Hikayat Sepeda dan Gaya Hidup di Tengah Covid-19

- Jumat, 17 Juli 2020 | 17:32 WIB
Ilustrasi sepeda
Ilustrasi sepeda

AYOBANDUNG.COM--Bila kita membaca tren bersepeda di tengah Covid-19, hasil data yang dihimpun Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) menunjukkan jumlah pesepeda yang berlalu lintas di Jakarta meningkat hingga 1.000%.

Pasalnya, bersepeda di ruang terbuka menjadi gaya hidup pelepas penat selama periode pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Ini menjadi berkah tersendiri dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang terus berusaha untuk menerapkan hidup sehat dan bersih sesuai protokol kesehatan.

ITDP merinci, setelah perkantoran diizinkan beroperasi kembali, dalam sehari jumlah pesepeda di kawasan bisnis Dukuh Atas naik, dari rata-rata 10 menjadi 235 pesepeda. Pada Minggu, (28/06/2020), sekitar 52.000 pesepeda diklaim melintasi 32 lokasi bebas kendaraan bermotor Jakarta.

Meskipun, peningkatan pengguna sepeda dibarengi dengan tingginya kecelakaan, data dari Bike to Work (B2W) mencatat sepanjang Januari hingga Juni 2020, terdapat 29 peristiwa kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pesepeda. Akibat kecelakaan lalu lintas, 58 persen (17 pesepeda) meninggal dunia.  (BBC Indonesia, 5 Juli 2020 dan Detikoto, Selasa, 14 Juli 2020 10:18 WIB).

Pengayuh Kereta Angin

Dalam buku Melihat Indonesia dari Sepeda dijelaskan sepeda memang bukan sekedar alat transportasi melainkan juga penanda budaya yang bergerak. Pada masa awal kedatangannya di Nusantara sepeda menjadi medium modernisasi (pembaratan). Sepeda waktu itu diidentikkan dengan tunggangan para kyai dan kalangan terpandang secara ekonomi.

Denys Lombard, dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya, 1996, sepeda atau kereta angin, istilah waktu itu adalah salah satu simbol kemajuan (pembaratan), selain pakaian. Haji Muhammad, pengusaha kopra dari Banten yang pada 1910 mengelola perusahaannya secara Eropa. "Maka Haji Muhammad mengganti pakaiannya dengan pakaian orang Barat, yaitu berpantalon, bersepatu, berjas dan berkopiah Turki. Tidak pula lama antaranya ia membeli kereta angin, sehingga ia dapat mondar-mandir kian kemari dengan cepat dan mengurangi belanja," tulis Lombard mengutip naskah Kenangan-kenangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, 1936.

Hingga tahun 1970-an, sepeda masih jadi primadona, "Misalnya di Yogyakarta, waktu itu sangat ramai bersepeda mulai dari mahasiswa, dosen, hingga butuh," kata Hendrie Adji Kusworo, peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM.

Belanda adalah satu-satunya negara di Eropa, bahkan di dunia yang jumlah sepedanya lebih banyak dibandingkan jumlah warga. Rata-rata tiap satu orang di Belanda memiliki 1,11 sepeda dan jumlah penjualan sepeda juga sangat tinggi: 1,2 juta sepeda pada tahun 2005, untuk 16 juta penduduk.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X