Pengiriman Biji Kopi dari Priangan ke Batavia

- Jumat, 26 Juni 2020 | 09:41 WIB
Batuan di dasar Ci Tarum yang  membahayakan bila dilayari
Batuan di dasar Ci Tarum yang membahayakan bila dilayari

AYOBANDUNG.COM -- Ci Tarum mengalir dari hulunya di Gunung Wayang (2.181 m dpl), Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengalir melewati Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Purwakarta, Cianjur, Karawang, dan Bekasi, bermuara di Muaragembong, Ujungkarawang, lalu ke Laut Jawa. Sungai ini panjangnya 300 km, dengan anak-anak sungai yang termasuk ke dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Ci Tarum, dengan luas keseluruhan Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu 6.614 km2.

Salah satu sumber mataairnya ada di Cisanti, sisi timur Gunung Wayang pada ketinggian +1.550 m dpl. Dari sana, Ci Tarum menurun deras melewati Majalaya sampai ketinggian +665 m dpl. Ruas Ci Tarum hulu ini tidak bisa dilayari dengan tongkang bermuatan hasil bumi, karena ronabumi sungainya yang curam, berbatu, dan di beberapa bagian sangat sempit, sehingga tidak memungkinkan untuk dilayari. 

Nama Ci Tarum diambil dari nama tumbuhan yang saat itu menjadi tumbuhan yang bernilai ekonomi. Tatar Sunda menjadi penghasil tarum yang utama, sehingga banyak nama geografi yang menggunakan nama tarum, atau yang berhubungan dengan pewarna nila. Sungai Ci Tarum pernah dijadikan pembatas wilayah dua kerajaan. Sebelah timur Ci Tarum masuk ke dalam wilayah Kerajaan Galuh, dan sebelah barat Ci Tarum masuk ke dalam wilayah Kerajaan Sunda.

Baca Juga: 2 Waktu Terbaik Minum Kopi agar Khasiatnya Optimal

Di tempuran Ci Kapundung dengan Ci Tarum, secara alami membentuk leuwi, lubuk, yang kemudian dinamai Leuwi Bandung. Lubuk yang besar dan dalam. Di sekitar inilah dijadikan dermaga sungai yang dapat disinggahi untuk menambatkan perahu atau rakit. Dari Leuwi Bandung ke hulu dapat dilayari sampai sejauh 10 km, dan ke hilir sejauh 20 km. Di kawasan inilah kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan kemasyarakatan, ekonomi, dan pemerintahan.

Lebih ke hilir dari Kampung Gajah, ruas Ci Tarum sepanjang 5 km tidak dapat dilayari, karena terdapat batuan terobosan dari gunungapi purba yang membentuk jeram dan air terjun, seperti Curug Jompong di daerah Nanjung. Pada awal abad ke-19, Curug Jompong ini sangat membahayakan, sehingga tidak dapat dilalui.

Lebih ke hilir, ada ruas Ci Tarum sepanjang 20 km yang tidak bisa dilayari, dengan medan yang lebih ekstrim lagi. Di kawasan ini ada bagian sungai yang lebarnya lebih dari 75 k, kemudian menyempit menjadi hanya 6 meter, seperti di Cikahuripan dan Cukangrahong, menyebabkan aliran sungai menjadi sangat cepat, yang diujung depannya terdapat air tejun yang jatuh di bongkah-bongkah batu sebesar mini bus. Ada juga air terjun yang tinggi, seperti Curug Haimun, sehingga tidak mungkin perahu dapat selamat melintasinya.

Baca Juga: Bandung Baheula: Tegallega Tempat Pacuan Kuda para Juragan

Sedikit ke hilir dari ruas ini, ada lagi ruas Ci Tarum yang sangat berbahaya untuk dilalui perahu atau tongkang pada masa itu, panjangnya 60 km melintasi kawasan yang sekarang berubah menjadi dua danau, yaitu Danau Cirata dan Danau Ir H Djuanda atau Danau Jatiluhur, mulai daerah Rajamandala sampai selepas bendungan Jatiluhur, di Purwakarta. Keadaan ronabumi Ci Tarum di Cekungan Bandung itulah yang menyebabkan hasil kopi dari Priangan/Bandung tidak bisa diangkut melalui jalur sungai.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB
X