Menjelajahi Priangan Zaman Kompeni

- Rabu, 15 Juli 2020 | 11:46 WIB
Peta Priangan selama kekuasaan VOC. Sumber: Priangan Vol I (1910) karya F. De Haan.
Peta Priangan selama kekuasaan VOC. Sumber: Priangan Vol I (1910) karya F. De Haan.

AYOBANDUNG.COM--Ada buku yang dulu suka saya baca selama menyusun tugas akhir kuliah. Buku tersebut bertajuk Imperial Eyes: Travel Writing and Transculturation (1992) yang ditulis Mary Louise Pratt.

Karena skripsi saya berkaitan dengan catatan perjalanan, buku Imperial Eyes memberikan semacam pencerahan bagi latar belakang mengapa sastrawan Afro-Amerika Richard Wright (1908-1960) punya pandangan mendua, bahkan lebih berpihak kepada pandangan Barat, saat meliput Konperensi Asia-Afrika tahun 1955 (The Color Curtain, 1956).

Dua dari enam hal yang digarisbawahi Mary adalah keterkaitan antara sejarah penulisan catatan perjalanan dengan proyek taksonomi yang dilakukan orang Barat dan melibatkan ahli sejarah alam yang dikirim ke Timur (baca: tanah jajahan).

Hal kedua, catatan perjalanan ahli sejarah alam tersebut bertemali dengan perluasan politik dan ekonomi orang Eropa (baca: penjajah). Sistem taksonomi mendesakkan semacam hegemoni global berdasarkan kepemilikan lahan dan sumber daya, dengan kedok “anti-penaklukan”.

Sementara pengetahuan sejarah alam sebagai perkakas untuk mengisahkan perjalanan dan penjelajahan di pedalaman dimaksudkan untuk pengawasan wilayah, kendali adminstratif, dan peruntukan sumber daya. Kata Mary, “Suara-suara pribumi hampir tak pernah dikutip, direproduksi, bahkan ditemukan pada cacatan perjalanan di akhir abad ke-18”.

Dengan berbekal temuan Mary Louise Pratt itu pula saya ingin melihat catatan perjalanan yang ditulis orang Eropa, terutama para pegawai Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) atau Kompeni, ke tanah Priangan pada abad ke-17 hingga abad ke-18.

Priangan sendiri, menurut yang saya pahami dari keempat jilid buku F. De Haan (1910-1912), meliputi hampir wilayah yang kini disebut Jawa Barat, kecuali Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon. Dan dari karya De Haan, saya juga mendapatkan nama-nama berikut tulisan-tulisan yang berkaitan dengan catatan perjalanan ke Priangan.

Namun, sebelum itu, menilik konteks abad ke-17, banyak hal yang terjadi di Priangan. Sejak 1620, Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung menginvasi Priangan, demi melancarkan serangannya ke Batavia meski akhirnya gagal. Pemberontakan Dipati Ukur kepada Mataram antara 1628-1632. Pembentukan Kabupaten Bandung, Parakanmuncang, dan Sukapura pada 1633. Kematian Sultan Agung pada 1645 yang menyebabkan kemerosotan kedudukan Mataram.

Ketika Kerajaan Mataram diduduki Trunajaya, Amangkurat I meminta bantuan VOC dan mengadakan perjanjian pada 19-20 Oktober 1677. Isinya, antara lain, penyerahan Priangan Barat dan Tengah kepada VOC.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X