Kampus Harus Bisa Memastikan Kualitas Penelitian Mahasiswa

- Rabu, 12 Agustus 2020 | 11:29 WIB
[Ilustrasi] penelitian yang dilakukan mahasiswa.
[Ilustrasi] penelitian yang dilakukan mahasiswa.

AYOBANDUNG.COM -- Salah satu syarat mahasiswa untuk lulus adalah dengan melakukan penelitian atau skripsi. Penelitian bukan hanya ditujukan untuk mencapai gelar sarjana, tapi juga menunjukkan kredibilitas dan dampakya bagi masyarakat luas. Meski begitu, ironisnya masih banyak penelitian yang dilakukan tidak sesuai standar dan lolos begitu saja.

Baru-baru ini, penelitian skripsi seorang mahasiswa menjadi buah bibir dan viral di media sosial. Ia mengangkat tema sarat teori konspirasi dengan mengaitkan zionisme pada kartun Spongebob. Tidak hanya urgensi dan validitas topiknya yang perlu ditanyakan, namun dasar pemikiran isinya.

Warganet ramai-ramai membagikan tangkapan layar beserta link ke penelitian yang tersebar di internet. Mereka mempertanyakan standardisasi kampus sampai bisa meloloskan penelitian yang tidak sesuai standar itu. Maklum saja, penelitian itu juga menggunakan sitasi dari sumber tidak kredibel seperti media sosial dan laman blog yang belum jelas kebenarannya.

Peristiwa ini tentunya jadi tamparan keras bagi semua mahasiswa dan Universitas. Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa kuliah meningkatkan kredibilitas seseorang. Namun nyatanya, kejadian seperti ini membuat kita patut mempertanyakan lagi stigma itu.

Saat berkuliah, mahasiswa idealnya diajarkan berpikir kritis dan logis dalam melakukan sesuatu. Hal ini juga diterapkan dalam menyusun penelitian sebagai tugas akhir. Namun sayang, ilmu yang dipelajari bertahun-tahun itu kadang tidak diterapkan mahasiswa dalam penelitian akhirnya.

Buruknya pencantuman sitasi dan kurasi yang dilakukan mahasiswa bisa dengan mudah membuat asumsi keliru yang menggeneralisasi kualitas mahasiswa di Indonesia. Belum lagi dengan nama baik universitas tempatnya belajar yang bisa tercoreng. Buruknya suatu penelitian yang dipublikasi tentu tidak hanya bisa menghancurkan kredibilitas diri, namun banyak orang.

Peristiwa seperti ini tak hanya membuat masyarakat mempertanyakan kualitas sang mahasiswa dan kampusnya, namun juga kualitas dosen yang membimbingnya. Jika memang mahasiswa bersangkutan tidak memiliki kapabilitas untuk membuat penelitian sesuai standar, lantas mengapa dosen tersebut meloloskan penelitian itu?

Padahal, sudah seharusnya kampus beserta dosen memastikan dengan baik dan bijak kualitas penelitian mahasiswa yang dimbimbingnya. Saya yakin setiap dosen punya pengalaman dalam mempublikasi penelitian, baik itu skripsi atau jurnal ilmiah. Adapun ilmu dalam menyusun penelitian dengan benar haruslah diterapkan dengan baik pada mahasiswa sebelum ‘melepaskan’ mereka ke masyarakat luas.

Tidak hanya bertugas membimbing mahasiswa dalam menghasilkan penelitian yang berkualitas, dosen juga punya hak untuk tidak meloloskan penelitian mahasiswa yang  berkualitas buruk. Dosen juga tidak bisa menjustifikasi alasannya untuk akhirnya meloloskan penelitian yang tidak sesuai standar.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB
X