Memanusiakan Sahabat Disabilitas

- Selasa, 14 Juli 2020 | 11:00 WIB
[Ilustrasi] DIsabilitas.
[Ilustrasi] DIsabilitas.

AYOBANDUNG.COM -- Disabilias merupakan orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, sensorik dan sebagian sulit untuk bersosialisasi dengan yang lain. Sebagian orang menyebutnya dengan kata ABK yakni anak berkebutuhan khusus.

Sudah selayaknya keberadaan para sahabat disabilitas diakui dan dianggap. Tidak diremehkan dan dianggap angin lalu. Mereka sama seperti kita dan justru memiliki keistimewaan. Dengan pendampingan dan bimbingan para penyandang disabilitas juga dapat berprestasi.

Disabilitas dibagi menjadi empat yakni disabilitas fisik, disabilitas intelektual, disabilitas mental dan sensorik. Disabilitas fisik merupakan seseorang yang cacat fisiknya atau gangguan dalam fungsi tubuh misal, lumpuh, lumpuh layu, stroke, paraplegi, dll.

Yang kedua disabilitas intelektual merupakan gangguan pada tingkat IQ yang rata-rata lebih rendah di bawah yang lain, sehingga kesuliatan dalam menerima informasi juga keterbatasan dalam komunikasi dan sosialisasi, dan kepekaan terhadap lingkungan misalnya down syndrome, cretinisme/Standed, microcephali, macrocephali.

Ketiga disabilitas mental ialah gangguan  pada pikiran atau otak antara lain skizofrenia, afektif bipolar, demensia, retardasi mental.

Keempat disabilitas sensorik merupakan keterbatasan fungsi panca indra meliputi tuna netra, tuna daksa, tuna wicara, tuna rungu, tuna wicara, tuna rasa.

Setiap orang yang lahir di bumi membawa takdirnya sendiri-sendiri. Tak ada yang mau jika ditawari terlahir berbeda dengan kawan sebayanya, atau sering disebut anak istimewa. Mereka lahir sama seperti kita, namun sedikit berbeda karena ganngguan dan keterbatasan. Namun jangan sepelekan semangat untuk berkembang para penyandang disabilitas. Banyak yang sudah membuktikan bahwa anak-anak disabilitas juga bisa berkarya laiknya anak biasa.

Di balik keistimewaan yang dianugrahkan pada mereka dengan bimbingan dari keluarga, masyarakat dan lembaga yang terkait, para penyandang disabilitas bisa bersaing dengan orang-orang biasa, dalam bidang olympiade maupun pekerjaan lainnya. Bantuan dari pemerintah juga amat membantu mereka untuk diakui eksistensinya di masyarakat. Pemerintah mengadakan pelatihan supaya para penyandang disabilitas bisa mandiri dan bekerja laiknya orang biasa. Misalnya para penyandang tuna netra diberi pelatihan memijat dan diberikan sertifikat sehingga mereka bisa membuka praktik di rumah masing-masing.

Untuk disabilitas intlektual juga tidak luput dari campur tangan pemerintah di bawah naungan dinas sosial, salah satunya bertempatan di Temanggung yaitu BBRSPDI (Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual)  yang memberikan pelatihan ketrampilan secara gratis kepada siswa dikualifikasikan dengan minat dan bakat masing-masing. Sudah seyogyanya kita sebagai orang yang lebih beruntung lahir dengan normal tanpa ada gangguan tidak boleh memperlakukan mereka dengan semena-mena.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X