakan pesawat buatan Presiden ke 3 Indonesia BJ Habibie.

Pesawat N-250">N-250 adalah pesawat berbaling-baling yang pengendaliannya menggunakan komputer (fly by wire). Saat itu hanya ada tiga yang memakai teknologi tersebut yakni Airbus 340 dan Boeing 767. Jadi prospeknya bagus!

Pesaingnya adalah seri ATR bermesin dua buatan Prancis. Negeri kelahiran Direktur Pelaksana IMF saat itu, Michel Camdessus.

Selain N-250">N-250 Gatotkaca. Ada lagi N-250">N-250 Kerincing Wesi">N-250">N-250 Kerincing Wesi, sudah menjalani 200 uji jam terbang. Kini teronggok di komplek PT Dirgantara Indonesia, Bandung.

Seandainya?

Dalam LoI-nya, IMF mengharuskan penghentian proyek ini. Padahal keberhasilan N-250">N-250 tinggal selangkah lagi. BJ Habibie menyebut sikap IMF itu kriminal.

Dalih IMF, perekonomian Indonesia yang morat marit memerlukan perbaikan mendasar. Proyek yang tidak prioritas disetop. Pada 15 Januari 1998, Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent di Cendana, sebagai syarat supaya IMF membantu.

Berdasarkan LoI itu, IMF sepakat mengucurkan paket bantuan US$23 miliar. Bantuan yang tidak seluruhnya dicairkan tetapi diirit-irit sambil melihat kepatuhan Indonesia.

IMF membawa petaka. Ia memberi resep seperti yang diberikan buat Tanzania dan Yunani. Namanya gagah sekali,  Structural Adjustment Program (SAP) yakni pencabutan subsidi, privatisasi, perdagangan bebas, dan pembatasan intervensi negara dalam ranah ekonomi.

Intinya ekonomi Indonesia dibuat makin liberal. Stanley Fischer, orang nomor dua di IMF, yang menggodog resep ini.

Yang makin membuat panik adalah penutupan 16 bank. Nasabah berbondong-bondong mengambil simpanan. Struktur keuangan perbankan kacau.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB
X